Sabtu, Maret 6, 2021

Warisan Intelektual Prof. Yunahar Ilyas

Orang Banten, Jangan Lupa Bahagia!

Beberapa waktu yang lalu, media-media di Banten menurunkan berita yang menyatakan bahwa masyarakat Banten kurang bahagia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun pada...

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Manusiawi ?

NKRI Bersyariah dielukan beberapa kali oleh Imam Besar FPI, Habib Rizeq. Gagasan NKRI Bersyariah itu hanya seperti slogan tanpa makna. Ketika dikupas isinya hanya...

Ahok Belum Selesai!

 "Tak ada manusia yang bisa masuk dua kali di sungai yang sama" Herakleitos Jika mengacu persidangan normatif, persoalan kasus Basuki Tjahaja Purnama sudah sah bersalah atas...

Hukum dan Kuasa Politik dalam Kacamata Hukum Kritis

Pansus hak angket DPR RI bertemu dengan napi-napi kasus korupsi di Lapas Suka Miskin guna mengutip keterangan tentang pelaksanaan pemeriksaan kasus-kasus korupsi yang dilaksanakan...
MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Prof. Yunahar Ilyas adalah putra Minang kelahiran Bukittinggi pada 22 September 1956 dari pasangan H. Ilyas dan Hj. Syamsidar. Sosoknya dikenal luas sebagai ulama yang cukup disegani di dunia persilatan keilmuan Islam di Indonesia.

Keilmuannya yang luas dan juga mendalam telah menjadikan dirinya salah satu rujukan penting umat Islam Indonesia. Selama ini Prof. Ilyas juga dikenal sebagai pribadi yang egaliter dan sederhana dalam bergaul dengan para kolega maupun junior-juniornya.

Tokoh yang menjadi Ketua PP Muhammadiyah ini mengawali pendidikannya pada Sekolah Dasar Negeri Taluk I, Bukittinggi (1968), kemudian menyelesaikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 tahun, di Bukittinggi (1972) dan juga PGAN 6 tahun, di Padang (1974).

Ia mengawali karir pendidikan tinggi sebagai Sarjana Muda (Bachelor of Arts) di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, Padang tahun 1978. Spiritnya untuk terus belajar telah menghantarkan dirinya mendapatkan gelar Lc (Lisence) dari Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Sa’ud, Riyadh, Saudi Arabia (1983).

Sepulangnya kembali ke tanah air, Prof. Ilyas merampungkan Sarjana Lengkap (Doktorandus) di almamaternya, IAIN Imam Bonjol, Padang (1984). Berbekal keilmuannya kemudian Prof. Ilyas hijrah ke Yogyakarta untuk menyabet gelar Magister di Bidang Agama Islam di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan Tesis “Isu-isu Feminisme dalam Tinjauan Tafsir al-Qur’an, Studi Kritis terhadap Pemikiran Para Mufasir dan Feminis Muslim tentang Perempuan” (1996).

Berbekal tekad dan spirit yang kuat untuk mengembangkan khazanah pemikiran Islam, Prof. Ilyas kemudian memutuskan diri untuk mengambil program doktor di kampus yang sama. Sejak tercatat sebagai mahasiswa doktor pada 1996, Prof. Ilyas bertekad untuk segera merampungkan studinya secepat mungkin.

Ia merasa termotivasi oleh Prof. Nourouzzaman Shiddiqi selaku Direktur Pascasarjana ketika itu yang selalu memberikan dukungan untuk menyelesaikan studi doktor selama 4 tahun. Namun sayangnya, Prof. Ilyas belum bisa memenuhi harapan tersebut, bahkan garapan disertasi yang awalnya akan diselesaikan selama 2 tahun menjadi molor hingga 4 tahun lamanya.

Akhirnya, dengan tetap memegang spirit keilmuan yang kuat, Prof. Ilyas pada tahun 2004 berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Gender dalam Pemikiran Mufassir Indonesia Modern (Hamka dan Hasbi ash-Shiddiqqy)” di depan dewan penguji yang diketuai oleh Prof. Amin Abdullah dengan anggota penguji Prof. Nashruddin Baidan, Dr. Irwan Abdullah, dan Dr. Syamsul Anwar.

