OUR NETWORK

Warisan Pemikiran Berharga dari Buya Syafii

Buya Syafii hadir di tengah-tengah kita sebagai guru bangsa yang terbuka.

Maarif institute berhasil menghimpun perwakilan kawula muda seluruh Indonesia dalam rangka membumikan pemikiran Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dikenal dengan Buya Syafii. Melalui kegiatan short course yang dilakukan  kurang lebih seminggu lamanya, telah dipilih sebanyak 25 orang anak muda untuk mengikuti beragam rangkaian acara yang telah siapkan oleh tim Maarif Institute.

Di tengah-tengah sebagian kaum milenial yang lebih memilih apatis dalam menghadapi persoalan bernegara, peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa disingkat dengan SKK ASM, memilih untuk memperjuangkan umat melalui belajar dari pemikiran salah seorang intelektual muslim kenamaan, siapa lagi kalau bukan Ahmad Syafii Maarif. Ini merupakan suatu proses kaderisasi intelektual yang luar biasa, di mana pemikiran kemanusiaan Buya Syafii diharapkan mampu untuk menjawab lika-liku persoalan akan kebhinekaan dalam bernegara.

Pemikiran akan timbulnya gesekan-gesekan yang dapat terjadi karena perbedaan agama, suku, ras dan lain sebagainya, telah dipikirkan jauh-jauh hari oleh Buya Syafii. Tidak bisa dipungkiri, perbedaan-perbedaan itulah yang kemudian dapat menimbulkan terjadinya keretakan antar sesama.

Berdasarkan info Sindonews.com, selama 12 tahun terakhir telah terungkap 2.400 kasus pelanggaran kebebasan beragama yang menyebar di  seluruh Indonesia. Ini menunjukkan bahwa, masyarakat kita masih belum terbiasa dengan hal yang berbeda. Kesadaran akan menerima bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh hak yang sama belum ada.

Nilai-nilai filosofis yang ada dalam pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, belum terealisasi secara sempurna. Terutama Sila ke-V, ”keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” seakan mimpi yang tidak akan menjadi nyata.

Satu hal yang harus kita sadari bersama bahwa, pancasila tidak hadir begitu saja. Ada perenungan dan dialog yang panjang oleh sederet pendiri bangsa. Ini menandakan bahwa, pancasila dibuat dari hasil pemikiran besar dan telah mapan dijadikan sebagai ideoogi dan dasar negara. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila tersebut seharusnya mampu menyejukkan dan mendamaikan kita semua sebagai masyarakat yang majemuk dan kompleks dalam beretnis dan beragama.

Tetapi apalah daya, sentimen-sentimen terhadap keagamaan tertentu masih terus terjadi. Umat muslim dicerca oleh isu tak sedap yang menyudutkan ajaran serta penganut agama Islam di tanah air. Yakni, aksi terorisme yang disinyalir pelakunya adalah umat muslim. Betapa tidak, beberapa bulan belakangan  pelaku bom bunuh diri di gereja Surabaya merupakan satu keluarga mengaku Islam dengan kedok perempuan bercadar.

Mendadak semua masyarakat heboh, aksi teror yang tengah dilakukan oleh para terorisme tersebut telah berhasil membuat masyarakat takut dan berpandangan miring terhadap umat Islam.

Sepertinya, aksi terorisme bukan lagi dilakukan secara diam dan sembunyi layaknya hantu manusia ditengah keramaian, tetapi telah menampakkan dirinya secara “telanjang” bulat mengancam keIndonesiaan kita. Ancaman terorisme dengan ideologi tidak takut mati dengan dalih Jihad Fisabilillah yang mereka percayai tidak boleh lagi dianggap sepele dan dipandang sebelah mata khususnya bagi aparat yang berwenang.

Begitu banyak kerugian yang tengah dialami oleh negara saat ini. Bukan hanya merusak fasilitas umum dengan menghancurkan rumah-rumah ibadah, tetapi puluhan nyawa tak berdosa ikut menjadi korban ledakan aksi terorisme. Keluarga yang ditinggalkan seakan-akan tak rela melihat sanak saudaranya meninggal dalam keadaan yang demikian.

Oleh karena itu, aksi teror ini menghadirkan rasa resah dan ketakutan publik. Perasaan tidak aman akan selalu menghantui bahkan meninggalkan trauma mendalam bagi korban teror yang telah mengalami kejadian tersebut. Lebih dari pada itu, mereka mencoba mengoyak dan membuat retak bangunan persaudaraan, persatuan dan kesatuan elemen bangsa, dengan memperalat dan menyudutkan satu agama, yakni Islam.

Ajaran jihad yang terdapat dalam ajaran Islam,  menurut versi yang dituduhkan, telah menjadi suatu isu murahan yang berkembang ditengah kehidupan bermasyarakat. Sehingga, penganut agama dengan keyakinan berbeda dari Islam berpandangan bahwa, adalah tindakan amoral sekaligus menjadi akar kekerasan yang terjadi dimasyarakat seperti beberapa peristiwa pengeboman yang kian marak terjadi ditanah air.

Untuk itulah Buya Syafii hadir di tengah-tengah kita sebagai guru bangsa yang terbuka. Beliau mencoba untuk merangkul semua, tanpa melihat golongan pangkat dan jabatan. Termasuk wong cilik yang tidak luput dari perhatian Buya Syafii. Humanisnya Buya Syafii dalam berfikir dan bertindak, menjadikan beliau digandrungi oleh tokoh-tokoh besar republik ini. Baik itu politisi maupun akademisi.

Semuanya mengamini, bahwa pemikiran beliau dalam hal memanusiakan manusia supaya memperoleh hak yang sama adalah warisan pemikiran yang berharga untuk diikuti. Pemikiran besar seperti inilah yang mesti dikembangkan, dipelihara dan kemudian ditularkan pada makhluk sosial lainnya.

Harapannya, anak-anak ideologis Buya Syafii mestinya lahir dari peserta SKK ini. Tugas mereka selanjutnya adalah membumikan pesan-pesan keislaman, kemanusiaan dan kebangsaan Ahmad Syafii Maarif dalam konteks pemikiran Islam kontemporer. Sesuai dengan tema besar yang diangkat pada SKK periode ke 3 ini.

Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) Periode 3, Peneliti dan Penggiat Sejarah Kontemporer

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…