Kamis, Desember 3, 2020

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Medsos, Sun Tzu, dan Gaduh Tahun Politik

Memasuki tahun 2018 adalah memasuki rimba politik. Presiden Jokowi juga menegaskan demikian. Makanya, sejak pertengahan tahun lalu Jokowi mengingatkan para menteri agar tidak gaduh. Masyarakat...

Menelisik Tingkat Religiusitas Seseorang

Ketika kita mendengar perselisihan antar umat beragama terutama di negara kita Republik Indonesia tercinta ini perasaan miris muncul di benak kita. Walaupun perseteruan antar...

Kiprah Lulusan Sosiologi Agama dalam Penanggulangan Pandemi

Pandemi belum usai, semuanya menderita. Itu derita bagi semua pihak. Seperti ribuan masyarakat kehilangan pekerjaan, banyaknya pengusaha gulung tingkar, ribuan investor gagal menanam modalnya,...

Peran Cheng Ho

Pelayaran Cheng Ho atau disebut juga Zheng He pada 1403-1433 M menunjukkan peradaban China telah maju dan memiliki pandangan ke depan dalam konstelasi global...
A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan 

Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada dirinya adalah sebuah fakta kehidupan. Sebagai fakta, penderitaan melekat pada jati diri kita sebagai manusia dan realitas dunia empiris yang pada hakikatnya adalah mortal.

Oleh karena itu, kita dituntut untuk menerimanya secara terbuka dan realistis sebagai langkah awal untuk memerangi dan mengatasinya. Hanya dengan itu, manusia bisa mengolahnya sebagai bagian integral dari kehidupan manusia.

Kita diminta untuk tidak panik tetapi bersikap realistis (stoik), yakni membebaskan diri dari emosi negatif dan segala rasa perasaan yang mengganggu itu. Artinya, manusia perlu melepaskan diri dari sikap bersungugut-sungut, perlu mengontrol diri untuk tidak ceroboh menyalahkan manusia lain, bahkan perlu tahu diri untuk tidak menuduh bahwa Covid-19 adalah kutukan Allah. Manusia dituntut untuk menunjukan sikap terbuka, mengakui dan menerima fakta tersebut sebagai bagian dari hidup.

Bahwa hari ini Covid-19 membunuh banyak manusia adalah fakta yang tak terelakkan. Tetapi menjadikan covid-19 sebagai dalil untuk menyangkal/menghapus/menolak eksistensi Allah adalah sebuah kecerobohan serius. Sebab dengan atau tanpa upaya menolak adanya Allah, Ada-nya Allah secara per se tak bisa dianggu gugat dan penderitaan di muka bumi tidak akan pernah lenyap.

Allah itu absolut, bersifat substansial dan bukan aksidental. Maka, adalah masuk akal untuk mengatakan bahwa Allah itu ada ketimbang menghapus Allah dari eksistensi manusia. Sebab dunia tanpa Allah malah jauh lebih fatal. Kita akan berhadapan dengan fakta yang lebih mengerikan.

Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi jika Allah dinyatakan mati? Apakah manusia akan mengisi takhta yang kosong itu? Lalu, bentuk pembenaran macam apa yang bisa diberikan berhadapan dengan fakta melimpahnya penderitaan dan ketidakadilan?

Situasi malah makin ruwet bahkan tidak menentu lagi bila manusia berusaha membunuh Tuhan lewat kekuatan dirinya. Nyatanya sang manusia yang diharapkan akan membawa peradaban menjadi makin baik malah tak memadai untuk menghadapi masalah kejahatan dan penderitaan.

Pokok ini menjadi bukti bahwa manusia bukan semata-mata menjadi korban kejahatan dan penderitaan melainkan juga pelaku kejahatan itu sendiri. Manusia kembali terjebak dalam gugatan yang jauh lebih buruk dan absurd.

Berhadapan dengan absurditas hidup manusia dengan kepastian keagagalan segala upayanya, satu-satunya jalan keluar yang bisa diambil oleh manusia adalah berani masuk ke dalam dirinya untuk mengakui dan mengolah penderitaan itu sebagai fakta kehidupan. Dengan itu manusia bisa bersikap realistis dan mudah mengatasi apa yang oleh Kaum Stoa sebut rasionalitas yang melenceng.

A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.