OUR NETWORK

#UninstallGojek dan Kesempatan yang Hilang

Komunikasi korporat yang terukur seperti ini tentu bisa dipahami mengingat Go-Jek adalah sebuah bisnis.

LGBT. Empat huruf ini selalu, secara tidak perlu, menjadi topik yang panas – dan Go-Jek beberapa waktu lalu terpapar suhu yang tinggi dari empat huruf tersebut.

Hal ini bermula dari acara internal Go-Jek yang ditengarai sebagai Coming Out Day, sebuah hari untuk merayakan mereka, yang akhirnya terbuka pada dunia tentang identitas mereka – biasanya terkait dengan identitas, ekspresi, atau orientasi seksual. Seorang Vice President Go-Jek menceritakan mengenai hal ini di media sosialnya, yang kemudian viral dan menciptakan reaksi penolakan dari masyarakat dalam wujud #UninstallGojek.

Kehebohan ini kemudian direspon Go-Jek dengan mengeluarkan rilis terkait kejadian tersebut. Pada rilis yang diunggah oleh pihak Go-Jek, respon Go-Jek pada 3 kalimat pertamanya seakan merayakan keberagaman, meski tidak secara spesifik menyebut “LGBT” atau bahkan “seksualitas”. Langkah yang jelas diambil untuk mencegah kontroversi lebih lanjut.

 

Sayangnya, pada kalimat keempat, Go-Jek seakan melepaskan tanggung jawab dan menganggap bahwa keriuhan ini hanya karena interpretasi pribadi seorang karyawan terhadap makna sebuah acara internal. Kalimat kelima dan keenam adalah upaya Go-Jek untuk kembali menyatukan diri dengan publik yang terpecah karena problema ini dalam sebuah entitas agung: Indonesia.

Komunikasi korporat yang terukur seperti ini tentu bisa dipahami mengingat Go-Jek adalah sebuah bisnis. Tentunya ancaman uninstall bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh oleh para petinggi Go-Jek. Beberapa (mantan) pengguna Go-Jek secara terbuka menampilkan screenshot bahwa mereka telah uninstall Go-Jek dari ponsel pintar mereka.

Meski langkah tersebut dapat dipahami, sesungguhnya respon Go-Jek yang tidak full throttle itu menghilangkan beberapa kesempatan penting dalam mencapai progres sosial – sebuah hal yang amat dibutuhkan Indonesia yang tengah dirundung konservatisme. Apa saja kesempatan itu?

Pertama, jika saat itu Go-Jek memberanikan diri untuk berkata pada publik bahwa dalam membicarakan keberagaman, artinya adalah menginklusi orientasi seksual dalam diskusi, maka Go-Jek secara jelas memposisikan rekan-rekan LGBTIQ sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Go-Jek, si unicorn kebanggaan bangsa, yang mem-branding dirinya “sangat Indonesia” sepatutnya juga merayakan hal ini dengan lebih percaya diri.

Kedua, keberanian tersebut juga akan membumikan isu ini secara lebih masif, setidaknya di kalangan pekerja dan partner. Layanan Go-Jek yang sudah mencakup banyak kota di Indonesia dapat menjadi platform kampanye yang tidak ternilai harganya. Sekian pekerja dan rekanan pasti akan butuh waktu untuk memproses hal tersebut. Namun ketika keberagaman ini memang ditempatkan sebagai corporate value yang harus dipertahankan, maka Go-Jek sesungguhnya telah melakukan hal yang luar biasa besar bagi kemanusiaan.

Ketiga, sebetulnya jika Go-Jek saat itu dengan berani menyatakan pendiriannya untuk merangkul minoritas, Go-Jek memiliki kesempatan untuk memeriksa kedigdayaan platformnya. Apakah merangkul LGBT akan menggoyahkan status unicorn yang telah Go-Jek raih dengan susah payah? Atau justru menguatkannya? Atau tidak berdampak apa-apa? Saat itu, sesungguhnya Go-Jek tengah diberi alat untuk mengetahui sejauh apa bisnisnya dapat bertahan dari tekanan massa.

Keempat, perhatian internasional yang lebih positif. Setelah pidato Avengers dan Winter is Coming dari Presiden Joko Widodo, masifnya investor Tiongkok masuk ke skema start up tanah air, dan makin kuatnya posisi Indonesia sebagai middle income country dalam 2-4 tahun ke depan, tentu muncul pertanyaan dari barat: masihkah Indonesia mau berjalan beriringan?

Perlindungan minoritas tentu sebuah hal positif yang tidak hanya akan disambut oleh negara-negara barat dengan baik – namun juga oleh pengusaha-pengusahanya. Maka pada titik itu, Go-Jek akan menyetarakan diri dengan berbagai perusahaan seperti: Apple, AT&T, Microsoft, IBM, Google, dan banyak perusahaan lain – termasuk Grab, satu-satunya kompetitor besar di skala nasional.

Kelima, jika saat itu Go-Jek tegas mengakui eksistensi teman-teman LGBT di perusahaannya maka Go-Jek telah menempatkan dirinya jauh lebih humanis dari banyak perusahaan di level nasional – bahkan lebih humanis dari pemerintahnya sendiri. Di saat Indonesia, terutama elemen penegak hukumnya, tak terharapkan untuk melindungi minoritas, Go-Jek malah bertindak lebih berani. Itu teguran manis yang harus dikecap oleh pihak berkuasa atau siapapun pemimpin terpilih di 2019 nanti.

Semoga keengganan Go-Jek untuk bersikap lebih jelas memang berhasil mengamankan ekspansi mereka ke daerah-daerah lain, baik di nasional maupun internasional, maupun juga ke area bisnis yang lain. Semoga suatu hari nanti Go-Jek benar menjadi sebuah perusahaan yang too big to fail dan too large to escape from sehingga tanpa takut akan kontinuitas bisnis dapat dengan lantang menyuarakan: Go-Jek berdiri bersama kawan-kawan LGBT – dan ke depannya, minoritas lainnya.

De Omnibus Dubitandum. Hiduplah sehidup-hidupnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

geolive
    Feed has no items.
Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…