Senin, Oktober 26, 2020

Ustad Ignatius adalah Wajah Inferior Kita

Ditagih Mengembalikan BMN, Roy Suryo Memalukan?

Beredarnya surat tagihan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di jagat sosial media yang ditujukan kepada mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo agar...

Memikirkan Sejarah Sekali Lagi

Sebentar lagi bulan Agustus. Agaknya bulan Agustus agaknya dapat menjadi bulan sejarah bagi Indonesia. Pasalnya, pada bulan ini orang-orang banyak diingatkan tentang proses berdirinya...

Kondisi Ekonomi dalam Dinamika Keadilan Sosial

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sejarah menunjukkan bahwa dulu kekayaan Indonesia dimiliki dan dinikmati oleh...

Apa yang Dihasilkan Oleh Pendidikan Kita?

Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN 2019 sudah dimulai, yang artinya saat ini telah memasuki masa-masa penerimaan mahasiswa baru dan juga...
Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)

Jagad Twitter dibuat heboh dengan pengakuan seorang ustad mualaf yang mengaku sebagai anak semata wayang seorang Kardinal. Tidak hanya itu dia juga mengaku sebagai lulusan Injil Vatican School (IVS) hingga mendapatkan gelar insinyur sarjana theologi. Keren bukan?

Sebenarnya lama sebelum Ustad Ignatius muncul sebenarnya sudah ada ustad yang lain yang mengaku, atau diakui jamaahnya sebagai mualaf mantan pendeta lulusan strata 3 Vatikan. Iya. Doktoral Vatikan. Itu prestasi yang luar biasa.

Sudah lah, benar atau tidaknya status dan gelar yang mereka raih itu adalah urusan beliau masing-masing. Yang membuat saya miris ialah video pengakuan itu diunggah oleh akun-akun garis lucu. Selucu itukah agamaku? Nelangsa.

Sebagai seorang yang sering menikmati webinar di masa work from home, saya rasa menghiasi diri dengan bingkai yang menawan adalah fitrah manusia.

Iya. Layaknya lukisan, manusia membutuhkan bingkai agar dia didengar dan diamini perkataannya oleh masyarakat. Misalnya, Anda pasti akan percaya kabar Virus Korona ini berbahaya manakala yang berbicara ialah seorang ahli pandemi. Dan Anda akan berpikir dua kali untuk percaya manakala yang berbicara itu adalah seorang guru agama. Beda server lah.

Maka, ketika JRX berbicara tentang konspirasi Pandemi Korona dia harus menggandeng seorang dokter yang paham di bidangnya agar perkataannya bisa diamini oleh folowers-nya. Hasilnya, jitu sekali.

Masyarakat ketakutan saat Korona hanya memakan korban puluhan, tapi masyakarat semakin tidak peduli manakala korban sudah puluhan ribu.

Bahkan, saya pernah membaca sebuah poster studium general yang menghadirkan Pak Jokowi sebagai pembicara kunci, mereka tetap menulis “Joko Widodo Presiden Republik Indonesia”. Ya, ‘bingkai’ itu tetap dipasang begitu besar, padahal siapa sih yang tidak mengenal Joko Widodo? Memang ada to? Sini saya foto.

Saya akui juga, dalam menulis ini saya menyematkan juga ‘bingkai’ diri saya sebagai pengajar sebuah Perguruan Tinggi Islam di Ponorogo. Sebagai penulis amatir, saya sangat jauh dari kata layak untuk diakui seperti esais lain yang hanya menggunakan atribusi ‘tinggal di Twitter’ seperti Sujiwo Tejo, atau ‘esais tinggal di darrah tertentu’ layaknya AS Laksana atau Iqbal Aji Daryono. Tidak. Saya tidak patut untuk itu dan saya betul-betul menyadari hal itu.

Pernah suatu ketika saat saya mendapatkan tugas mengisi mauizah hasanah pengajian yasinan ibu-ibu di desa saya, ibu saya selalu menyediakan serban untuk saya seraya berkata, “Biar kelihatan lebih tua.” Benar, ibu saya memang menyadari wajah anaknya ini tidak jauh dari karakter baby face. Hahaha.

“Maka dari itu saudara-saudara, dengarkanlah saya, karena saya bukan orang biasa, saya adalah ahli di bidangnya,” begitu kira-kira suara saya dari ruang gelap dalam dada.

Begitulah bingkai bekerja, memperindah lukisan di dalamnya. Mengajak para penikmatnya untuk lebih tunduk kepada keindahan pemiliknya, serta menghilangkan rasa inferior yang kerap merangsek tanpa aba-aba.

Rupa-rupanya, bingkai-membingkai ini tidak hanya digunakan untuk manusia dalam meneguhkan dirinya. Namun juga membingkai untaian kata-kata, sehingga apa yang pendengar akan diam, tunduk dan mengiyakan.

Taruhlah misalnya seorang pembicara dalam khutbah nikah ingin menjelaskan tentang kewajiban seorang suami ialah menafkahi istrinya, nafkah ini berupa sandang, pangan, dan papan. Sehingga sebenarnya ketersediaan dan kebersihan ketiganya merupakan tanggungjawab suami. Maka si empu perkataan ini akan menyandarkan perkataannya kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Uqud al-Lujjain.

Dengan begitu, sang khatib akan merasa menjadi wakil dari Syaikh Nawawi dan lebih merasa percaya diri dalam menyampaikan gagasannya.

Hal ini akan terus berlanjut misalnya kepada para penyeru negara Islam. Dengan mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi mereka akan berdiri dengan teguh dan menganggap bahwa dirinya adalah wakil Tuhan dan seakan-akan wahyu tersebut langsung turun kepadanya. Orang Jawa sering menyebutnya nabok nyilih tangan (menampar meminjam tangan orang lain) kebetulan dia meminjam tangan Tuhan.

Dan, perlu diingat, orang-orang yang mencoba menghalangi mereka pun juga mengutip dari sumber yang sama dan berhasil menangkis tamparan lawannya dengan tangan yang sama. Tangan Tuhan.

Akhirnya pertarungan pun tak dapat dielakkan, dan saya sangat yakin tidak ada di antara mereka mau mengalah. “Jika kita mau berdamai kita harus siap untuk perang,” kata mereka bersemangat.

Iya perebutan bingkai selamanya akan terus terjadi. Dan sedekat pengetahuan saya penggunaan bingkai-bingkai ini ialah fitrah, manusiawi bukankah sudah saya sebut bahwa Bapak Jokowi pun tetap memakainya.

Menjadi problem serius ketika bingkai tersebut disusun dengan pondasi rapuh semisal imajinasi dan hayalan, seperti teman SMA saya yang pernah dihentikan oleh polisi saat terjaring operasi Zebra dan diminta menunjukkan kelengkapan kendaraannya, dengan teguh hati dan percaya diri dia mengatakan, “Apakah Bapak tidak tahu bahwa ayah saya adalah seorang Polwan!”

Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.