Rabu, Maret 3, 2021

Utang, Literasi, dan Investasi

Belajar dari Wabah Tak Bisa Tidur di Macondo

Mengikuti perkembangan penanganan COVID-19 oleh pemerintah yang sering kali bikin sakit kepala, saya jadi teringat Kota Macondo dalam One Hundred Years of Solitude ketika...

Apa kabar Ibu Kota Negara Baru

Sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, belum pernah mendirikan kota sebagai ibu kota negara atau ibu kota...

Adakah Sisi Agamis dari Komunis?

Komunisme adalah kata dan frasa yang acapkali terdengar di linimasa, di kedai-kedai bahkan ibu-ibu pun ikut sibuk dengan persoalan yang satu ini. Entah karena...

Globalisasi: Payung Baru bagi Terorisme

‘Terorisme’, seakan telah menjadi sebuah kata yang kerap mengahantui siapa saja. Berbagai tindakannyapun sangat sulit untuk diprediksi. Meski demikian, tak banyak yang mengerti apa...
Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur.

Alih-alih untung, justru investor utang ini malah buntung. Mereka merasa tertipu oleh saham yang melantai di pasar modal. Keluhan mereka beredar luas di jagat media sosial. Banyak netizen yang ikut angkat bicara mengenai hal tersebut.

Dilansir dari akun instagram @ngertisaham beberapa waktu lalu, ada investor pemula yang berutang lewat 10 aplikasi pinjaman daring senilai Rp170 juta untuk bermain saham. Jumlah uang yang tentu tidak sedikit bagi investor newbie.

Hebatnya lagi, investor tersebut langsung hajar kanan (maksud: menaruh semua) hanya pada 1 jenis saham. Walhasil, Ia mengalami kerugian (capital loss) yang pada saat bersamaan sahamnya anjlok.

Selain itu, ada pula nasabah yang membeli saham dari uang titipan Ibu-Ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Ironisnya, portofolio saham yang dibeli ternyata mengalami kontraksi sebesar minus 25 persen.

Di samping itu, ada juga investor pasar modal yang rela menggadaikan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dan sebidang tanah untuk membeli saham perusahaan tertentu.

Cuplikan di atas menunjukkan betapa hebatnya investor tersebut. Berani berinvestasi di pasar saham dengan uang “panas” hasil ngutang. Ditambah modal nekat yang langsung hajar kanan dan kiri hasil rekomendasi para influencer. Yang sudah jelas sesat dan menyesatkan.

Tentu kita bisa membayangkan betapa pusingnya para investor itu. Sudah rugi kemudian utang dan cicilan menanti. Untuk dibayar ke kreditur. Dengan bunga dan waktu yang ditetapkan. Syukur-syukur bisa melunasi utangnya. Jika tidak, debt collector akan mendatangi mereka jika gagal bayar.

Apalagi saat ini kita masih berada di masa pandemi. Para debitur jelas membutuhkan uang untuk hidup. Sementara para kreditur tentu membutuhkan likuiditas yang baik untuk memutar uangnya.

Jika salah satu bermasalah, pastinya akan membentuk lingkaran setan (vicious circle) di antara mereka.

Jadi teringat apa yang dikatakan Abah Dahlan Iskan dalam Catatan Disway-nya berikut:

“Mereka boleh pintar, kita tidak boleh bodoh”

Para influencer di media sosial boleh saja mempengaruhi Anda dengan segudang bualan dan jualan yang mereka lakukan. Itu memang menjadi pekerjaan mereka. Namun, kita tidak boleh menjadi investor ad populum. yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki pendirian.

Berinvestasi sejatinya tidak boleh buru-buru. Apalagi ikut-ikutan tren di media sosial. Investasi sepatutnya dilakukan dengan hati-hati (prudent) dan menggunakan analisa yang mendalam. Jika tidak mampu, ikuti saran para manajer investasi yang bersertifikat.

 

Pun jangan melupakan arti diksi “ceroboh” dan “sabar”. Dua kata yang akan selalu menghampiri keputusan para investor. Barang siapa yang “ceroboh” pasti kehilangan kesabarannya.

Kalau sudah ceroboh, banyak orang yang sering kepleset di lantai saham yang begitu licin (volatile) itu. Maka yang baik adalah menjadi investor yang sabar nan tidak ceroboh. Dengan cara meningkatkan kualitas literasi di bidang keuangan.

Literasi Keuangan

Ibarat buah simalakama, utang bisa menjadi berkah atau juga menjadi malapetaka.

Utang yang menjadi berkah manakala disalurkan pada sektor-sektor produktif. Utang menjadi darah segar untuk memperlancar bisnis dan usaha. Nantinya, pendapatan yang diraih bisa melunasi utang yang dipinjam.

Sebaliknya, utang yang menjadi malapetaka manakala ditempatkan pada sektor non-produktif. Akhirnya, utang yang digunakan tidak menambah pendapatan melainkan menaikkan beban bagi bisnisnya.

Contohnya adalah seperti investor di atas. Yang mana mereka asal saja menaruh uang tanpa mempertimbangkan risiko yang diterima. Kondisi tersebut menunjukkan minimnya literasi keuangan di kalangan masyarakat.

Survei literasi keuangan nasional OJK tahun 2019 menunjukan indeks literasi pasar modal Indonesia berada di level 4,92%. Meningkat dari survei sebelumnya pada tahun 2016 sebesar 4,4%.

Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan nasional mencapai 38,03%. Angka tersebut membaik dari survei tahun 2016 yang mencatatkan angka 29,7%.

Meski ada peningkatan, namun kenaikan tersebut masih terbilang minim. Perlu ada usaha ekstra untuk mengedukasi masyarakat tentang keuangan.

Mungkin jasa influencer akan lebih tepat digunakan untuk hal ini. Daripada memberikan rekomendasi saham yang bukan porsinya.

Berinvestasi di pasar modal dengan utang sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Ahli keuangan dimanapun akan berkata demikian.

Pahami skala prioritas keuangan yang ideal. Uang untuk investasi boleh digunakan setelah mengalokasikan dana untuk kebutuhan primer. Kebutuhan yang wajib harus didahulukan. Ketika masih ada sisa uang yang nganggur, barulah bisa digunakan untuk investasi.

Itupun belum cukup. Jenis instrumen investasi juga harus dipahami dengan baik. Sesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Konsepnya “high risk high return”. Semakin tinggi potensi return, semakin tinggi pula risikonya. Pilihannya tergantung pada kita semua.

Akhir kata, kita semua harus menjadi investor yang berpikir rasional dalam mengambil keputusan. Insiden di atas perlu dipetik pelajarannya agar tidak terulang kembali di masa mendatang. Kuncinya, tingkatkan literasi keuangan secara optimal.

Mudah-mudahan para investor di atas bisa membayar utang dan bunganya. Meskipun harus rela kehilangan uangnya secara cuma-cuma.

 

Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.