Sabtu, Februari 27, 2021

Urial, Satwa yang Harus Dilindungi

Sayap Kecil di Kaki Anak-anak

Konon, di kota, anak acapkali terbaca sebagai sosok yang lekas melampaui kodratnya sebagai sosok anak-anak. Anak-anak di kota memang lebih banyak tumbuh bersama gadget,...

Ir Soekarno: Khilafah No, Pancasila Yes!

Pemikiran Presiden Ir. Soekarno tentang Islam, ternyata lebih brilian dibandingkan dengan sejumlah cendekiawan muslim nasional yang hidup di zaman now. Sejumlah gagasan dan analisisnya...

Menolak Real Count Internal BPN

  Iklim perpolitikan Indonesia semakin panas setelah kubu Badan Pemenangan Nasional Prabowo (BPN Prabowo) mengklaim kemenangan 54,24%. Hasil tersebut berbeda dengan hasil rekapitulasi KPU yang...

Sarung Jokowi

Dalam berbagai kesempatan, Jokowi tampil dengan menggunakan sarung. Dalam ruang pribadi dan juga di publik. Ini dapat dilihat dari fanpage resmi dengan akun Presiden...
Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional

Bertuan rumah di Gandhinagar, India, Pertemuan Ketigabelas Konferensi Para Pihak pada Konvensi Konservasi Spesies Migrasi Hewan Liar (CMS COP 13) berlangsung selama delapan hari pada tanggal 15-22 Februari 2020.

CMS yang merupakan singkatan dari Convention of Migratory Species atau biasa disebut juga Konvensi Bonn, merupakan perjanjian internasional yang bertujuan untuk melestarikan spesies yang bermigrasi dalam rentang migrasi mereka. Perjanjian tersebut kemudian ditandatangani oleh PBB dan berada dibawah langsung naungannya.

Pada konferensi kali ini, dibahas fenomena-fenomena mengenai pelestarian spesies langka yang bermigrasi secara global, yang terjadi akhir-akhir ini. Hasil dari bahasan itu kemudian ditelurkan menjadi sejumlah resolusi dan keputusan yang diadopsi untuk membantu melestarikan spesies yang bermigrasi secara global.

CMS COP 13 sejatinya menjadikan pertahanan dan pemulihan konektivitas ekologis sebagai prioritas utama, terutama perihal pengelolaan spesies bermigrasi dan habitatnya. Hingga akhirnya, tercetuslah dari bahasan itu Deklarasi Gandhinagar yang disepakati oleh 130 negara yang berpartisipasi dalam konferensi ini.

Mereka menyerukan, melalui deklarasi ini, hal-hal mengenai spesies migrasi dan konsep ‘konektivitas ekologis’ untuk diintegrasikan dan diprioritaskan dalam Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Pasca 2020. Harapannya, poin-poin dalam deklarasi tersebut nantinya akan diadopsi pada Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB pada bulan Oktober depan.

Dalam konferensi itu, dilansir dari tehrantimes.com, Iran bersama Tajikistan dan Uzbekistan mengajukan proposal untuk memasukkan urial ke dalam daftar 10 hewan langka terancam punah. Dan, akhirnya, dalam pertemuan tersebut diterimalah proposal itu. Bersama hiu martil dan hiu tope, urial masuk dalam daftar spesies bermigrasi yang akan mendapat manfaat dari peningkatan kerja sama internasional dan tindakan konservasi.

Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas mengenai gajah Asia, jaguar, dan burung bustard India yang dijadwalkan akan menerima perlindungan ketat dibawah PBB. Sebelumnya, burung florican benggala, burung bustard kecil, elang laut antipodean, dan hiu ujung putih juga termasuk di dalamnya.

Urial, hewan dengan nama latin ovis orientalis vignei, dikenal juga sebagai arkar atau shapo, sekelompok subspesies dari domba liar ovis orientalis. Berciri fisik seperti bulu panjang berwarna coklat kemerahan, biasanya akan memudar selama musim dingin. Pada urial jantan, terdapat ruf hitam yang membentang dari leher ke dada dan memiliki tanduk yang besar melengkung dari bagian atas kepala hingga ke belakang. Berbeda dengan jantan, tanduk betina lebih pendek dan padat. Saking panjangnya, tanduk jantan panjangnya bisa sepanjang 100 cm.

Dapat ditemukan di Asia Tengah bagian barat, kini keberadaan urial menyebar dari kawasan Iran bagian timur melewati Kazakhstan, Balochistan, Pakistan hingga daerah Ladakh, India. Seringnya, mereka hidup bersama argali dan mouflon asia. Meski ketiganya berasal dari subspesies yang sama, tetapi ketiganya dianggap sebagai spesies yang berbeda oleh kebanyakan orang.

Habitatnya, biasanya di daerah lereng pegunungan yang berumput, sangat jarang sekali mereka mendiami lereng pegunungan yang hanya berbatu. Sebab, urial sendiri sangat suka memakan rumput-rumputan, tetapi kadang juga memakan daun pohon dan semak-semak jika rumput tidak ada.

Sayangnya kini status konservasi urial ialah terancam punah. Untungnya, selama beberapa tahun terakhir, populasinya telah pulih. Bila ditelisik, ada 2 hal yang menyebabkan populasi urial menjadi menurun, yaitu diambilnya habitat urial oleh manusia dan tingginya perburuan terhadapnya. Habitat urial yang berada di lereng pegunungan telah dimanfaatkan oleh manusia untuk pembangunan. Hingga akhirnya, tanpa disadari, habitat urial kian menyempit.

Adapun tingginya perburuan, justru karena berburu urial dan beberapa satwa yang lain menjadi daya tarik wisatawan asing untuk kesana. Bahkan, hal itu dianggap sebagai bisnis besar bagi perusahaan penyelenggara tur wisata. Dikutip dari bbc.com, harga untuk berburu sendiri dipatok sangat tinggi, kisaran $ 15.000-$ 20.000. Harga tersebut juga disesuaikan berdasarkan hewan yang hendak diburu, mulai dari urial transcapian hingga domba langka, seperti laristan mouflon.

Tentunya, keberadaan populasi urial yang semakin langka sangatlah mengkhawatirkan. Dan, sebetulnya masih ada satwa liar lain yang keberadaannya semakin menurun di Iran, semisal  beruang, rusa, anjing laut kaspia, dan beberapa jenis ular langka lainnya. Lagi-lagi, ulah manusia yang menjadi penyebabnya,baik itu karena pembangunan maupun perburuan. Belum lagi, cheetah Iran dan macan tutul persia yang jumlahnya kini menurun drastis, bahkan masuk ke dalam Daftar Merah Spesies Terancam Konservasi Alam.

Sejak 2013 lalu, lingkungan menjadi salah satu prioritas kebijakan pemerintahan Iran dan perlahan-lahan kesadaran publik terbangun karenanya. Iklan masyarakat mengenai lingkungan dan kelestarian alam pun sekarang gencar dilakukan di media sosial untuk mengedukasi masyarakat. Di tingkat lokal sendiri, dilakukan juga sosialisasi tentang peran masyarakat dalam pelestarian alam.

Semakin tingginya kesadaran masyarakat, mereka bersama polisi hutan saling bersinergi melindungi spesies yang terancam punah. Sayangnya, masih saja banyak pemburu yang nekat melakukan perburuan liar. Di sisi lain, hukuman yang menjerat para pemburu liar terbilang belum terlalu berat. Sehingga, tugas penjagaan hutan adalah tugas yang berat dalam menghentikan perburuan liar.

Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.