Minggu, Januari 24, 2021

Waspadai Dampak Penggunaan Smartphone

Pemilu yang Beradab

Tahapan Pemilu 2019 sudah dimulai. Pemilu hendaknya mengikuti peraturan perundangan yang telah ada sehingga mampu mengurangi kegaduhan yang dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Kita ingin...

Aktivis atau Ratu Dramaturgi?

Indonesia merupakan Negara yang dipenuhi oleh beberapa aktivis yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Negara yang menganut sistem politik demokrasi, kehadiran seorang aktivis tentunya...

Isu Komunis Berhembus di Tengah Perjuangan Warga

Isu komunisme sering digunakan berbagai persoalan, baik itu politik praktis maupun konflik agraria hingga perburuhan. Isu tersebut bagai hantu yang menakut-nakuti mayoritas masyarakat. Terkadang...

Merebut Spirit Perdamaian dari Istilah Hijrah

Perkembangan dunia digital dan teknologi`bersamaan dengan tingkat kecepatan popularitas atau trending sebuah pembahasan. Topik tertentu akan dengan mudah dan cepat menjadi pokok pembicaraan warga...
asyrafi
Mahasiswi

Teknologi dan informasi berkembang pesat di masa kini. Berbagai kemudahan ditawarkan, mulai dari cara akses sampai fasilitas. Kemudahan ini pun dilihat sebagai jalan terang. Smartphone adalah salah satu inovasi teknologi yang ditawarkan.

Smartphone disambut antusias oleh masyarakat, khususnya kaum urban. Berdasarkan statistik dari Databoks katadata.co.id, pengguna smartphone di Indonesia pada rentang waktu 2016-2019 mencapai 92 juta unit.

Kehadiran smartphone turut diikuti oleh munculnya bermacam-macam aplikasi. Beberapa aplikasi ditawarkan untuk mendukung kehidupan kaum urban seperti Money Manager untuk mencatat dan mengatur keuangan, Inspigo untuk mendengarkan Podcast pengembangan diri, hingga Ruangguru sebagai platform bimbingan belajar online yang sedang populer.

Selain itu ada juga aplikasi lain untuk menunjang gaya hidup kaum urban. Sebut saja aplikasi permainan seperti PUBG dan Candy Crush, aplikasi pemesanan transportasi GOJEK dan Grab, hingga dating application Tinder. Sebuah paket lengkap dalam satu genggaman, bukan?

Kemudahan akses dan varian aplikasi yang beragam tersebut tidak jarang membuat pengguna kaum urban terlena. Memang, perpaduan keduanya mampu membentuk suatu kebiasaan hingga adiksi. Hal ini mengakibatkan pengguna menghabiskan sebagian waktunya untuk mengakses smartphone. 

Menurut Karthik Venkatakrishnan, Regional Director Digital GFK Asia, rata-rata perempuan Indonesia mengakses smartphone 5,6 jam per hari sementara laki-laki menghabiskan waktu 5,4 jam. Jumlah ini melebihi batas durasi yang diterbitkan oleh penelitian dari University of Oxford, yaitu 257 menit atau 4 jam 17 menit. Apabila melebihi itu maka kesejahteraan pengguna akan terganggu.

Hal itu memang sudah terbukti. Penggunaan smartphone yang berlebihan membawa beberapa dampak negatif. Sebut saja mengganggu interaksi sosial di dunia nyata. Itu sudah biasa disebutkan, dari penelitian hingga artikel yang dimuat di media.

Kesehatan mata juga tidak bisa lepas dari dampak ini. Cahaya biru (blue light) bisa menyebabkan beberapa gangguan, yaitu miopi (rabun jauh), astenopia (mata lelah), dan dry eyes (mata kering). Kemudian ketidakseimbangan melatonin yang disebabkan blue light yang dikeluarkan smartphone ikut memengaruhi kualitas tidur hingga bisa menyebabkan obesitas. Dampak secara fisik tersebut sudah menjadi sesuatu yang selalu didengungkan, agar masyarakat sadar dan peduli.

