Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

WHO, Keraguan Global, Potensi Proteksionisme

Kemelut Corona dan Hikmah Perjalanan Nabi Muhammad

Isra’ Mi’raj yang diperingati setiap 27 Rajab baru saja terlewati. Tahun ini, Isra’ Mi’raj bertepatan pada hari Minggu, 22 Maret 2020. Apa hikmah Isra’...

Budaya Melek Literasi dalam Keluarga

Literasi selalu menjadi isu yang seolah tidak ada habisnya didiskusikan. Hal ini mengingat fakta yang dipaparkan oleh UNESCO, bahwa budaya literasi di Indonesia yang...

Pasal 285 Saja Tidak Cukup

Menurut Catatan Tahunan (Catatan Tahunan) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), angka kekerasan terhadap perempuan sejak 2010 terus meningkat dari tahun ke...

Memahami Esensi Manusia yang Berpikir

Hidup memang indah, penuh dengan pesona dan alegori cinta yang meneduhkan pikiran dan menyejukkan hati. Sebuah anugerah yang tidak dapat dipungkiri menjadikan kehidupan menjadi...
Yohanes Ivan Adi Kristianto
Dosen Hubungan Internasional | UPN Veteran Jawa Timur | Organisasi Internasional | Migrasi Global | Studi Eropa | Linkedin: https://www.linkedin.com/in/ivankristianto93/

Setelah berulangkali melempar kritik kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memutuskan hubungan kerjasama AS-WHO pada akhir Mei. Dimulai dari Maret, Trump berpendapat bahwa WHO telah gagal total memutus rantai penyebaran Covid-19, hingga memunculkan anggapan bahwa WHO terlalu condong mendukung Cina.

Seterusnya, Trump menuduh adanya intransparansi yang terjadi di organisasi tersebut. Hingga, AS menyatakan tidak akan menyalurkan dana bantuan sementara waktu kepada WHO sebagai wujud penghentian kerjasama secara temporer. Sedangkan, Trump menambahkan adanya ancaman  dari AS untuk keluar dari keanggotaan WHO secara permanen.

Apa yang sebenarnya terjadi antara WHO dan negara anggotanya? Mengapa WHO bisa memperoleh stigma tersebut?

Tendensi WHO

Kredibilitas organisasi dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu diragukan sejak WHO gagal menghentikan penyebaran Covid-19 dari episentrum wabah pertama yakni Wuhan, Cina. Justru, WHO sangat mengapresiasi langkah Cina yang diklaim menerapkan protokol kesehatan ketat untuk mengendalikan laju kasus positif Covid-19.

Sementara, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, mengesampingkan fakta cepatnya penyebaran virus tersebut ke sesama daerah di Cina serta di luar Cina. Ditambah, pemimpin tertinggi WHO itu melupakan sikap pemerintah Cina yang sempat anti-sains dengan menangkap saintis Cina yang menguak potensi bahaya Covid-19 pada Desember 2019.

WHO juga dikritik lantaran lambat menetapkan Covid-19 sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia  atau Public Health Emergencies of International Concern  (PHEIC). Diusut lebih lanjut, keterlambatan ini disebabkan WHO yang mempercayai bahwa Covid-19 merupakan “masalah Cina”, sehingga status gawat darurat global tidak diperlukan. Padahal, status darurat global sangat diperlukan negara anggota WHO untuk menentukan langkah preventif, terutama penetapan peraturan pencegahan dan penanganan Covid-19.

Pandangan skeptis terkait kecenderungan WHO mendukung Cina bukan tanpa alasan. Pertama, kontribusi Cina meningkat signifikan, yakni 52%, terhitung sejak 2014. Diperkirakan, Cina telah mengalokasikan sebesar sekitar 86 juta dolar AS kepada WHO.

Kedua, pencalonan Tedros sebagai Dirjen WHO mengundang kecurigaan terkait keterlibatan Cina. Pada pemilihan 2017, sebulan sebelum dilaksanakan, Tedros diundang untuk berceramah tentang isu kesehatan global di Universitas Peking. Dua puluh empat jam setelah pemilihan usai, Tedros secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kebijakan One China, sebuah regulasi yang menyatakan bahwa dunia hanya mengakui satu Cina, yakni Cina daratan. Kebijakan ini menghalangi Taiwan serta Hongkong untuk lebih diakui oleh masyarakat internasional. (Collins, 2020)

Ketiga,  tidak dilibatkannya Taiwan pada penanganan pandemi Covid-19 berkontribusi terhadap peningkatan kecurigaan publik kepada WHO. Akhir 2019, Taiwan sudah mengingatkan WHO untuk lebih gesit dalam penanganan Covid-19. Sayangnya, pernyataan Taiwan tidak pernah ditanggapi semestinya.

