Senin, Januari 18, 2021

Upah Hitungan Jam dan Nasib Angkatan Kerja

Meluruskan Nalar Anti Korupsi (1)

Perdebatan soal boleh tidaknya mantan narapidana tindak pidana korupsi menjadi calon legislatif dalam pemilu 2019 cukup mendominasi jagad politik hukum akhir-akhir ini. Dalam PKPU...

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*) Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh...

Refleksi Ekonomi: Janus Pembangunan Fisik

Dewasa ini, pembangunan infrastruktur menjadi senjata yang dipilih oleh pemerintah untuk berperang melawan ketimpangan. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin meningkatnya anggaran pendapatan pemerintah yang...

Kiat untuk Mahasiswa Tidak Terkena Paham Radikalisme

Istilah radikal dan radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, berarti akar, sumber, atau asal mula radikal sama dengan menyeluruh, besar-besaran, keras, kokoh, dan...
Adhi Nur Seto
Member of The Association Of Islamic University Student | Social Welfare Studies

Generasi muda kita tengah melaju kencang dalam berkarya. Bahkan, jika tidak ada batasan delapan jam perhari, barangkali mereka akan bekerja lebih dari itu. Asal, pekerjaan yang mereka lakukan di luar delapan jam kerja setiap harinya mendapatkan apresiasi yang layak dari perusahaan tempet mereka bekerja.

Para kawula muda ini, memang memiliki motivasi dan energi berlebih. Bagi mereka yang masih lajang, motivasi apalagi jika bukan untuk membeli gawai-gawai keluaran terbaru atau meminang perempuan pujaan hati.

Menikah di KUA memang murah, bahkan gratis. Namun konstruksi budaya cukup menjadi beban bagi para bujang untuk menggelar pesta pernikahan sesuai adat istiadat yang cukup menyita rupiah. Kerja keras adalah jalan satu-satunya untuk menggenapi tabungan guna menggelar pesta pernikahan.

Sedang, bagi mereka yang memiliki pasangan, motivasi untuk memiliki aset seperti rumah, kendaraan, mobil, serta aset lain guna meningkatkan taraf hidup keluarga telah mendorong mereka bekerja lebih keras. Mereka rela pergi pagi pulang pagi demi meraih impian yang mereka idam-idamkan.

Belum lagi bagi generasi Sandwich, yang terhimpit atas dan bawah. Generasi Sandwich selain memiliki beban kehidupan menafkahi anak isterinya, mereka juga harus menanggung beban nafkah orang tua.

Oleh karenanya, selain motivasi dan energi prima mereka tumpahkan saat bekerja dalam perusahaan, mereka akhirnya mau tidak mau harus melakukan pekerjaan sampingan, seperti jualan online shop atau menjadi driver ojek online, demi mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga juga sebagai anak yang masih menanggung beban menafkahi orang tuanya.

Nasib Angkatan Kerja Muda

Akhir-akhir ini, pemerintah tengah menyusun RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Salah satu poin yang tengah dikaji dalam RUU Ombinus Law Cipta Lapangan Kerja adalah sistem upah berdasarkan jam kerja. Media kemudian ramai-ramai mengangkatnya di permukaan, publik menyambut dengan saling mendengung di jagad maya. Mereka menyimpulkan arah dari kebijakan upah berdasarkan jam kerja akan merugikan para pekerja.

Apakah betul kebijakan ini pasti akan merugikan pekerja dan menguntungkan pengusaha secara sepihak. Tentu ada dimensi lain dalam penyusunan RUU ini yang harus diperhatikan selain kepentingan pengusaha dan nasib pekerja. Mereka adalah nasib angkatan kerja muda.

Pro dan kontra dalam setiap pengambilan kebijakan adalah hal lumrah, terlebih kebijakan ini akan berimplikasi pada nasib manusia yang jutaan jumlahnya. Sebagai salah satu angkatan muda yang sedikit banyak serta langsung dan tak langsung akan mendapat efek dari kebijakan ini, saya menggarisbawahi suatu hal, yakni Apabila niat pemerintah memutuskan upah sesuai jam kerja adalah untuk memberi kesempatan bagi generasi muda memaksimalkan potensinya dan mewujudkan mimpinya tanpa pembatasan waktu maka hal ini adalah keputusan yang cukup fair.