Sebagian besar masyarakat hanya menyadari dampak-dampak itu.  Belum banyak pengguna yang menyadari dampak lain dari penggunaan smartphone. Tidak hanya itu, dampak ini lebih besar dan cenderung mengkhawatirkan: gangguan kognitif. Penggunaan smartphone yang berlebihan mampu mengganggu fungsi otak, diantaranya menurunkan daya ingat dan melemahkan penalaran induktif.

Secara tidak langsung kemudahan yang ditawarkan smartphone membuat penggunanya jadi menggantungkan diri pada perangkat tersebut. Ada informasi, tulis di smartphone. Menerima pesan titipan, ketik di smartphone. Ada apa-apa larinya ke smartphone karena cepat, praktis, dan efisien dari segi praktek.

Padahal kecenderungan ini mampu memicu turunnya daya ingat penggunanya. Hal ini tentu mengganggu kerja otak. Seharusnya otak bisa bekerja maksimal namun tidak bisa dilakukan karena ketergantungan dengan smartphone.

Penalaran induktif adalah proses berpikir dari hasil pengamatan di lingkungan sekitar yang kemudian diproses secara internal sehingga menghasilkan kesimpulan. Penalaran induktif membuat manusia berpikir analitis dan terstruktur.

Kemampuan ini sangat membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi sehari-hari. Kehadiran smartphone mengusik itu. Dr. Gordon Pennycook, Ph.D, seorang Psikolog Kognitif Universitas Waterloo, mengungkapkan ketergantungan internet mengencerkan mental dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan secara logis.

Kedua dampak kognitif yang disebabkan penggunaan smartphone bukanlah sesuatu yang remeh. Memang, dalam prakteknya tidak serta merta langsung dirasakan namun perlahan efeknya akan terasa. Kerja otak menjadi abstrak serta tidak terstruktur dan mudah lupa. Gangguan-gangguan ini bisa memengaruhi perkembangan diri dan produktivitas individu. Padahal dinamika yang terjadi di lingkungan perkotaan sangat cepat. Masyarakat urban perlu mengimbangi itu supaya tidak tertinggal.

Membatasi penggunaan smartphone menjadi penting untuk dilakukan. Pengguna perlu menerapkan waktu durasi. Memasang alarm bisa efektif membantu dalam merealisasikan upaya tersebut. Cara lainnya yaitu membuka smartphone seperlunya, sebatas membalas pesan, mengakses search engine, dan membuka hiburan seperlunya. Mencari alternatif hiburan secara offline bisa menjadi salah satu solusi.

Lantas bagaimana dengan kelompok masyarakat urban yang pekerjaannya justru menuntut mereka mengakses smartphone dalam jangka waktu panjang dalam satu hari? Ketika pekerjaan menuntut itu, pengguna bisa melakukan jeda setiap 20 menit untuk istirahat selama dua puluh detik untuk mengatasi gangguan pada mata.

Penanggulangan resiko pada kognitif bisa dilakukan dengan sejumlah usaha untuk menjaga serta meningkatkan daya ingat dan penalaran induktif. Upaya-upaya tersebut diantaranya mulai membiasakan diri mencatat dan mengingat hal-hal kecil yang ada.

Ketika menulis, otak ikut bekerja dalam proses berpikir, dan dinilai lebih efektif meninggalkan memori di dalamnya. Kemudian membaca e-book dan mendengarkan podcast yang membantu mengasah kemampuan otak dalam berpikir analitis.

Saat ini sudah tersedia penyedia layanan seperti Google Playbook untuk mengoleksi dan membaca e-book. Platform yang menyediakan podcast kini juga gampang ditemukan. Ada Spotify dan Inspigo yang bisa diakses dengan mudah dan gratis. Selain itu, menonton video edukatif bisa menjadi alternatif lain untuk mengasah kemampuan kognitif.

Sesungguhnya jalan keluar selalu ada dan terbuka lebar. Hanya niat dan kemauan pengguna saja yang menentukan keberhasilan usaha.

asyrafi
Mahasiswi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.