Tanpa mengikuti arahan WHO dan Cina, Taiwan menerapkan langkah-langkah berbeda yang relatif lebih cepat yaitu mengadakan screening dan testing masif, karantina ketat, serta program pelacakan jejak Covid-19. Beda pula dengan WHO saat itu, Taiwan menyatakan adanya kemungkinan penularan Covid-19 antar manusia. Meski, WHO kala itu membantah keterangan Taiwan. (Chen & Cohen, 2020)

Langkah-langkah WHO secara tak langsung mengancam legitimasi PBB serta organisasi-organisasi internasional lainnya. Mengapa demikian?

Proteksionisme

Turunnya rasa percaya negara anggota maupun masyarakat global memicu gelombang proteksionisme yang memang sejak Covid-19 mewabah muncul kembali. Terminologi proteksionisme pada tataran global diartikan sebagai usaha negara untuk mengurangi pengaruh globalisasi dengan cara menutup diri dari dunia luar. Menurunnya kepercayaan ini memungkinkan kegagalan WHO sebagai organisasi internasional untuk mewadahi kepentingan banyak negara anggota.

Pernyataan Uni Eropa (UE) berkaitan dengan keputusan AS untuk menghentikan aliran dana ke WHO membuktikan ancaman menurunnya legitimasi masyarakat internasional terhadap organisasi global. Presiden Komisi Eropa UE, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa AS sebaiknya mempertimbangkan kembali langkahnya karena solidaritas global sangat diperlukan pada waktu seperti ini.

Pernyataan Leyen tersebut dapat dipahami sebagai tanda seriusnya isu ini. UE perlu mencegah sentimen nasionalisme yang dipicu tren proteksionisme untuk menghindari tekanan pelonggaran aturan UE atau, lebih parahnya, pembubaran UE sebagai wujud efek domino. Sebelumnya, UE pernah dikritik oleh kelompok skeptis karena kebimbangan UE dalam menangani Covid-19.

Tidak hanya UE, organisasi internasional lainnya seperti Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) juga menerima kritik karena kurangnya eksistensi kepemimpinan organisasi internasional  dalam menghimpun solidaritas negara anggotanya. Ditambah, prinsip fundamental ASEAN yaitu prinsip non-interferensi berulangkali dihujani kritik sebab menghambat integrasi politik dan ekonomi ASEAN. Dengan kata lain, kegagalan mengendalikan sentimen anti-organisasi internasional bisa saja berujung pada runtuhnya organisasi internasional.

Isu anti-organisasi internasional atau anti-globalisasi perlu diwaspadai oleh aktor non-negara, khususnya organisasi internasional, mengingat proteksionisme yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 diawali bukan dari isu anti-organisasi internasional.

Sebelumnya, proteksionisme telah berkembang semenjak gelombang imigran dari Timur Tengah dan Meksiko menuju masing-masing Eropa dan Amerika Serikat. Terpilihnya pemimpin-pemimpin aliran konservatif tahun 2016-2018 menegaskan penguatan sentimen nasionalisme yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan proteksionisme.

Kemunculan wabah Covid-19 menguatkan sentimen tersebut yang diwujudkan dalam proteksionisme bidang perdagangan global. Negara-negara produsen bahan pokok dan alat medis berbondong-bondong melarang penjualan komoditas itu karena khawatir persediaan habis. Singkatnya, isu anti-organisasi internasional bisa saja meledak di masa mendatang sebab proteksionisme telah dimulai sejak masa lalu.

Agar kepercayaan negara anggota serta masyarakat internasional kepada WHO kembali dan mencegah tekanan terhadap organisasi internasional lainnya muncul, WHO perlu mengakomodasi suara atau masukan dari semua negara anggota. Keberhasilan ilmuwan menciptakan vaksin Covid-19 diperkirakan menjadi ujian pertaruhan WHO selanjutnya untuk mempertahankan legitimasinya.

Yohanes Ivan Adi Kristianto
Dosen Hubungan Internasional | UPN Veteran Jawa Timur | Organisasi Internasional | Migrasi Global | Studi Eropa | Linkedin: https://www.linkedin.com/in/ivankristianto93/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.