Rabu, Maret 3, 2021

Upaya The New Prabowo dan Jokowi Menggaet Generasi Milenial

Wujud Islam ‘Rahmatan Lil Alamin’ [Gus Nadir: Islam Wasathiyah]

Pernyataan Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir tentang ‘Islam Wasathiyah itu Moderat’ yang dimuat media online Gatra.com (27 Mei 2019) sangat menarik sekaligus...

Baduy: Mencecap Senyap dari Kebisingan Ibukota

Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya. Dibalik itu, rupanya negeri khatulistiwa ini juga dihuni oleh berbagai macam...

Kidung untuk Keragaman

Pada suatu hari, seorang guru muda menjelaskan status Indonesia sebagai negara dengan ragam etnis tertinggi ke-24 di dunia. Dicomotnya nama Suku Batak, Dayak, Minahasa,...

Politik Olahraga, Dari Rugby di Afrika Selatan Hingga El Clasico

Olahraga mungkin dahulu hanya bertujuan untuk menyehatkan badan, namun kini olahraga lebih dari sekedar untuk menyehatkan badan saja. Olahraga seperti sepak bola, rugby, basket,...
Nono Yarno
Bekerja Kerja dan Selalu Bahagia

Demi meraup suara sebanyak-banyaknya pasangan Capres dan Cawapres berusaha melakukan segala cara. Termasuk mendekati generasi milenial dengan cara-cara yang identik dengan kehidupan, gaya hidup, kebiasaan dan keinginan generasi milenial.

Rupanya generasi milenial dinilai oleh kubu oposisi sebagai potensi suara yang sangat besar. Sehingga mereka berusaha untuk bisa memenangkan hati generasi ini. Menjelang kampanye Pilpres 2019, kata Sandiaga Uno, Prabowo sudah berubah. Kini kita akan melihat The New Prabowo yang asik untuk milenial.

Pada pemilu 2019, diperkirakan ada 196,5 juta orang yang berhak memberikan suara. Dari jumlah itu, 100 juta diantaranya adalah pemilih muda berusia 17-35 tahun. Partai politik dan politisi berlomba menggaet kelompok ini.

Bicara branding, Sandiaga Uno, dalam sebuah wawancara mengungkapkan bahwa kita akan melihat sosok Ketum Gerindra yang baru. Sandi menyebut inilah The New Prabowo. Sebuah konsep perubahan diri yang dibangun untuk mendekatkan Prabowo dengan calon pemilih. Menurut klaim Sandi, sekarang Pak Prabs lebih cair dan mendengarkan.

“Pak Prabowo itu orangnya asyik, The New Prabowo yang kita selalu bilang sekarang orangnya sangat cair, sangat mendengar, menghormati. Pak Prabowo sudah melewati dinamikan politik kita, sangat menghargai bahwa proses demokrasi harus mempersatukan, jangan memecah belah,” kata Sandiaga Uno di depan Masjid At-Taqwa, Jalan Swiwijaya Raya, Kebayoran Baru (22/8).

Oposisi berusaha adaptasi untuk merayu generasi milenial dengan memunculkan narasi The New Prabowo. Sedangkan kubu petahana sebenarnya sudah sejak dulu menyadari dan telah mendekat ke generasi milenial.

Beberapa bulan yang lalu pernah buming film yang menjadi kegemaran baru generasi jaman now yaitu DILAN 1990. Ternyata Jokowi dan Dilan sama-sama difilmkan, sama-sama sederhana, dan sama-sama pernah diragukan.

Setelah satu bulan tayang di bioskop, penggemar film “Dilan 1990” ramaikan #TolakDilanTurunLayar. Jokowi pun turun tangan. Melalui page Facebook, Jokowi unggah foto sedang pamerkan tiga lembar tiket bioskop dengan caption, “Hari Minggu kalian kemana? Saya menonton film yang sedang tayang di bioskop-bioskop tanah air: Dilan 1990.”

Setelah Jokowi nonton, Falcon Pictures mengumumkan jumlah penonton film Dilan yang menembus angka 6 juta penonton. Kurang sejuta lagi dari 7 juta penonton yang ditargetkan supaya Vanesha menyusul Iqbaal ke Amerika. Apakah Jokowi sengaja nonton untuk membantu Vanesha dan Iqbaal bertemu kembali? Kalau begitu, berarti fix Jokowi nggak masuk ke kubu Vanesha-Adipati.

Diwartakan bahwa Jokowi nonton film di bioskop Senayan City, Jakarta Selatan. Tiga tiket yang beliau pamerkan bukanlah untuk dirinya sendiri dan dua bangku sisanya dipakai untuk menaruh tas dan kotak pop corn, melainkan beliau nonton bareng Kahiyang Ayu dan Bobby sang menantu. Jadi, untuk kalian yang tidak bisa nonton film Dilan dengan pasangan, tidak perlu berkecil hati. Presiden saja tidak nonton bersama pasangannya kok. Tak terlihat sosok Jusuf Kalla di bioskop Senci kala itu.

Sebenarnya Jokowi pernah dibuatkan film dengan judul yang sama dengan namanya sendiri: “Jokowi”. Seperti halnya Dilan yang judul filmnya menggunakan nama Dilan. Film Jokowi rilis pada hari Kamis, 20 Juni 2013 untuk menyambut hari ulang tahun Jokowi ke-52 pada tanggal 21 Juni 2013 dan hari jadi DKI Jakarta ke-486 pada tanggal 22 Juni 2013. Timing yang pas.

Berbeda nasib dengan film Jokowi lainnya yang dibintangi Ben Joshua berjudul “Jokowi Adalah Kita”. Film “Jokowi Adalah Kita” dirilis pada tanggal 20 November 2014. Dilihat dari trailer, film ini menceritakan sepak terjang Jokowi selama menjadi gubernur DKI Jakarta. Namun penayangan film tersebut tertunda karena bertepatan dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Dua film tersebut diproduseri oleh KK Dheeraj.

Jika dipikir-pikir, Jokowi dan Dilan punya beberapa kesamaan. Dimulai dari kontroversi Iqbaal Ramadhan saat diumumkan menjadi pemeran sosok Dilan. Banyak warganet yang tidak setuju dengan alasan citra Iqbaal yang terlalu manis sebagai anggota boy band cilik. Nggak ada sangar-sangarnya acan.

Jika dilihat dari trailer, Iqbaal divonis tidak akan mampu membawakan peran sang panglima tempur gombal. Begitu pula dengan Jokowi saat dicalonkan sebagai presiden. Banyak yang sangsi dengan alasan Jokowi kurang kompeten. Namun, keduanya bisa membuktikan bahwa mereka pantas menjadi apa yang mereka mau dengan kesungguhan dan kerja keras.

Sekarang, kita bisa menyebut Jokowi adalah presiden dan presiden adalah Jokowi. Dilan adalah Iqbaal dan Iqbaal adalah Dilan. Narasi ini saya kira akan menancap kuat di memori para generasi jaman now karena Jokowi seolah identik dengan Dilan.

Dan Dilan adalah simbol dari generasi milenial. Apabila The New Prabowo dan Dilan-nya Petahana beradu di Pilpres 2019, kira-kira mana yang menjadi pilihan Generasi milenial? Keberhasilan mereka beradaptasi dengan generasi muda sangat berpengaruh terhadap jumlah suara yang diperoleh khususnya dari generasi jaman now.

Sumber : https://news.detik.com/berita/4178205/blak-blakan-sandiaga-tentang-the-new-prabowo

Nono Yarno
Bekerja Kerja dan Selalu Bahagia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.