Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Ustad Ignatius adalah Wajah Inferior Kita | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Ustad Ignatius adalah Wajah Inferior Kita

Puan Maharani Adalah Representasi Cita-cita Kartini

“… kecerdasan pemikiran Bumiputera tidak akan maju jika perempuan ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan adalah pembawa peradaban…” (RA. Kartini)Jika mimpi yang diperjuangkan oleh Kartini...

Melawan Korupsi Berbasis Baiti Jannati

Dalam beberapa tahun terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi headline media masa di Indonesia karena keberhasilannya menangkap para koruptor. Terutama kasus korupsi yang melibatkan...

Debat Pilgubsu dan Program Unggulan Djarot-Sihar

Esensi paling penting dari debat kandidat, baik calon presiden maupun calon kepala daerah adalah rakyat bisa secara langsung melihat calon pemimpinnya menyampaikan visi misi,...

Mengapa Kita Sulit Mengapresiasi Prestasi Perempuan?

Saya tengah meluncur di linimasa Twitter ketika mata saya menangkap sebuah gambar yang menarik. Seseorang membagikan screenshot artikel pertunangan Meghan Markle dan Pangeran Harry...
Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)

Jagad Twitter dibuat heboh dengan pengakuan seorang ustad mualaf yang mengaku sebagai anak semata wayang seorang Kardinal. Tidak hanya itu dia juga mengaku sebagai lulusan Injil Vatican School (IVS) hingga mendapatkan gelar insinyur sarjana theologi. Keren bukan?

Sebenarnya lama sebelum Ustad Ignatius muncul sebenarnya sudah ada ustad yang lain yang mengaku, atau diakui jamaahnya sebagai mualaf mantan pendeta lulusan strata 3 Vatikan. Iya. Doktoral Vatikan. Itu prestasi yang luar biasa.

Sudah lah, benar atau tidaknya status dan gelar yang mereka raih itu adalah urusan beliau masing-masing. Yang membuat saya miris ialah video pengakuan itu diunggah oleh akun-akun garis lucu. Selucu itukah agamaku? Nelangsa.

Sebagai seorang yang sering menikmati webinar di masa work from home, saya rasa menghiasi diri dengan bingkai yang menawan adalah fitrah manusia.

Iya. Layaknya lukisan, manusia membutuhkan bingkai agar dia didengar dan diamini perkataannya oleh masyarakat. Misalnya, Anda pasti akan percaya kabar Virus Korona ini berbahaya manakala yang berbicara ialah seorang ahli pandemi. Dan Anda akan berpikir dua kali untuk percaya manakala yang berbicara itu adalah seorang guru agama. Beda server lah.

Maka, ketika JRX berbicara tentang konspirasi Pandemi Korona dia harus menggandeng seorang dokter yang paham di bidangnya agar perkataannya bisa diamini oleh folowers-nya. Hasilnya, jitu sekali.

Masyarakat ketakutan saat Korona hanya memakan korban puluhan, tapi masyakarat semakin tidak peduli manakala korban sudah puluhan ribu.

Bahkan, saya pernah membaca sebuah poster studium general yang menghadirkan Pak Jokowi sebagai pembicara kunci, mereka tetap menulis “Joko Widodo Presiden Republik Indonesia”. Ya, ‘bingkai’ itu tetap dipasang begitu besar, padahal siapa sih yang tidak mengenal Joko Widodo? Memang ada to? Sini saya foto.

Saya akui juga, dalam menulis ini saya menyematkan juga ‘bingkai’ diri saya sebagai pengajar sebuah Perguruan Tinggi Islam di Ponorogo. Sebagai penulis amatir, saya sangat jauh dari kata layak untuk diakui seperti esais lain yang hanya menggunakan atribusi ‘tinggal di Twitter’ seperti Sujiwo Tejo, atau ‘esais tinggal di darrah tertentu’ layaknya AS Laksana atau Iqbal Aji Daryono. Tidak. Saya tidak patut untuk itu dan saya betul-betul menyadari hal itu.

Pernah suatu ketika saat saya mendapatkan tugas mengisi mauizah hasanah pengajian yasinan ibu-ibu di desa saya, ibu saya selalu menyediakan serban untuk saya seraya berkata, “Biar kelihatan lebih tua.” Benar, ibu saya memang menyadari wajah anaknya ini tidak jauh dari karakter baby face. Hahaha.

“Maka dari itu saudara-saudara, dengarkanlah saya, karena saya bukan orang biasa, saya adalah ahli di bidangnya,” begitu kira-kira suara saya dari ruang gelap dalam dada.

Begitulah bingkai bekerja, memperindah lukisan di dalamnya. Mengajak para penikmatnya untuk lebih tunduk kepada keindahan pemiliknya, serta menghilangkan rasa inferior yang kerap merangsek tanpa aba-aba.

Rupa-rupanya, bingkai-membingkai ini tidak hanya digunakan untuk manusia dalam meneguhkan dirinya. Namun juga membingkai untaian kata-kata, sehingga apa yang pendengar akan diam, tunduk dan mengiyakan.

Taruhlah misalnya seorang pembicara dalam khutbah nikah ingin menjelaskan tentang kewajiban seorang suami ialah menafkahi istrinya, nafkah ini berupa sandang, pangan, dan papan. Sehingga sebenarnya ketersediaan dan kebersihan ketiganya merupakan tanggungjawab suami. Maka si empu perkataan ini akan menyandarkan perkataannya kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Uqud al-Lujjain.

Dengan begitu, sang khatib akan merasa menjadi wakil dari Syaikh Nawawi dan lebih merasa percaya diri dalam menyampaikan gagasannya.

Hal ini akan terus berlanjut misalnya kepada para penyeru negara Islam. Dengan mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi mereka akan berdiri dengan teguh dan menganggap bahwa dirinya adalah wakil Tuhan dan seakan-akan wahyu tersebut langsung turun kepadanya. Orang Jawa sering menyebutnya nabok nyilih tangan (menampar meminjam tangan orang lain) kebetulan dia meminjam tangan Tuhan.

Dan, perlu diingat, orang-orang yang mencoba menghalangi mereka pun juga mengutip dari sumber yang sama dan berhasil menangkis tamparan lawannya dengan tangan yang sama. Tangan Tuhan.

Akhirnya pertarungan pun tak dapat dielakkan, dan saya sangat yakin tidak ada di antara mereka mau mengalah. “Jika kita mau berdamai kita harus siap untuk perang,” kata mereka bersemangat.

Iya perebutan bingkai selamanya akan terus terjadi. Dan sedekat pengetahuan saya penggunaan bingkai-bingkai ini ialah fitrah, manusiawi bukankah sudah saya sebut bahwa Bapak Jokowi pun tetap memakainya.

Menjadi problem serius ketika bingkai tersebut disusun dengan pondasi rapuh semisal imajinasi dan hayalan, seperti teman SMA saya yang pernah dihentikan oleh polisi saat terjaring operasi Zebra dan diminta menunjukkan kelengkapan kendaraannya, dengan teguh hati dan percaya diri dia mengatakan, “Apakah Bapak tidak tahu bahwa ayah saya adalah seorang Polwan!”

Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.