OUR NETWORK

Ustad Ignatius adalah Wajah Inferior Kita

Maka si empu perkataan ini akan menyandarkan perkataannya kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Uqud al-Lujjain.

Jagad Twitter dibuat heboh dengan pengakuan seorang ustad mualaf yang mengaku sebagai anak semata wayang seorang Kardinal. Tidak hanya itu dia juga mengaku sebagai lulusan Injil Vatican School (IVS) hingga mendapatkan gelar insinyur sarjana theologi. Keren bukan?

Sebenarnya lama sebelum Ustad Ignatius muncul sebenarnya sudah ada ustad yang lain yang mengaku, atau diakui jamaahnya sebagai mualaf mantan pendeta lulusan strata 3 Vatikan. Iya. Doktoral Vatikan. Itu prestasi yang luar biasa.

Sudah lah, benar atau tidaknya status dan gelar yang mereka raih itu adalah urusan beliau masing-masing. Yang membuat saya miris ialah video pengakuan itu diunggah oleh akun-akun garis lucu. Selucu itukah agamaku? Nelangsa.

Sebagai seorang yang sering menikmati webinar di masa work from home, saya rasa menghiasi diri dengan bingkai yang menawan adalah fitrah manusia.

Iya. Layaknya lukisan, manusia membutuhkan bingkai agar dia didengar dan diamini perkataannya oleh masyarakat. Misalnya, Anda pasti akan percaya kabar Virus Korona ini berbahaya manakala yang berbicara ialah seorang ahli pandemi. Dan Anda akan berpikir dua kali untuk percaya manakala yang berbicara itu adalah seorang guru agama. Beda server lah.

Maka, ketika JRX berbicara tentang konspirasi Pandemi Korona dia harus menggandeng seorang dokter yang paham di bidangnya agar perkataannya bisa diamini oleh folowers-nya. Hasilnya, jitu sekali.

Masyarakat ketakutan saat Korona hanya memakan korban puluhan, tapi masyakarat semakin tidak peduli manakala korban sudah puluhan ribu.

Bahkan, saya pernah membaca sebuah poster studium general yang menghadirkan Pak Jokowi sebagai pembicara kunci, mereka tetap menulis “Joko Widodo Presiden Republik Indonesia”. Ya, ‘bingkai’ itu tetap dipasang begitu besar, padahal siapa sih yang tidak mengenal Joko Widodo? Memang ada to? Sini saya foto.

Saya akui juga, dalam menulis ini saya menyematkan juga ‘bingkai’ diri saya sebagai pengajar sebuah Perguruan Tinggi Islam di Ponorogo. Sebagai penulis amatir, saya sangat jauh dari kata layak untuk diakui seperti esais lain yang hanya menggunakan atribusi ‘tinggal di Twitter’ seperti Sujiwo Tejo, atau ‘esais tinggal di darrah tertentu’ layaknya AS Laksana atau Iqbal Aji Daryono. Tidak. Saya tidak patut untuk itu dan saya betul-betul menyadari hal itu.

Pernah suatu ketika saat saya mendapatkan tugas mengisi mauizah hasanah pengajian yasinan ibu-ibu di desa saya, ibu saya selalu menyediakan serban untuk saya seraya berkata, “Biar kelihatan lebih tua.” Benar, ibu saya memang menyadari wajah anaknya ini tidak jauh dari karakter baby face. Hahaha.

“Maka dari itu saudara-saudara, dengarkanlah saya, karena saya bukan orang biasa, saya adalah ahli di bidangnya,” begitu kira-kira suara saya dari ruang gelap dalam dada.

Begitulah bingkai bekerja, memperindah lukisan di dalamnya. Mengajak para penikmatnya untuk lebih tunduk kepada keindahan pemiliknya, serta menghilangkan rasa inferior yang kerap merangsek tanpa aba-aba.

Rupa-rupanya, bingkai-membingkai ini tidak hanya digunakan untuk manusia dalam meneguhkan dirinya. Namun juga membingkai untaian kata-kata, sehingga apa yang pendengar akan diam, tunduk dan mengiyakan.

Taruhlah misalnya seorang pembicara dalam khutbah nikah ingin menjelaskan tentang kewajiban seorang suami ialah menafkahi istrinya, nafkah ini berupa sandang, pangan, dan papan. Sehingga sebenarnya ketersediaan dan kebersihan ketiganya merupakan tanggungjawab suami. Maka si empu perkataan ini akan menyandarkan perkataannya kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Uqud al-Lujjain.

Dengan begitu, sang khatib akan merasa menjadi wakil dari Syaikh Nawawi dan lebih merasa percaya diri dalam menyampaikan gagasannya.

Hal ini akan terus berlanjut misalnya kepada para penyeru negara Islam. Dengan mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi mereka akan berdiri dengan teguh dan menganggap bahwa dirinya adalah wakil Tuhan dan seakan-akan wahyu tersebut langsung turun kepadanya. Orang Jawa sering menyebutnya nabok nyilih tangan (menampar meminjam tangan orang lain) kebetulan dia meminjam tangan Tuhan.

Dan, perlu diingat, orang-orang yang mencoba menghalangi mereka pun juga mengutip dari sumber yang sama dan berhasil menangkis tamparan lawannya dengan tangan yang sama. Tangan Tuhan.

Akhirnya pertarungan pun tak dapat dielakkan, dan saya sangat yakin tidak ada di antara mereka mau mengalah. “Jika kita mau berdamai kita harus siap untuk perang,” kata mereka bersemangat.

Iya perebutan bingkai selamanya akan terus terjadi. Dan sedekat pengetahuan saya penggunaan bingkai-bingkai ini ialah fitrah, manusiawi bukankah sudah saya sebut bahwa Bapak Jokowi pun tetap memakainya.

Menjadi problem serius ketika bingkai tersebut disusun dengan pondasi rapuh semisal imajinasi dan hayalan, seperti teman SMA saya yang pernah dihentikan oleh polisi saat terjaring operasi Zebra dan diminta menunjukkan kelengkapan kendaraannya, dengan teguh hati dan percaya diri dia mengatakan, “Apakah Bapak tidak tahu bahwa ayah saya adalah seorang Polwan!”

Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.