Kamis, Oktober 29, 2020

Winter Is Coming

Kekuasaan dan Rayuan Praktik Korupsi

Mungkin sudah seringkali kita mendengar bahwa korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya baru. Pasalnya, praktek korupsi tidak lagi di lakukan di kalangan politisi...

Akreditasi Perguruan Tinggi di Masa Pandemi

Akreditasi merupakan kegiatan penilaian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi sesuai Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun...

Paradigma Mayoritas dan Minoritas

Secara kasat mata, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Sementara umat beragama lain dianggap minoritas. Dalam berbagai ranah, termasuk pada hukum misalnya, mayoritas kerap...

Malang Diambang Magrib

Kokok ayam bersahutan mengantarkan ayam - ayam pejuang nafkah menaiki pohon ataupun masuk ke sangkar. Tampak beberapa ekor berhasil dilahap musang yang tak segan...
Yudha Prakasa
Mahasiswa dan aktif di komunitas filsafat serta komunitas Publika, political entrepreneurship, di kota Manado

Winter is coming adalah suatu istilah yang sering terdengar dalam serial televisi Game of Thrones besutan David Benioff dan D.B Weiss yang merupakan adaptasi dari seri novel A Song of Ice and Fire karya George Raymond Richard Martin.

Istilah itu memiliki potensi semantik sebagai peringatan akan datangnya musuh yang perlu diwaspadai—ingat bagaimana presiden Joko Widodo menggunakan istilah ini dalam pidatonya pada pertemuan tahunan IMF-WB sebagai analogi kondisi ekonomi global.

Secara garis besar GoT bercerita mengenai perebutan singgasana kekuasaan di Westeros sebagai penguasa paling tinggi semua wilayah kerajaan yang ada, disebut House. Singgasana tersebut dinamakan The Iron Throne yang terbuat dari ribuan pedang dan ditempa dengan api seekor naga.

Alih-alih damai dan makmur, berbagai House di Westeros saling bersekongkol demi memperebutkan takhta Iron Throne. Segala upaya dihalalkan demi singgasana tersebut. Sementara itu ada sebuah ancaman yang akan datang dari wilayah paling utara yang disebut Beyond the wall. Ancaman itu berupa musim salju berkepanjangan yang membawa pasukan mati atau disebut Wights. Wights diperintah oleh White Walker dan Night King.

Istilah Winter is Coming dipergunakan oleh House Stark yang merupakan pemimpin di wilayah bagian utara, disebut Warden of the North, sebagai slogan peringatan akan datangnya musuh yang sangat berbahaya saat musim salju berkepanjangan.

Jika mencermati lebih jauh ternyata interpretasi slogan Winter is Coming tidak hanya sebatas intrinsik pada dirinya namun sekaligus juga berlaku pada konteks situasi suatu bangsa, katakanlah Indonesia. Lalu apa yang membuat, istilah Winter is Coming, tersebut berlaku di Indonesia? Musuh seperti apa yang, sadar maupun tidak, terus memantau dan kapan saja bisa menyerang? Sebarapa bahayakah musuh tersebut hingga mengakibatkan ketidakstabilan suatu bangsa?

Ingatkah suatu fenomena politik turunnya mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, atau rencana pendeklarasian ‘Masyumi Reborn’, juga maraknya gerakan lembaga atau organisasi politik mengatasnamakan agama, sebagai contoh fenomena HTI, dan lain-lain.

Berbagai fenomena tersebut kelihatannya terpisah satu dengan yang lainnya, namun sebenarnya kita bisa melihat secara linier satu garis lurus yang menghubungkan satu sama lain hingga berakhir pada satu titik akhir yang sama, sebagai dasar ontologis dan asumsi ideologis. Asumsi apakah itu?

