Jumat, Januari 22, 2021

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Kota, Polusi, dan Resiko Kematian Dini

Studi Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memaparkan 20 kota-kota di dunia paling berpolusi. 20 kota tersebut yaitu Buenos Aires, Sao Paulo, Rio de Jeneiro,...

Babak Belur Karena Tidak Jujur

Aktifis demokrasi pendukung pasangan Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet ketahuan bohong, bukan ketahuan, tetapi mengaku telah membohongi publik atas penganiaayan yang menimpa dirinya. “Kali ini saya...

Tafsir Orba tentang G30S dan Generasi Zaman Old

Bagaimana tafsir Orba tentang G30S? Bagi yang berusia 35 tahun ke atas, tentu ini bukanlah hal yang asing lagi. Karena Orba sudah membuat film...

Analisis Kasus Novel Baswedan: Hukum Indonesia Bertuan

Hukum dan adil layaknya dua hal yang tidak terpisahkan. Namun, realita menunjukan bahwa dalam beberapa kasus persidangan di Indonesia, justru hukuman yang diberikan kepada...
A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan 

Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada dirinya adalah sebuah fakta kehidupan. Sebagai fakta, penderitaan melekat pada jati diri kita sebagai manusia dan realitas dunia empiris yang pada hakikatnya adalah mortal.

Oleh karena itu, kita dituntut untuk menerimanya secara terbuka dan realistis sebagai langkah awal untuk memerangi dan mengatasinya. Hanya dengan itu, manusia bisa mengolahnya sebagai bagian integral dari kehidupan manusia.

Kita diminta untuk tidak panik tetapi bersikap realistis (stoik), yakni membebaskan diri dari emosi negatif dan segala rasa perasaan yang mengganggu itu. Artinya, manusia perlu melepaskan diri dari sikap bersungugut-sungut, perlu mengontrol diri untuk tidak ceroboh menyalahkan manusia lain, bahkan perlu tahu diri untuk tidak menuduh bahwa Covid-19 adalah kutukan Allah. Manusia dituntut untuk menunjukan sikap terbuka, mengakui dan menerima fakta tersebut sebagai bagian dari hidup.

Bahwa hari ini Covid-19 membunuh banyak manusia adalah fakta yang tak terelakkan. Tetapi menjadikan covid-19 sebagai dalil untuk menyangkal/menghapus/menolak eksistensi Allah adalah sebuah kecerobohan serius. Sebab dengan atau tanpa upaya menolak adanya Allah, Ada-nya Allah secara per se tak bisa dianggu gugat dan penderitaan di muka bumi tidak akan pernah lenyap.

Allah itu absolut, bersifat substansial dan bukan aksidental. Maka, adalah masuk akal untuk mengatakan bahwa Allah itu ada ketimbang menghapus Allah dari eksistensi manusia. Sebab dunia tanpa Allah malah jauh lebih fatal. Kita akan berhadapan dengan fakta yang lebih mengerikan.

Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi jika Allah dinyatakan mati? Apakah manusia akan mengisi takhta yang kosong itu? Lalu, bentuk pembenaran macam apa yang bisa diberikan berhadapan dengan fakta melimpahnya penderitaan dan ketidakadilan?

Situasi malah makin ruwet bahkan tidak menentu lagi bila manusia berusaha membunuh Tuhan lewat kekuatan dirinya. Nyatanya sang manusia yang diharapkan akan membawa peradaban menjadi makin baik malah tak memadai untuk menghadapi masalah kejahatan dan penderitaan.

Pokok ini menjadi bukti bahwa manusia bukan semata-mata menjadi korban kejahatan dan penderitaan melainkan juga pelaku kejahatan itu sendiri. Manusia kembali terjebak dalam gugatan yang jauh lebih buruk dan absurd.

Berhadapan dengan absurditas hidup manusia dengan kepastian keagagalan segala upayanya, satu-satunya jalan keluar yang bisa diambil oleh manusia adalah berani masuk ke dalam dirinya untuk mengakui dan mengolah penderitaan itu sebagai fakta kehidupan. Dengan itu manusia bisa bersikap realistis dan mudah mengatasi apa yang oleh Kaum Stoa sebut rasionalitas yang melenceng.

A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.