Kamis, November 26, 2020

Uncontrolled Ego dan Nafsu Era Post Truth

Hari HAM, Progresifitas! Bukan Sekedar Solidaritas!

Setiap 10 Desember, banyak negara di seluruh dunia merayakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) atau Human Rights Day. Momentum ini diinisiasi oleh Persatuan Bangsa-Bangsa...

Dilema Pendidikan Sebagai Formalitas atau Keharusan

Setiap 2 Mei 2019 bangsa Indonesia memperingati hari Pendidikan Nasional. Berbicara tentang hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) tentu membawa kita kembali kepada masa-masa dimana para...

Feodalisme dalam Perjodohan

Pernikahan terindah pada dasarnya terjadi jika kita menikahi orang yang kita cintai. Tak ada satu pun orang yang ingin menikah dengan orang dia tidak...

Teror di Masjid Christchurch, Sayap Kanan dan Islamofobia

Sebagai salah satu negara dengan indeks keamanan tertinggi di dunia, Selandia Baru baru saja mendapat teror yang mengejutkan. Tragedi penembakan di Masjid Al Noor,...
L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |

Tidak sedikit dari kita sebagai umat manusia yang menyadari bahwa salah satu nikmat Tuhan YME yang bernama ego dan hawa nafsu adalah dapat menjadi musuh terbesar dalam kehidupan kita. Ada pepatah yang mengatakan “Seribu kawan terlalu sedikit, tapi satu musuh saja kebanyakan”.

Walaupun mungkin kita dapat menaklukan beribu-ribu musuh sekalipun dalam puluhan bahkan ratusan kali pertempuran, namun sesungguhnya pemenang pertempuran yang sebenarnya adalah orang yang dapat menaklukan dirinya sendiri atas ego dan hawa nafsu yang cenderung negatif. Menaklukan diri sendiri terkait ego dan hawa nafsu jauh lebih baik daripada menaklukkan hal lain.

Dalam konteks kehidupan social bermasyarakat, kita dapat memahami ego sebagai salah satu faktor untuk menunjukkan rasa solidaritas sosial dan mempertahankan rasa percaya diri. Tetapi ego yang dibiarkan liar, tidak terkontrol dan berlebihan akan membawa dampak negatif. Dampak yang negitif itu bukan saja berimbas kepada diri sendiri tetapi juga kepada realita relasi kemanusiaan kita.

Jika kita mengamati dalam kehidupan sehari- hari saja, banyak ditemukan tanda dari seseorang yang memiliki ego negatif dan berlebihan antara lain seperti mudah sekali tersinggung ( atau Bahasa millennialsnya “baperan” ) bahkan menyalahkan orang lain, merasa tidak aman bila jabatan/posisinya terusik.

Selalu ingin jadi yang terbaik serta selalu tampak benar dari lainnya, tidak berpikir panjang dalam menyikapi suatu masalah, sehingga fokusnya hanya kepada dirinya sendiri (egosentris).

Pribadi egois adalah pribadi yang melihat segala sesuatu dari kacamatanya. Dia tidak bisa memahami pikiran orang, perasaan orang, jadi selalu menuntut orang untuk mengikuti pendapatnya.

Pribadi egois juga adalah pribadi yang mementingkan dirinya sendiri, dia tidak bisa mempertimbangkan kebutuhan orang, dia senantiasa mengedepankan kebutuhannya di atas kebutuhan orang. Itu sebabnya kita simpulkan bahwa pribadi yang egois adalah pribadi yang susah sekali untuk tulus, sebab ujung-ujungnya untuk kepentingannya sendiri.

Jika kita telaah kembali berdasarkan konteks kehidupan beragama khususnya Islam, manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu sehingga tunduk di bawah perintahnya. Golongan kedua yang berhasil mengalahkan dan mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk di bawah perintah dirinya.

Memang, nafsu selalu mengajak untuk melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara Allah SWT mengajak hambanya untuk takut kepadanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyifati nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah (tenang), lawwamah (pencela), dan ammarah bis-suu’ (penyuruh berbuat buruk).

Sehingga, baik secara kehidupan social maupun dalam konteks aturan dalam Al-quran bahwa manusia telah diberikan panduan agar mampu mengelola ego dan nafsu nya dengan baik dan benar. Celakanya, memasuki era Post-Truth justru manusi dengan ego dan nafsunya begitu liarnya melempar opini ke publik yang cenderung berdampak negative.

Dampak di Era Post-Truth

Sudah banyak sumber atau literasi yang membahas apa dan bagaimana perilaku manusia di era post-truth. Salah satunya berdasarkan kamus Oxford, kata post-truth ditempatkan sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016 karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia, terlebih pada peristiwa terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit).

Pada kedua momen itu, berita hoax (hoaks=bohong) dengan sangat mudah disebarkan kepada masyarakat luas dan mempengaruhi opini publik.

Indonesia sendiri mengalami dampak buruk dari era post-truth.Tanpa mengabaikan penyebaran hoaks pada masa sebelumnya, gempuran informasi hoaks bertaburan di media sosial selama 2-3 tahun terakhir, terutama ketika pilpres 2019 tahun ini.

Rakyat terpecah menjadi kubu-kubu yang saling serang, sindir dan lepmar opini ditimeline social media hanya berdasarkan informasi yang dapat dikatakan cenderung belum jelas sumber dan kebenarannya. Baru-baru ini kita pun disajikan drama hoax operasi plastik yang mampu menipu salah satu pasangan kontestan pilpres 2019.

Singkatnya, era post-truth adalah era di mana manusia hidup di dalam “kebohongan” dan menganggap hal tersebut tidak lagi sebagai masalah besar. Bisa dikatakan bahwa era post-truth melahirkan suatu informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya yang membuat akal budi manusia kesulitan untuk melihatnya secara jelas.

Ruang publik masyarakat modern yang menjadi tempat manusia hidup tidak lagi kondusif untuk menyingkirkan “kebohongan” dan memeluk kebenaran. Pemahaman era post-truth semakin lama semakin kuat tertanam dalam diri setiap manusia tanpa batas negara ataupun kebudayaan, terlebih karena dibantu penyebarannya lewat media sosial dan internet.

Jika kita kembali lagi ke definisi awal sebagai golongan umat manusia, saat dimana memasuki era post-truth tersebut maka kita dapat asumsikan bahwa semakin banyaknya dari kita yang masuk pada manusia golongan pertama, yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu sehingga tunduk di bawah perintahnya.

Akibat dari ego dan hawa nafsu nya, banyak dari kita yang terseret arus untuk menyebar berita atau informasi yang belum jelas terbukti sumber dan kebenarannya.

Maka, pentingnya nilai tabayyun adalah dengan meneliti dan menyeleksi suatu berita, tidak secara tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebaginya hingga sampai jelas benar permasalahnnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terdzolimi atau tersakit. Tabayyun sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini. Wallahu’alam

L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.