Semua itu berangkat dari apa yang disebut sebagai asumsi ideologis “Islamisme”—penegakkan syariat islam, islam sebagai solusi, mendirikan negara islam, takfiri hingga tabid’, serta sikap eksklusif. Lalu apa yang berbahaya dari seperangkat ideologis tersebut?

Asumsi ideologis itu masuk kedalam kehidupan masyarakat sebagai “self-evident” hingga membuat ideologi tersebut dapat diterima karena dianggap alamiah, karena ketidaktahuan masyarakat, dan merasa senasib sepenanggungan (Identity). Islamisme sendiri adalah sebagai bentuk penafsiran panjang dengan ciri kompleksitasnya akan ­teo-ideologi politik islam. Apa yang seharusnya berada di dalam ruang privat kini berkelana jauh ke ruang publik.

Ketika “persoalanmu” yang bersifat privat itu diubah secara ideologis menjadi “persoalan kita” yang bersifat publik, asumsi itu tidak lagi tulus dan sederhana. (Amato Assagaf, 2019)

Maka diharuskan adanya pemisahan secara total antara yang provan dan yang sakral dalam kehidupan di tengah-tengah ruang publik suatu bangsa, atau semacam model sekulerisasi Caknurian dan yang paling ekstrim sekulerisme.

Dalam bukunya, il Principe, Machiavelli berpendapat bahwa persoalan kekuasaan yang diutamakan bukannya legitamasi moral, tetapi bagaimana kekuasaan yang tidak stabil menjadi stabil dan lestari. Artinya bahwa realitas politk yang memiliki kekuatan yang nyata dengan tidak memanfaatkan lembaga-lembaga agama untuk membangun “Public Opinion” bahwa penguasa adalah pendukung moralitas. Akibatnya rakyat hanya membutuhkan ilusi-ilusi yang kuat dan sangat mudah diyakinkan.

Machiavelli melanjutkan, moralitas, urusan privat, merupakan suatu kemungkinan yang diharapkan, sedangkan pengaturan ketatanegaraan, urusan publik, adalah suatu kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya harus dipisahkan.

Kini narasi ideologis islamisme telah diangkat di atas permukaan dan menjelma menjadi sesosok Wights, dalam serial GoT. Jika dibiarkan terus menerus, kelembagaan agama atau sejenisnya mampu memonopoli kehidupan publik yang justru harus terlepas dari hal-hal yang sifatnya privat.

Semacam politik identitas yang beriringan dengan narasi kebencian dan emosional dengan hasrat ingin mendominasi. Winter is Coming adalah peringatan yang tepat untuk melihat musuh tak terlihat yang bersembunyi di balik permukaan dengan separangkat ideologisnya.

Apakah dengan peringatan Winter is Coming saja cukup? Saat melawan musuh tentu kita harus memiliki persenjataan yang lengkap, tidak dengan tangan kosong saja. Namun persenjataan seperti apakah itu?

Ingat bagaimana Renaissance terjadi di Eropa, salah satunya adalah pertumbuhan kapitalisme awal turut membantu kebudayaan Renaissance itu sendiri. Tidak hanya sebatas itu, Renaissance adalah suatu upaya dan usaha-usaha dalam menggali kembali akar-akar suatu kebudayaan Barat dalam rangka menemukan identitas diri.

Jadi semangat Renaissance juga mendorong masyarakat Eropa masa itu memiliki pandangan terhadap segala sesuatu lebih maju dan lebih jauh ke depan. Artinya mereka mencari akar-akar budaya supaya lebih mengenal identitas dirinya sekaligus juga bisa menata kehidupan sendiri lebih maju dan efektif.

Dalam rangka melawan ideologi politik islamisme di Indonesia, maka senjata yang harus dipergunakan adalah separangkat kritisisme dan sebentuk konsepsi Renaissance untuk kembali pada identitas diri sebagai Nusantara.

Yudha Prakasa
Mahasiswa dan aktif di komunitas filsafat serta komunitas Publika, political entrepreneurship, di kota Manado
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.