Jumat, Oktober 30, 2020

Valentine, Keberagaman, dan Toleransi

Problematika Beragama di Era Sekarang

Mendekati kemerdekaan Indonesia yang ke 75, kebebasan beragama nampaknya belum bisa ikut merasakan kemerdekaan. Kemunduran kebebasan beragama masih sering kita lihat dalam lingkungan bermasyarakat...

Kasus Ratna bisa Dijadikan Pelajaran Berharga

Sekitar satu minggu belakangan ini, heboh kasus pemukulan dan penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet. Kabar tersebut semakin menarik perhatian dan simpati banyak orang karena...

Mahfud MD, Bapak Panembahan Hukum Indonesia

Pemilihan Umum sudah mulai berlabuh. Babak baru dalam ajang perhelatan lima tahunan ini begitu menguras tenaga dan biaya. Dua pasang calon presiden (capres) dan...

Tentang Makan, Dulu, Kini, dan Nanti

Di periode awal peradaban manusia, makan dimaknai sederhana, sekadar pemenuhan kebutuhan bertahan hidup. Sumber makanan diperoleh dari apapun yang bisa diperoleh dari alam. Lalu...

Hari Valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari merupakan momentum untuk berbagi kasih sayang kepada orang terdekat. Pada hari ini (valentine) setiap orang pasti merayakan dengan penuh suka cita dan penuh kedamaian. Sehingga momentum valentine harua dimakanai sebagai hari berbagi kasih sayang.

Lantas bagaimana hari valentine menempatkan keberagaman dan toleransi? Bukankah hari valentine tidak hanya sekedar bahwa kita berbagi kasih hanya kepada orang terdekat melainkan kepada saudara yang berbeda keyakinan dan budaya dengan kita? Di sinilah bagi saya kita harus melihat kembali momen valentine ditengah keberagaman Indonesia.

Bagi saya, hari valentine tidak hanya dimakanai sebagai hari yang berbagi kasih sayang hanya sebatas pada kerabat terdekat. Valentine harus menyasar pada semua lapisan masyarakat tanpa melihat sekat dan identitas. Apalagi ditengah bentuk intoleransi atas keberagaman Indonesia yang semakin menjemukkan, tentu mengakibatkan kita sulit menerima perbedaan sebagai modal sosial (capital social). 

Untuk untuk memahami valentine hanya sebagai hari kasih sayang bagi kerabat terdekat barangkali terlalu menafikkan bahwa hari valentine hanya sebatas euforia. Valentine lebih dari itu, dia (valentine) harus menyasar lebih jauh dan mendalam bahwa soal keberagaman dan toleransi harus tumbuh melalui perayaan valentine.

Di satu sisi kita melihat kondisi keberagaman mulai mengalami polarisasi karena kurangnya sikap saling berbagi kasih sayang diantara sesama kita. Di sisi lain, valentine harus berupaya hadir untuk membentuk kembali kondisi sosial tersebut menjadi lebih baik bagi keberagaman. Di sana kita akan lebih mudah bersikap toleransi terhadap identitas lain.

Selama ini kita selalu salah kaprah memahami keberagaman. Logika di ruang publik selalu melihat keberagaman sebagai musuh yang perlu dimusnahkan. Sehingga kita selalu mendaku diri paling benar, suci dan tanpa dosa, sementara kelompok lain kita kambing hitamkan demi melanggeng kebenaran yang kita dengungkan. Kondisi semacam ini bukan malah menciptakan keutuhan tetapi mengakibatkan beragam kekerasan atas nama identitas.

Di sana logika identitas mulai menyebar dengan klaim bahwa identitas kita paling benar dan menjadi sumber dan rujukan bagi identitas lain. Merujuk pada buku Kekerasan dan Identitas (Amartya Sen; 2006), kekerasan bisa terjadi akibat tumbuhnya rasa identitas yang diandaikan bersifat kodrati sekaligus tunggal-bahkan bersifat agresif-yang dianggap melekat pada diri kita dengan tuntutan yang berat (kadangkala menuntut kita bertindak kejam).

Logika semacam ini akan tumbuh subur dalam setiap pribadi kita manakala kita selalu memandang identitas yang kita miliki bersifat kodrati dan bahkan menjadi sumber kebenaran tunggal.

Hal ini tidak pelak lagi, kekerasan akan dengan mudah muncul dan identitas lain dianggap sebagai musuh dan karena itu pantas dikucilkan. Di sinilah bagi saya sebetulnya kita terjebak dalam logika yang sempit dengan nalar yang rapuh dalam memahami identitas.

Karena itu hari valentine tidak sekedar bahwa kita merayakan sebagai bentuk memberikan kasih sayang bagi kerabat. Malainkan harus mampu membaca dengan utuh bahwa identitas dan keberagaman memerlukan kasih sayang sebagai jalan damai menunu pada sikap toleransi. Melalui hari valentine kita bisa merayakan dengan masyarakat lain tanpa disekat dengan logika identitas yang tidak sehat.

Berbagai bentuk kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi ditengah masyarakat atas dasar pembelaan identitas harus kita tepis melalui sikap kita membawa diri lewat hari valentine. Begitupun dengan aksi-aksi sepihak yang menolak didirikannya gereja semestinya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk kembali merangkul melaui hari valentine.

Capital Social

Keberagaman yang tumbuh di Indonesia merupakan modal sosial penting bagi masa depan dan peradaban Indonesia di kemudian hari. Namun hal itu tidak akan berarti apa-apa jika hari ini kita tidak memulai dan membangun sikap toleransi dalam menjaga perbedaan.

Sengkarut politik yang selalu dipolitisir dengan isu identitas menunjukan bahwa kita masih lemah dalam memandang keberagaman sebagai modal sosial. Pelajaran politik (political lesson) tahun 2019 merupakan momen yang dapat menjadi pelajaran bahwa politik atas dasar identitas merupakan bentuk politik cacat. Ini harus kita pegang bersama, bahwa identitas dan keberagaman harus tetap tumbuh agar kita terus menghadirkan nuansa politik kedamaian dan sikap menunjung nilai-nilai perbedaan.

Kita harus yakin bahwa hari valentine merupakan momentum penting yang akan menghadirkan lebih banyak manafaat manakala kita menghadirkan itu sebagai jalan untuk bertemu dan bercengkrama dengan masyarakat lain. Kita perlu merayakan ini ditengah keberagaman agar nuansa toleransi dapat terus kita garap bagi kemajuan dan meningkatkan rasa solidaritas dan soliditas sebagai warga negara. Tanpa memaknai hari valentine seperti ini, bagi saya kita kehilangan poin paling penting dari hari kasih sayang tersebut.

Pada aras ini saya ingin menunjukan bahwa kita perlu merayakan hari valentine sebagai bentuk kesadaran kita untuk saling berbagi kasih sayang bagi orang lain. Tidak ada lagi sekat dan garis demarkasi yang menghambat kita untuk melakukan upaya toleransi ditengah keberagaman. Dengan jni saya yakin kedepan kita akan lebih mudah menerima perbedaan dan terus mengupayakan nilai toleransi.

Di situlah menurut hemat saya hari valentine harus disasar lebih mendalam. Bukan sekedar hari berbagi kasih sayang hanya kepada kerabat tetapi bagi semua saudara kita. Selamat hari valentine bagi semua saudara sebangsa dan setanah air. Semoga kita terus menerima perbedaan sebagai modal sosial dan bekal demi membangun Indonesia menuju bangsa yang beradab secara etika dan moral.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.