OUR NETWORK

Wahdatul Wujud

Lalu apa itu wahdatul wujûd? Tulisan ini tak akan berkecamuk dengan perdebatan teologis-filosofis seputar istilah itu

Salah satu gagasan yang paling banyak menimbulkan kontroversi di kalangan para pengkaji tasawuf ialah gagasan tentang wahdatul wujûd (kesatuan wujud). Gagasan ini sering dinisbatkan kepada seorang mistikus besar Islam bernama Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (w. 638 H). Meskipun, sebagaimana dicatat oleh Abul ‘Ila Afifi, Ibnu ‘Arabi bukanlah orang pertama yang mencetuskan gagasan ini.

Penjelasan mengenai konsep ini menjadi penting, karena, dalam pandangan Syekh Yusri, ia merupakan “ringkasan” dari seluruh ajaran para sufi. Kalau Anda sudah bisa memahami konsep ini dengan benar—apalagi jika menghayatinya secara serius—maka Anda akan paham tentang inti dari seluruh ajaran para sufi.

Kegagalan dalam memahami konsep ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman, yang tak jarang berujung dengan penyesatan dan pengafiran manusia-manusia pilihan Tuhan.

Lalu apa itu wahdatul wujûd? Tulisan ini tak akan berkecamuk dengan perdebatan teologis-filosofis seputar istilah itu. Tulisan ini hanya bertujuan untuk membantu pembaca dalam memahami saja. Barangkali, jika kita mampu memahami istilah tersebut dengan benar, setumpuk persepsi negatif tentang tasawuf dan para sufi itu bisa kita singkirkan.

Gagasan yang mudah seringkali terlihat sulit apabila disampaikan dengan uraian yang rumit. Sebaliknya, gagasan yang rumit seringkali terlihat mudah apabila disajikan dengan bahasa yang mudah. Sekarang saya ingin menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah untuk memahami satu konsep yang konon cukup rumit itu.

Syekh Yusri, seorang ulama besar al-Azhar yang juga menjadi mursyid Tarekat Syadzuliyyah di Mesir, meringkas gagasan tersebut dengan ungkapan singkat sebagai berikut:

“Kullu mâ siwa Allâh maujûdun bihi, idz lâ wujûda ma’ahu.

Artinya: “Segala sesuatu selain Allah itu ada dengan adanya Allah, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang berwujud bersama Allah.”

Apa maksud dari ungkapan ini? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan jawaban yang sangat sederhana. Sekarang saya mau tanya: Kita percaya tidak bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini terjadi seiring dengan kehendak dan kuasa Allah Swt? Sebagai orang beriman, pasti kita semua akan berkata iya. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang keberadaannya lepas dari campur tangan Tuhan. Ini satu hal yang kita imani bersama.

Nah, karena segala sesuatu selain Allah itu hanya bisa ada dengan adanya Allah, maka konsekuensinya sesuatu yang bisa dikatakan benar-benar ada—dengan makna keberadaan yang sesunggunya—itu hanyalah Allah. Yang lain itu hanya “wujud bayangan” (wujûd zhilli) saja. Dalam bahasa kaum sufi, alam semesta ini hanyalah manifestasi (tajalli) dari nama-nama, sifat dan perbuatan Tuhan.

Dia tidak ada dengan dirinya sendiri (bidzâtihi). Tetapi dia baru ada dengan adanya sesuatu yang lain, yaitu Allah. Dengan demikian, wujud yang hakiki itu, dalam konsep wahdatul wujûd, hanyalah Allah. Selebihnya hanyalah “wujud bayangan” yang merupakan manifestasi (penampakkan) dari wujud yang hakiki itu.

Syekh Yusri mengilustrasikanya dengan cermin. Ketika Anda bercermin, yang ada di balik cermin itu bukan Anda, tapi juga bukan selain Anda. Dia adalah “penampakkan” Anda. Dia baru ada dengan adanya Anda. Tapi dia sendiri bukanlah Anda.

Itulah yang dimaksud dengan ungkapan: kullu mâ siwa Allâh, maujûdun bihi (segala sesuatu selain Allah itu ada dengan ada-Nya Allah). Karena pada hakikatnya memang kita tidak akan pernah ada kecuali dengan adanya Allah.

Lalu apa yang dimaksud dengan frase “lâ wujûda ma’ahu”? Jika ingin diperjelas, ungkapan tersebut sebenarnya hendak menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang berwujud yang keterwujudannya itu bersamaan dengan Tuhan.

