Minggu, April 11, 2021

Wujud Sholat dalam Kitab Fihi Ma Fihi Jalaluddin Ar-Rumi

Melawan Kutukan Sumber Daya Alam!

Lihatlah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tengah merajut pembangunan di segala bidang lewat kekayaan sumber daya alam dan migasnya. Tentu, seiring dengan itu, Bojonegoro akan...

Komentar Fadli Zon Soal Bom Surabaya, Ngawur?

Ribuan caci-maki, hujatan, kecaman dan kekecewaan rakyat mengalir deras ke Fadli Zon yang mengeritik pemerintah soal kasus bom di Surabaya. Dalam akun twitternya Fadli...

Polemik Hukum OSO: Ketua Partai atau Anggota DPD

Menyoal polemik hukum yang terjadi dewasa ini terkait pencalonan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang berasal dari pengurus partai politik sontak menguras perhatian publik....

Kim Ji Young, Perempuan Pekerja dan dan Pahitnya Kenyataan

Di tengah kultur patriaki yang kuat di negeri ginseng, sebuah film dengan nuansa feminis muncul ke permukaan. Film bertajuk Kim Ji Young: Born 1982...
Muhammad Najib Murobbi
Alumni Universitas Islam Indonesia, Mahasiswa Ma'had Aly Krapyak Yogyakarta & Pascasarjana Universitas Indonesia

Berapa banyak kita melakukan sholat tapi selalu beriringan dengan jalannya maksiat. Sudah banyak kita mendengar para penceramah mengatakan “Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”.

Nyatanya pada waktu sholat tiba kita sholat dan pada waktu maksiat tiba kita pun bermaksiat. Hal-hal seperti ini sangat sering terjadi pada kita baik sengaja ataupun tidak disengaja.

Dalam sholat saja misal, apa sudah benar dan sesuai aturan sholat kita. Atau sudah beradabkah sholat kita. Tidak sedikit sholat kita yang hanya sekedar menutup aurat.

Mengutip pusi K.H A. Musthofa Bisri yang berjudul Selamat Tahun Baru Kawan, “Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu. Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda”. Padahal sholat merupakan ibadah yang seorang hamba berkomunikasi langsung dengan-Nya.

Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena shalat masih dipahami hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki konsekuensi apa-apa terhadap kehidupannya. Sepanjang kita masih berkutat pada pemahaman seperti ini maka shalat kita jelas tidak memiliki makna apa-apa, tidak bisa mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.

Dalam kitab Fihi Ma Fihi salah satu karya fenomenal penyair sufi Jalaluddin Ar-Rumi diceritakan salah seorang murid bertanya kepada gurunya: Apakah ada jalan yang lebih mendekatkan (diri) kepada Allah dari sholat?

Guru menjawab: Sholat (lagi). Sholat akan mendekatkan diri kita kepada Allah. Akan tetapi bukan sekedar engkau sholat sebagaimana bentuk gerakan orang-orang sholat. Sholat adalah perintah yang harus dilakukan dengan wujudnya sholat. Sebagaimana engkau lapar, rasa laparmu tidak akan hilang kecuali dengan makan. Sholat lebih dari sekedar engkau takbir, ruku’, dan sujud.

Ucapan takbir pernyataan atas keagungan Tuhan, adalah permulaan shalat dan ucapan salam adalah akhirnya. Begitupula ada sesuatu yang lebih dari sekedar ucapan iman yang diucapkan lidah, karena ucapan itu pun memiliki awal dan akhir.

Apapun yang dapat diucapkan, memiliki awal dan akhir adalah bentuk dan bungkus. Sedangkan jiwanya (sholat) tidak dibatasi oleh isyarat-isyarat fisik dan tidak terbatas, tanpa awal dan akhir.

Pada hakikatnya jiwa atau ruh sholat bukan hanya sekedar “bungkus” sholat, jauh dari itu ruh sholat merupakan saat engkau sholat pada-Nya engkau tenggelam bukan pada suatu tempat melainkan terbawa akan kenikmatan sholat yang tidak terbentang oleh ruang dan waktu.

Saat engkau sholat itu sama halnya dengan engkau menghadapkan wajahmu ke cahaya agung. Keagungan-Nya tidak terlintas namun tidak lepas dari pandanganmu. Nur-Nya tidak pernah sirna bahkan setiap makhluk yang melihatnya terpana dengan kelemahan dan ketundukan pada Tuhan-Nya.

فأي وضع لهذا الإنسان الضعيف وهو يري الأسود والنمور والتماسيح جميعا عاجزة ومرتجفة أمامه؟ والسماوات والأرضون كلها عاجزة ومسخرة لحكمه. إنه ملك عظيم. وليس نوره كنور القمر والشمس, الذى في حضرته يبقي الشيء في مكانه. عندما يستطيع نوره دون حجاب لاتبقى سماء ولاأرض, ولاشمس ولاقمر, لايبقى إلا ذلك الملك

Jika binatang-binatang seperti burung kecil, macan tutul, dan buaya saja tidak berdaya dan gemetar di depan-Nya, bagaimana dengan manusia yang lemah? Surga, bumi dan segala isinya tidak berdaya dan dikuasai hukum-Nya. Dia adalah raja Yang Maha Kuat. Cahaya-Nya tidaklah seperti cahaya matahari dan bulan, meskipun keberadaan benda itu tetaplah sebagaimana adanya. Cahaya-Nya bersinar tanpa disaring, surga atau pun bumi tak akan dapat bertahan, tidak pula matahari atau bulan, tidak seorang pun akan tersisa tanpa keberadan-Nya (Jalaluddin Ar-Rumi, Fihi Maa Fihi, terjemah dari Persia I’sa Ali Al-A’kub, Daar Al-Fikri, h. 43).

Wujud sholat dalam Jalaludiin Ar-Rumi merupakan bentuk keluh kesah manusia kepada-Nya. Merupakan bentuk manusia tidaklah mempunyai apa-apa. Dan bentuk pengabdian manusia kepada-Nya. Jika sudah timbul Nur-Nya saat kita menghadap-Nya (sholat).

Maka tiada kenikmatan yang paling nikmat selain ingin selalu bertemu dengan-Nya. Wallahu a’lam.

Muhammad Najib Murobbi
Alumni Universitas Islam Indonesia, Mahasiswa Ma'had Aly Krapyak Yogyakarta & Pascasarjana Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.