Keberhasilannya ini tentu tidak terlepas dari kedua promotornya, Prof. Said Agil Husain al-Munawwar dan Dr. Alef Theria Wasim yang berperan penting dalam proses diskusi akademik dan pengembangan metodologis selama penelitian dan penulisan disertasi tersebut.

Sebagai keseriusannya berkiprah di dunia akademik, pada tanggal 18 November 2008 Prof. Ilyas akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Ulumul Qur’an, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Beberapa karyanya yang bisa dinikmati hingga hari ini seperti; Kuliah Aqidah Islam (1992), Feminisme dalam kajian Tafsir Klasik dan Kontemporer (1997), Kuliah Akhlaq (1999), Akhlaq Masyarakat Islam (2002), Tafsir Tematis Cakrawala al-Qur’an (2003), Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir (2005), Kisah Para Rasul (serial di Suara Muhammadiyah, 2006) Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an, Studi Pemikiran Para Mufasir (2006), Tipologi Manusia dalam al-Qur’an (2007), Kuliah Ulumul Qur’an (2013), dan Dialektika Pemikiran Islam; dari Klasik hingga Modern (2014).

Mencermati berbagai gagasan pemikiran yang dituangkan di berbagai karyanya, setidaknya terdapat tiga arus besar pemikiran Prof. Yunahar Ilyas.

Pertama,kajian khazanah pemikiran Islam. Salah satu warisan penting dari pemikiran Prof. Ilyas adalah kepeduliannya terhadap pembangunan akhlak umat Islam. Baginya, akhlak menjadi kunci kehidupan Muslim yang akan menentukan eksistensi kehidupan di masa depan.

Tanpa adanya akhlak yang Islami dan penuh dengan pribadi yang makruf, umat Islam akan terseret oleh derasnya arus globalisasi. Bahkan bagi Prof. Ilyas, spirit keislaman yang diwujudkan dalam bentuk akidah Islam akan menjadi hal yang sia-sia manakala seorang Muslim gagal mengekspresikan akhlaknya yang baik.

Kedua,diskursus feminisme dan gender dalam Islam. Bidang ini telah cukup serius digarap oleh Prof. Ilyas yang dibuktikan dengan penulisan tesis dan disertasi yang mengangkat tema feminisme Islam. Menurutnya, pemikiran feminisme dalam Islam menjadi salah satu bangunan pemikiran yang sangat penting dalam kerangka memajukan peradaban Islam.

Upaya diskriminatif dan pandangan misoginis yang diproduksi melalui teks-teks keagamaan sudah saatnya dibongkar dan direkonstruksi dengan pemahaman yang lebih sensitif gender. Upaya ini dimaksudkan sebagai bentuk rejuvenation spirit Islam terhadap agenda pemuliaan martabat perempuan yang telah disuarakan oleh Islam sejak abad ketujuh masehi.

Ketiga, pengembangan metodologi penafsiran al-Qur’an. Prof. Ilyas sepenuhnya menyadari peran penting penafsiran al-Qur’an dalam setiap petala kehidupan umat Muslim. Menurutnya, tafsir atau pemahaman menjadi satu-satunya titik berangkat umat Islam dalam mengekspresikan keberislamannya dan juga menentukan wajah Islam di dunia realitas sosio-kultur.

Sehingga, upaya pengembangan metodologi penafsiran al-Qur’an yang sesuai dengan konteks perkembangan zaman adalah sesuatu yang niscaya. Dalam menggagas bidang ini, Prof. Ilyas sangat terbuka akan tradisi-tradisi keilmuan Barat seperti kajian hermeneutika dan ilmu-ilmu sosial dalam proyek penafsiran al-Qur’an.

Akhirnya, kita bisa memahami bahwa Prof. Ilyas adalah sosok yang gigih dalam mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Ia tidak hanya larut dalam keilmuan klasik (turats) Islam tetapi juga terbuka akan agenda reformasi dan integrasi keilmuan modern. Hari ini kita bisa menikmati berbagai sumbangan ide dan gagasan kontributif bagi upaya-upaya pengembangan diskursus Islamic Studies di Indonesia.

MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.