in

Urgensi Media Smart dan Smart Person


Keberadaan media menjadi sesuatu yang vital karena segala informasi tersaji secara lengkap. Segala bentuk informasi bisa diakses melalui berbagai hal dan mengandung maksud serta tujuan tertentu. Media berkembang semakin maju selaras dengan perkembangan informasi yang sangat cepat. Sehingga, dibutuhkan berbagai langkah inovatif untuk memberikan layanan informasi secara akurat.

Media informasi muncul sebagai bentuk terbukanya kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi. Masyarakat bebas menyampaikan segenap ide, gagasan, pemikiran dan sebagainya untuk menciptakan iklim transformasi pengetahuan yang sepadan. Kebebasan dalam berpendapat ini tetap dibatasi untuk menjamin batasan informasi yang kontra produktif.

Revitalisasi media informasi sangat dibutuhkan untuk menekankan pentingnya nilai pendidikan, pengetahuan, akses budaya dan semangat keberagaman. Nilai yang amat penting ini harus tersampaikan secara menyeluruh ke masyarakat (audiens) sebagai bentuk penguatan sendi kehidupan berbangsa. Keberadaan media harus mampu menjembatani kepentingan tersebut karena bagian dari amanah revolusi.

Pelbagai media saat ini banyak yang mengesampingkan pentingya nilai moralitas daripada hanya sekedar pada kepentingan profit oriented. Sajian informasi semakin bias dan cenderung menembus ambang batas ketentuan yang ada sehingga sangat berbahaya bagi keberlangsungan masa depan bangsa. Teguran secara tertulis pun sempat dilayangkan dari berbagai pihak yang masih peduli terhadap sajian informasi yang mendidik.

Pelanggaran berbagai kode etik informasi seharusnya menjadi peringatan penting bahwa media harus tetap berdiri tegap dan selalu menjunjung tinggi asas keadilan, tidak berpihak sebelah serta konsisten dalam mengawal ideologi bangsa. Media memiliki peran positif ketika dimaknai sebagai rule model kebangkitan sebuah peradaban. Segala model informasi berawal dari media dan wujud dari sebuah klaim kebenaran (truth claim).

Baca Juga :   Jangan Mau di Bodohi Pakai Opini WTP

Peran media akan menjadi penentu seberapa besar hegemoni dan keterlibatan opini publik. Keberadaan media memiliki dua hal keterlibatan yang amat penting yakni menciptakan perubahan konstruktif atau memperpanjang kesenjangan sosial. Hal ini perlu menjadi telaah kritis dalam merespon semakin massifnya perkembangan media informasi. Kepentingan media harus memihak pada upaya kebenaran yang dibungkam dan maraknya monopoli kejahatan.

Sejarah panjang telah menyita keberadaan media untuk dipaksa bergerak statis. Kebenaran informasi ditekan begitu dalam sehingga sangat sulit menyampaikan informasi secara gamblang. Berjalan jauh dari jejak yang kelam, di era keterbukaan ini seharusnya peran media harus mampu memposisikan diri dengan baik tanpa memendam propaganda terselubung.

Kekhawatiran terhadap dampak sosial atas media memang pantas menjadi pembahasan genting. Pasalnya, banyak konten berita yang bernada provokatif yang cenderung mengarah pada pemberitaan yang tendensius dan tak sekali menimbulkan konfrontasi. Bahkan, telah banyak negara yang terjebak pada kubangan berita hoax yang mengarahkan pada sesuatu yang mendiskreditkan dan mengganggu hubungan harmonisasi lintas negara. Hal ihwal inilah yang menjadi ketakutan dunia akan munculnya potensi konflik.

Keberadaan media tersohor sekalipun masih bisa luput dalam menyerap dan memahami isu. Tak sekali, pemberitaan menjadi tidak akurat, jauh dari kata moderat dan turut menghambat penyampaian informasi yang valid. Sehingga akan banyak ketimpangan yang terjadi dan rendahnya serapan informasi yang primordial.

Baca Juga :   Refute “The Clash of Civilization”

Selain itu, pengguna media online didorong pula untuk memiliki kemampuan memilih dan memilah informasi yang tidak bernada provokatif atau cenderung rendah nilai. Saat ini, situs media online semakin merebak dan mudah dibuat secara komunitas. Tak perlu modal besar dan banyak crew cukup hanya bermodalkan tekad maka keberadaan media tersebut sangat mudah dibuat.

Namun, hal buruk dari merebaknya media online justru menyulitkan pola pengawasan terhadap media yang jumlahnya semakin banyak. Hitungannya tidak cukup ratusan bahkan ribuan dan angka ini nantinya akan terus semakin bertambah. Apalagi munculnya beberapa situs media online tersebut dilatarbelakangi persoalan mutlak pada orientasi rating yang tinggi dan tidak murni menjembatani kepentingan akses informasi publik.

Persoalan media merupakan sebuah isu yang kompleks karena relatif sekali dimanfaatkan sebagai ruang transaksional. Meski dengan isu yang sama namun dalam kepentingannya kerapkali berbeda. Bahkan di lain hal, muncul kecenderungan bahwa keberadaan media raksasa sekalipun terkesan saling sindir dan serang terhadap media lain. Hal itu didasari hanya persoalan persaingan politik yang kemudian menggiring pewacanaan memanfaatkan media sebagai alat bantu pukul.

Kasus tersebut sebetulnya tidak  perlu terjadi karena ini bukan ranah publik untuk dipaksa mengkonsumsi perseteruan kedua belah pihak. Hal itu cukup menjadi domain privasi tanpa melibatkan publik sebagai konsumen akhir. Maka dari itu, sangat penting dan jeli dalam memaknai setiap berita atau informasi. Keberadaan media satu sisi memberi dampak dan manfaat yang baik namun disisi lain memiliki konsekuensi yang amat fatal jika tidak disikapi dengan bijak. Oleh sebab itu, penting kiranya menjadi smart person.


Baca Juga :   Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #3

Written by Mustaq Zabidi

Penulis adalah Pegiat di Solo Reform Institute dan Kader muda GP Ansor Kota Surakarta