Minggu, Oktober 25, 2020

Untuk Penghuni Negara yang Sedang Sakit

3 Tahun JKW-JK, ekonomi pariwisata menjadi catatan

Pariwisata sudah menjadi trend Industri di setiap provinsi untuk menumbuhkan perekonomian, karena lemahnya perdagangan dunia dan berdampak kepada ekspor Indonesia yang terus menurun, dari...

Edward Said dan Relevansi dengan Masa Kini

Dalam salah satu karya Edward Said yang berjudul Culture and Imperialism, secara singkat dinyatakan bahwa ada dua istilah umum yang berkaitan dengan penjajahan yang...

Independensi Jurnalisme dalam Tahun Politik

Belum lama ini, Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI menyinggung wartawan sebagai akibat buruknya penampilan Tim Nasional (Timnas) Indonesia di ajang Piala AFF 2018. Dia...

Pro-Pancasila Menurun, Pemerintah Harus Berbenah

Seperti yang ditulis Detikcom (17/7/18), Lingkaran Survei Indonesia(LSI) Denny JA belum lama ini merilis hasil survei mengenai publik pro-Pancasila. Temuan survei ini sangat mengejutkan...
Anjar Triananda Ramadhani
Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia

Tulisan ini dibuat untuk kita semua sebagai masyarakat negara yang sedang sakit ini. Sebuah pesan sarat arti tentang segala situasi yang sedang terjadi di bumi Indonesia. Semoga bagi siapapun yang membaca tulisan ini akan sadar dan timbul perasaan ingin berubah terhadap kondisi bumi Indonesia ini. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui, melainkan hanya sebagai pengingat akan kondisi darurat negara ini.

Belakangan ini kita sering sekali melihat berbagai macam masalah berkaitan dengan toleransi, persatuan dan persatuan bangsa yang timbul di masyarakat. Hal ini tentu menjadi menarik ketika kita melihat ke belakang.

Sejarah mencatat bahwa untuk meraih kemerdekaan yang diimpi-impikan seluruh masyarakat Indonesia tempo dulu,  mereka secara sadar dan tanpa paksaan bersatu padu dalam satu barisan perjuangan serta melepaskan segala atribut kesukuan dan keagamaan mereka demi tercapainya tujuan bersama, yaitu merdekanya Indonesia.

Masyarakat kala itu tak heran menjadi contoh konkret tentang apa itu sebenarnya Indonesia, negara yang akrab dengan persatuan dan kesatuannya.

Namun, hal indah tentang persatuan dan kesatuan itu seolah hanya menjadi dongeng untuk anak-anak Indonesia saat ini. Mayoritas masyarakat masa kini sudah terlampau jauh dari nilai-nilai persatuan dan kesatuan tersebut.

Seolah tidak sadar akan hal itu, kalangan elit pun tidak ada habisnya untuk menyusun berbagai macam strategi, yang tak jarang memecah persatuan masyarakat, demi kepentingan kelompoknya sendiri. Pun begitu dengan masyarakatnya.

Mereka menggonggong ke sana-kemari dengan lantang, seolah menyatakan bahwa golongannya yang paling benar dan tak dapat ditentang. Diskusi masyarakat sudah bukan menjadi ajang untuk menemukan gagasan baru yang solutif, melainkan menjadi ring tinju yang sangat destruktif. Padahal perlu mereka ketahui jika hal-hal seperti itu tidak akan menjadikan negara ini sebagai yang terbaik, malah hanya akan membawa permasalahan yang pelik.

Kita pun pastinya sadar kalau di luar sana masih banyak orang-orang yang dengan tulus ingin menghilangkan ‘cap jelek’ negara ini. Namun, usaha mereka akan sia-sia jika tidak adanya niatan dari dalam diri masyarakat untuk berubah.

Selama masyarakat masih memandang bahwa dirinya lah yang paling benar, maka sampai hari di mana sangkakala ditiup kelak negara ini akan tetap kehilangan jati dirinya. Lantas bagaimana cara kita menjadi bangsa yang kuat seperti pendahulu kita?

Musuh bersama. Saat ini kita sedang tidak memiliki musuh bersama atau setidaknya hal apapun yang kita takuti bersama. Bahkan, banyak sekali yang berpendapat bahwa dengan Tuhan pun kita tidak memiliki rasa takut sama sekali.

Lalu mengapa kita harus memiliki musuh bersama? Kehadiran musuh yang membuat seluruh elemen masyarakat resah sedikit banyak akan berpengaruh terhadap rasa persatuan dan kesatuan di antara mereka. Dengan musuh bersama yang siap untuk kita lawan, maka kita secara tidak sadar akan melupakan identitas kesukuan, keagamaan dan juga identitas keindividualan yang lainnya.

Tentu banyak realitas kita saat ini yang dapat dijadikan sebagai musuh bersama. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah musuh bersama tersebut tidak boleh dimunculkan pada satu atau lebih manusia.

Menciptakan musuh bersama yang berdasarkan untuk membenci satu atau lebih manusia hanya akan membawa konflik berkepanjangan yang ujung-ujungnya makin memperkeruh situasi persatuan dan kesatuan yang ada saat ini.

Terakhir, yang perlu kita ingat sebagai warga negara adalah tujuan kita bersama yang sudah tercantum di dalam Pancasila. Jika kita sudah sampai pada tahap sadar dan ingin menyadarkan orang lain tentang tujuan bersama kita tersebut, rasa-rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang masalah persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya dengan adanya masyarakat multikultural di negara ini, jangan pernah sekalipun menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk bertengkar di sana-sini. Keberagaman harusnya menjadikan kita semakin erat.

Anjar Triananda Ramadhani
Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.