Namun, yang jadi pertanyaan: mengapa “kebersamaan” itu dinafikan? Jawabannya, karena kebersamaan itu meniscayakan adanya dualitas (itsnainiyyah). Ada Tuhan dan ada makhluk. Tapi bukankah kenyataannya memang seperti itu? Bukankah memang di sana ada Tuhan dan ada makhluk?

Ya, ilmu eksoterik (ilmu zhahir) memang akan mengakui adanya dualitas itu. Faktanya memang di sana ada Khaliq dan ada makhluk. Lalu mengapa para sufi menafikan kebersamaan itu? Di situlah pemahaman terhadap episteme (cara berpikir) para sufi itu menjadi penting.

Ilmu Tasawuf adalah ilmu “kebatinan”. Maksudnya, ilmu tasawuf adalah ilmu yang berkaitan dengan dimensi terdalam dari diri manusia. Karena itu, gagasan-gagasan para sufi lebih banyak berbasis pada “rasa” (dzauq) dan pengalaman spiritual (tajribah rûhiyyah).

Gagasan mereka beritik-tolak dari episteme ‘irfani, dan Anda akan keliru kalau memahami jalan pikir mereka dengan standar burhâni maupun bayâni. Singkat kata, Anda akan keliru kalau memahaminya dari sudut pandang ilmu zahir. Karena, meminjam istilah Syekh Yusri, ilmu para sufi itu merupakan ilmu tentang hakikat-hakikat (‘ilm al-Haqâiq). Ilmu mereka adalah ilmu batin, yang tak selamanya bisa ditafsirkan melalui ilmu zahir.

Kebersamaan itu dinafikan karena mereka tidak melihat makhluk sebagai sesuatu yang berwujud secara independen (maujûd bidzâtihi). Jika dilihat dari lautan ilmu hakikat, makhluk itu sebenarnya tidak ada. Yang layak dikatakan ada itu ialah sesuatu yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada keberadaan sesuatu yang lain. Dan dialah Allah.

Kalau orang sudah sampai pada level spiritual di mana dia tidak melihat kecuali manifestasi-manifestasi ilahi (tajalliyât ilâhiyyah), maka ketika itu dia tidak akan merasakan keberadaan dirinya, sebagaimana dia akan mengganggap bahwa alam semesta ini hanya ilusi belaka.

Itulah alasan mengapa di antara mereka ada berkata: “Mahasuci aku, tidak ada Tuhan selain aku. Yang lain bilang: “Akulah yang Mahabenar itu!”, dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya yang kalau dipahami secara lahiriah dapat menimbulkan kekeliruan bahkan bertentangan dengan dasar-dasar keyakinan.

Tapi, kalau kita paham, sebetulnya “aku” yang mereka sebutkan itu bukan aku seperti yang kita pahami. Mengapa? Karena orang-orang yang sampai pada level spiritual seperti itu sudah tidak mengenal “keakuan” dirinya lagi. Aku yang dimaksud adalah Tuhan itu sendiri.

Apakah itu artinya Tuhan menyatu dengan diri mereka, seperti yang diduga oleh sebagian kalangan? Tidak. Ungkapan itu justru terlahir karena mereka sudah tidak merasakan lagi keberadaan diri mereka sendiri.  Lalu apakah itu berarti bahwa mereka mengakui dirinya sebagai Tuhan? Tidak juga.

Bagaimana mungkin mereka mendaku diri sebagai Tuhan, wong mereka itu sudah tidak sadar dengan keberadaan diri mereka sendiri? Tapi mengapa bisa begitu? Sekali lagi pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan memuaskan oleh orang-orang yang memang “merasakan”.

Kita ini masih awam. Iman kita masih mendarat di muka bumi. Sementara keimanan mereka sudah mampu menembus “batas-batas langit”. Para sufi memiliki dunianya sendiri, yang tidak bisa kita pahami melalui dunia lahiriah kita. Dunia mereka adalah dunia hakikat, sementara dunia kita masih dunia yang “kasat”.

Dunia mereka adalah dunia batin, sementara dunia kita adalah dunia zahir. Pemahaman yang benar atas gagasan-gagasan mereka sangat bergantung pada pemahaman kita tentang dunia mereka itu sendiri. Hanya dengan cara itulah kita bisa memahami konsep wahdatul wujûd ini. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…