OUR NETWORK

Upaya Menarik Agama dari Politik dan Ruang Publik

Menjengkelkan, bukan?

Bulan depan pemilu dilaksanakan, dan isu-isu agama masih menjadi tren nomor satu. Bangsa ini tampaknya memang agak sulit jika harus dibawa berpikir dengan menggunakan logika, entah karena memang tidak kenal dengan logika sama sekali.

Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang, dengan cara berpikir yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan perdamaian, memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul, sembarangan.

Begitu yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam pendahuluan bukunya, Madilog. Jika Tan Malaka sudah mengemukakan argumen tersebut puluhan tahun yang lalu, bukankah itu berarti pemikiran masyarakat tidak pernah mengalami kemajuan? Menjengkelkan, bukan?

Inilah dia dilema hidup di Indonesia. Berpikir secara logis di dalam masyarakat yang masih menganut nilai-nilai mistika yang jauh lebih tinggi bisa dianggap menyimpang, sedangkan jika terus menerus berpikir dengan gaya lama, mistik dan takhayul, sudah bisa dipastikan kita akan tertinggal jauh. Dari kisah 212 yang menjadi ajang taring mistik yang menjadi senjata utama masyarakat hingga deretan aksi serupa di kemudian hari, sudah cukup bukti bahwa kita masih mengelu-elukan mistika di atas logika.

Posisi inilah yang kemudian menjadi lahan garapan paling empuk sekaligus paling mudah untuk digarap oleh para politisi yang akan bertanding dalam kontes politik. Tebar saja isu-isu agama, maka ribuan–bahkan jutaan–suara jaminan masuk ke dalam kotak.

Kemudian muncul satu pertanyaan, “Apakah negara maju tidak memiliki porsi misitika dan agam di dalam sendi-sendi masyarakatnya?”

Tentu saja ada, kaum beragama tumbuh subur di berbagai belahan dunia. Dari ujung timur sampai barat, dari negeri komunis sampai negeri demokrasi, mereka masih hidup nyaman dan aman. Apa yang dilakukan mereka adalah menarik agama dari sesuatu yang bisa diperlihatkan dan digunjingkan orang di depan umum ke area yang lebih personal, privasi.

Mengurangi porsi agama dari ruang publik ke dalam hati sama sekali tidak mengurangi keimanan seseorang. Bagi saya, setidaknya tidak semua orang perlu tahu apa yang kita imani, berapa derajat kadar iman dalam hati kita, apalagi sampai memaksa orang lain untuk patuh terhadap iman yang kita genggam.

Sudah saatnya agama ditarik dari ruang publik, sudah terlalu gaduh dan menyesakkan hati. Mungkin beberapa orang ‘pendiri agama’ akan tersayat hatinya melihat bagaimana dari satu mulut ke mulut lain agama terlempar, kadang ia dihembuskan dari pidato kampanye, kadang bertebaran di media sosial. Inilah saat tepat mengembalikan agama ke dalam jiwa, dipatri di dalam hati.

Tidak etis saja rasanya, apa yang kita anggap sakral menjadi sesuatu yang bisa dihambur-hamburkan sesuka hati. Masuk ke tahun politik, ia bahkan jadi bagian dari kampanye. Masuk ke dalam perang SARA, ia jadi senjata. Sudah terlalu banyak hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan atas nama agama, maka disitulah logika harus muncul dan menggantikan perannya.

Indikator seorang calon wajib pilih dari yang awalnya karena satu aliran harus diganti menjadi ‘apa visi dan misinya’. Inilah berpikir menggunakan logika, dengan akal sehat yang lebih dari sekadar keterikatan batin, namun sesuatu yang bisa dirasakan dan dikecap oleh penginderaan,

Apa yang akan kita lakukan memangnya dengan pemimpin yang satu aliran namun ekonomi tersendat-sendat? Perbuatan mengutamakan kepercayaan dan mistika dalam ajang politik ini bagi saya suatu sifat egois, lebih mementingkan hasrat golongan dibandingkan persatuan. Jika aturan dalam masyarakatnya harus seperti itu, saya kira tidak ada gunanya Pancasila dibacakan beerulang-ulang.

Masyarakat yang masih mengutamakan mistika untuk segala macam hal–termasuk politik akan dengan mudah ditaklukkan oleh mistika itu sendiri. Karena kepercayaan adalah barang yang tak tersentuh kritik, maka ia bisa menjadi alat yang membuat patuh setiap orang. Bagaimana jika ternyata alat ini dipakai untuk kepentingan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi masyarakat di kemudian hari?

Hitung saja dari 2017, apa yang paling membuat kuping panas dan lantas ingin memaki-maki di depan televisi? Jawabannya tentu sentimen agama yang digembor-gemborkan di dalam agenda politik. Kita menghadapi masyarakat yang beragam, dan agama masih menjadi alat pemecah nomor satu, alih-alih mendinginkan suasana.

Sampai saat ini saja, perihal ‘kafir’ dan NU masih hangat diperbincangkan. Dari satu berita ke berita, dari peristiwa menuju peristiwa, agama menjadi sorotan utama. Jika saja perihal agama ini kita tarik privasi, bukan tidak mungkin debat di warung kopi bergeser menjadi soal visi misi.

Bukan tidak mungkin pula bertahun-tahun ke depan kita akan stagnan, jalan di tempat terus mendebatkan agama dan kepercayaan. Kampanye jadi unjuk keimanan dan kedekatan bersama petinggi agama. Maka, penting sekali kita berteriak, ‘Stop politisasi agama’.

Untuk pemilu yang sehat, agar desas-desus yang kita dengar tidak lagi menyakitkan hati. Bagaimana agama tidak dinistakan jika setiap hari yang kita gaungkan agama, agama, dan agama tanpa mengetahui dimana kita berteriak? Masyarakat ingin memfokuskan diri pada agama, dan ketika agama terkena singgungan, seolah bukan salah masyarakat itu sendiri.

Begitulah, tidak usah terus meneriakkan agama apalagi dalam konteks politik jika memang tidak ingin ada lagi penistaan dan segala macam tetek bengeknya. Kita, kok, yang menyulutnya, maka kita pula yang harus memadamkannya. Karena agama barangkali ada di dalam mesjid, mungkin di dalam hati, atau di dalam diri, yang jelas bukan di dalam politik.

Pelajar SMAN 1 Rancah, Ciamis. Mengambil IPA tapi lebih suka pelajaran sosial. Senang diajak mendiskusikan politik, sejarah, filsafat dan sastra.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…