OUR NETWORK

Wajah Elite yang Tak Punya Nurani Kemanusiaan

Meski data itu tidak mencapai kebenaran selalu ada perubahan

Melihat kondisi yang begitu carut marut pergolakan perbedaan pandangan dan perdebatan yang tidak lagi diselesaikan dipodium atau panggung media, baik itu media masa atau  media televisi dll. kebangsaan dan keindonesiaan kita akhir-akhir ini menjadi korban belalang-belalang perebutan kekuasaan selepas peristiwa pilpres dan pengumuman pemilu ini pada tanggal 22 Mei 2019.

Korban yang meninggal pada pemilihan umum dari petugas KPPS, PANWASLU dari Personil Polri total mencapai 554 orang yang meninggal dunia dan sementara petugas yang sakit mencapai 3.778 orang (cnn.indonesia Selasa, 07 Mei 2019).

Meski data itu tidak mencapai kebenaran selalu ada perubahan, tapi fakta dari fenomena itu adalah kematian warga negara serentak. Berbagai ucapan bela sungkawa datang dari kalangan mana saja, peristiwa ini sudah terjadi kejadian hanya patut kita evaluasi dan hanya bisa kita ratapi meski sangat disayangkan, hal itu bisa terjadi.

Meski Jokowi menyatakan di salah satu media, Jokowi bersyukur pemilu kali ini berjalan lancar. Dia berharap situasi tetap kondusif setelah penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan itu (detik.com 22 April 2019). Apakah kejadian hal seperti ini bisa dikatakan sebuah pesta demokrasi, sedangkan di dalam tubuh demokrasi itu sendiri menelan korban jiwa.

Kejadian itu berlalu pada prosesnya setiap poros media berita hoax masih bermain, tidak hanya itu elite dibelakang mereka terus memantik kerisauan seperti halnya sikap di setiap kubu mengklaim kemenangan, dan mengadakan deklarasi, membuat rakyat menjadi kebingungan. penulis melihat masyarakat dari sudut pandang sosio-politik saat ini dari yang cilik, muda  hingga tua cenderung fanatik dalam mendukung pemilihan presiden kali ini.

Berlanjut dari hasil proses itu, elite yang hanya berlaku sebagai wayang cenderung memiliki sikap labil dalam menerima keputusan hasil Quic qount tersebut. Tidak menerima dengan hasil sementara itu, elite menyuarakan people power sebagian masyarakat memiliki stigma yang berbeda terhadap ajakan itu selain gerakan kedaulatan rakyat meminta KPU untuk bersikap jujur dan adil, dan hingga pada akhirnya isu ini menjadi bulan-bulanan dan blunder bagi elite yang satu ini pada akhirnya masa berkumpul di Kantor Bawaslu hingga terjadi bentrokan.

Dan pada akhirnya, menelan korban kembali akibat perseteruan dengan aparat. Korban meninggal, Anies Baswedan mengatakan 6 orang korban meninggal dan 58 orang yang di rawat akibat kerusuhan 22 Mei tersebar di 5 Rumah Sakit. Dilihat, Detik.com Jakarta, Minggu 26 Mei 2019.

Tidak ada tokoh yang mampu menenangkan dan sikap bijak yang di  keluarkan, setelah korban berjatuhan di Pemilihan umum serentak disusul kerusuhan di tanggal 22 Mei 2019 yang terjadi di beberapa titik, korban dibawa ke rumah sakit karena tak berdaya, sampai ada yang meninggal tinggal nama.

Bagaimana kejadian ini bisa terjadi, naas sekali hanya karena duduk persoalan pemilu dan berbeda pemilihan perihal presiden meski mengorbankan kemanusiaan. Padahal, Alm. Abdurahman Wahid mengatakan, bahwasannya yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. tapi mengapa di dalam carut marut politik selalu megorbankan kemanusiaan, kedua nya seperti tidak memiliki visi kemanusiaan dalam proses kekuasaan.

Kemanusiaan tak lagi dikedepankan, wajah elite tempo kini cenderung tidak memiliki kharisma dalam menyikapi persoalan mereka biasa menyelesaikan yang remeh temeh dan saling balas cibiran, hanya itu yang bisa mereka lakukan padahal isu kemanusiaan dan tindakan pelanggaran ham yang dilakukan oleh aparat sama sekali tidak mendapatkan kecaman, melainkan sebuah dukungan.

Masyarakat harus cerdas

Jika negara ini adalah negara hukum, maka sepatutnya para elite menjadi contoh para masyarakat awam yang tidak mengetahui akan pergulatan politik jangan malah mengorbankan kemanusiaan yang tidak di harapkan. Mengapa penindasan, kejahatan dan kesewenang-wenangan hingga kematian begitu dekat dengan kita ketika dihadapkan dengan peristiwa perebutan kekuasaan.

Meskinya bangsa ini belajar dari sejarah pada era Soekarno, kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Soekarno, begitu pula kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh perorangan militer. Dengan berbagai kasus penyeludupan dengan pelaku kalangan aparat, penahanan-penahanan tanpa alasan hukum yang semata-mata berdasarkan sentimen pribadi dan politik, pembunuhan dan perkosaan oleh kelangan bersenjata terhadap anggota masyarakat.

Begitupun dengan kekuasaan Soeharto dalam daftar X pun terdapat kasus-kasus yang pada hakikatnya sama dengan masa sebelumnya sebagai bagian dari watak korupsi kekuasaan.

Pada mulanya ada kasus Sum Kuning sampai dengan kasus yang penyelesaiannya digelapkan semacam peristiwa 6 Oktober 1970. Kejahatan terhadap kemanusiaan, penembakan-penembakan misterius diluar jalur hukum dan pengadilan terhadap yang di angap kaum kriminal. sedikit priodesasi penggambaran kejahatan kemanusiaan yang pernah dilakukan.

Kita dapat melihat dinamika hari ini, keIndonesiaan kita pada saat ini sedang sakit di dalam tubuh masyarakat pun adanya sebuah kekuasaan, yaitu kekuasaan yang tidak akan pernah kita miliki sampai kapanpun kita tidak akan mendapatkan itu selain kita harus merenggang nyawa sesama kita.

Jika kedua ini memiliki nurani kemanusiaan, maka mereka akan tahu bagaimana caranya menghadapi duduk persoalan karena keduanya tidak memiliki ketegasan dan dibutakan oleh kekuasaan. mereka tidak tahu apa yang harus mereka selesaikan. Masyarakat harus cerdas, di dalam pertarungan ini kita harus lebih hati-hati menghadapi keadaan. mari kita cerdaskan diri kita, untuk melawan kebodohan para penguasa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…