Keputusan upah sesuai jam kerja tentu dapat memacu generasi muda untuk bekerja lebih giat lagi. Bagi pemerintah besarnya motivasi dan energi angkatan kerja yang produktif tentu berimplikasi baik pada pertumbuhan perekonomian nasional.

Namun, bila keputusan upah sesuai jam kerja semata-mata diniatkan untuk menarik perhatian investor dan memberi keringanan pada pengusaha tapi di sisi lain mengabaikan angkatan kerja kita, maka tentu ini keputusan kurang tepat.

Alih-alih akan meningkatkan perekonomian, keputusan ini justru membuat generasi muda enggan memasuki ruang-ruang kerja industri yang memposisikan mereka layaknya sapi perah tanpa apresiasi yang layak. Mereka akan lebih tertarik menjadi driver ojek online, yang tidak terikat jam kerja namun memiliki potensi pendapatan yang besar apabila mereka mau bekerja “berangkat pagi, pulang pagi”.

Pemerintah harus memperhatikan nasib angkatan kerja kita. Apalagi dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi bonus demografi, dimana Indonesia mengalami surplus angkatan kerja. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) pada 2019 sebanyak 185,34 juta orang dari 260 juta lebih populasi penduduk Indonesia. Artinya hampir 70% dari jumlah penduduk Indonesia adalah usia produktif.

Melihat data di atas, Sejatinya generasi muda tidak terlalu membutuhkan kartu ajaib guna menopang hidup mereka. Anak-anak muda ini hanya butuh diberi kesempatan yang baik dan akses terhadap pekerjaan yang bisa memaksimalkan potensinya dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Mempersiapkan Angkatan Kerja

Generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah maupun kuliah juga mesti diperhatikan. Kebijakan upah sesuai jam kerja yang tidak memihak pada mereka justru akan menurunkan atensi mereka untuk terjun di dunia profesional. Sulit bercita-cita menjadi profesional muda apabila tiada keberpihakan pemerintah dalam menjamin upah kerja yang memberi dorongan mereka mengeksplorasi potensi dan kemampuannya.

Walhasil, bonus demografi yang diharapkan menjadi kekuatan ekonomi negara, justru menjadi ancaman negara karena generasi muda enggan menjadi profesional di perusahaan dan lebih memilih menjadi driver ojek online atau membuat online shop.

Tentu menjadi driver ojek online dan meraup pendapatan melalui online shop bukanlah hal yang buruk. Namun sebagai negara berkembang yang berlimpah sumberdaya, Indonesia  tentu lebih membutuhkan profesional yang dapat membangun bangsa di masa yang akan datang. Keterlibatan generasi muda dalam dunia industri dapat mendorong geliat industri  tanah air semakin berkembang.

Mempersiapkan industrialisasi bagi generasi muda bukan semata menggonta-ganti kurikulum pendidikan. Mempersiapkan industrialisasi lebih pada penyusunan regulasi yang berpihak pada nasib generasi muda, menjadikan generasi muda sebagai tujuan dari setiap pengambilan kebijakan.

Oleh karena itu, apabila kebijakan upah berdasarkan pada jam kerja dilakukan secara fair tanpa merugikan angkatan kerja, maka minat generasi muda untuk terjun di dunia industri akan meningkat dan dapat mengurangi angka pengangguran. Namun bila kebijakan ini semata-mata hanya untuk menarik investor tanpa mempertimbangkan nasib generasi muda, maka yang terjadi yakni peningkatan angka pengangguran dan kegagalan Indonesia dalam menghadapi resesi ekonomi yang sudah di depan mata.

Adhi Nur Seto
Member of The Association Of Islamic University Student | Social Welfare Studies
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.