Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

#UninstallGojek dan Kesempatan yang Hilang

Berbeda-beda tetapi Satu: Ketuhanan dalam Agama Hindu (1 dari 2)

Saya ingin mulai dengan sebuah cerita: Suatu hari, Nan-in—master Zen—didatangi seorang profesor dari sebuah universitas tersohor di Jepang. Sang profesor ingin menemui Nan-in untuk belajar...

Anak Dayak dan Ceker Ayam

Seminggu yang lalu saya bersama dengan Pak Albert Rufinus (pensiunan dosen Bahasa Inggris  di FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak) dan Kehi (lulusan Filsafat di Widya...

Trotoar dan Kemalasan kita

Selain sebagai kelengkapan jalan raya, jalur pedestrian sejatinya merupakan ruang vital di kota, pasalnya tempat tersebut menjadi tempat sosialisasi antar warga sehingga dapat meningkatkan...

PSI, Sikap Anti Korupsi dan Rekonstruksi Politik

Anak-anak muda dari generasi milenial itu menentukan garis batas cepat-cepat. Sebuah batas untuk menjaga harapan Indonesia yang bebas dari korupsi. Merawat nalar publik atas...
Yohan Misero
De Omnibus Dubitandum. Hiduplah sehidup-hidupnya.

LGBT. Empat huruf ini selalu, secara tidak perlu, menjadi topik yang panas – dan Go-Jek beberapa waktu lalu terpapar suhu yang tinggi dari empat huruf tersebut.

Hal ini bermula dari acara internal Go-Jek yang ditengarai sebagai Coming Out Day, sebuah hari untuk merayakan mereka, yang akhirnya terbuka pada dunia tentang identitas mereka – biasanya terkait dengan identitas, ekspresi, atau orientasi seksual. Seorang Vice President Go-Jek menceritakan mengenai hal ini di media sosialnya, yang kemudian viral dan menciptakan reaksi penolakan dari masyarakat dalam wujud #UninstallGojek.

Kehebohan ini kemudian direspon Go-Jek dengan mengeluarkan rilis terkait kejadian tersebut. Pada rilis yang diunggah oleh pihak Go-Jek, respon Go-Jek pada 3 kalimat pertamanya seakan merayakan keberagaman, meski tidak secara spesifik menyebut “LGBT” atau bahkan “seksualitas”. Langkah yang jelas diambil untuk mencegah kontroversi lebih lanjut.

 

Sayangnya, pada kalimat keempat, Go-Jek seakan melepaskan tanggung jawab dan menganggap bahwa keriuhan ini hanya karena interpretasi pribadi seorang karyawan terhadap makna sebuah acara internal. Kalimat kelima dan keenam adalah upaya Go-Jek untuk kembali menyatukan diri dengan publik yang terpecah karena problema ini dalam sebuah entitas agung: Indonesia.

Komunikasi korporat yang terukur seperti ini tentu bisa dipahami mengingat Go-Jek adalah sebuah bisnis. Tentunya ancaman uninstall bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh oleh para petinggi Go-Jek. Beberapa (mantan) pengguna Go-Jek secara terbuka menampilkan screenshot bahwa mereka telah uninstall Go-Jek dari ponsel pintar mereka.

Meski langkah tersebut dapat dipahami, sesungguhnya respon Go-Jek yang tidak full throttle itu menghilangkan beberapa kesempatan penting dalam mencapai progres sosial – sebuah hal yang amat dibutuhkan Indonesia yang tengah dirundung konservatisme. Apa saja kesempatan itu?

Pertama, jika saat itu Go-Jek memberanikan diri untuk berkata pada publik bahwa dalam membicarakan keberagaman, artinya adalah menginklusi orientasi seksual dalam diskusi, maka Go-Jek secara jelas memposisikan rekan-rekan LGBTIQ sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Go-Jek, si unicorn kebanggaan bangsa, yang mem-branding dirinya “sangat Indonesia” sepatutnya juga merayakan hal ini dengan lebih percaya diri.

Kedua, keberanian tersebut juga akan membumikan isu ini secara lebih masif, setidaknya di kalangan pekerja dan partner. Layanan Go-Jek yang sudah mencakup banyak kota di Indonesia dapat menjadi platform kampanye yang tidak ternilai harganya. Sekian pekerja dan rekanan pasti akan butuh waktu untuk memproses hal tersebut. Namun ketika keberagaman ini memang ditempatkan sebagai corporate value yang harus dipertahankan, maka Go-Jek sesungguhnya telah melakukan hal yang luar biasa besar bagi kemanusiaan.

Ketiga, sebetulnya jika Go-Jek saat itu dengan berani menyatakan pendiriannya untuk merangkul minoritas, Go-Jek memiliki kesempatan untuk memeriksa kedigdayaan platformnya. Apakah merangkul LGBT akan menggoyahkan status unicorn yang telah Go-Jek raih dengan susah payah? Atau justru menguatkannya? Atau tidak berdampak apa-apa? Saat itu, sesungguhnya Go-Jek tengah diberi alat untuk mengetahui sejauh apa bisnisnya dapat bertahan dari tekanan massa.

Keempat, perhatian internasional yang lebih positif. Setelah pidato Avengers dan Winter is Coming dari Presiden Joko Widodo, masifnya investor Tiongkok masuk ke skema start up tanah air, dan makin kuatnya posisi Indonesia sebagai middle income country dalam 2-4 tahun ke depan, tentu muncul pertanyaan dari barat: masihkah Indonesia mau berjalan beriringan?

Perlindungan minoritas tentu sebuah hal positif yang tidak hanya akan disambut oleh negara-negara barat dengan baik – namun juga oleh pengusaha-pengusahanya. Maka pada titik itu, Go-Jek akan menyetarakan diri dengan berbagai perusahaan seperti: Apple, AT&T, Microsoft, IBM, Google, dan banyak perusahaan lain – termasuk Grab, satu-satunya kompetitor besar di skala nasional.

Kelima, jika saat itu Go-Jek tegas mengakui eksistensi teman-teman LGBT di perusahaannya maka Go-Jek telah menempatkan dirinya jauh lebih humanis dari banyak perusahaan di level nasional – bahkan lebih humanis dari pemerintahnya sendiri. Di saat Indonesia, terutama elemen penegak hukumnya, tak terharapkan untuk melindungi minoritas, Go-Jek malah bertindak lebih berani. Itu teguran manis yang harus dikecap oleh pihak berkuasa atau siapapun pemimpin terpilih di 2019 nanti.

Semoga keengganan Go-Jek untuk bersikap lebih jelas memang berhasil mengamankan ekspansi mereka ke daerah-daerah lain, baik di nasional maupun internasional, maupun juga ke area bisnis yang lain. Semoga suatu hari nanti Go-Jek benar menjadi sebuah perusahaan yang too big to fail dan too large to escape from sehingga tanpa takut akan kontinuitas bisnis dapat dengan lantang menyuarakan: Go-Jek berdiri bersama kawan-kawan LGBT – dan ke depannya, minoritas lainnya.

Yohan Misero
De Omnibus Dubitandum. Hiduplah sehidup-hidupnya.
Berita sebelumnyaMenjaga Magnet Pesta Demokrasi
Berita berikutnyaPolitik Genderuwo?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.