Sabtu, Desember 5, 2020

Uang, dari Ilusi Kertas Sampai Peleburan

Mbah Moen: Kyai Bangsa Pengayom Umat

Tidak semua orang pintar itu benar, tidak semua orang benar itu pintar. Banyak orang yang pintar tapi tidak benar, dan banyak orang benar meskipun...

Relevansi Islam Keindonesiaan

Oleh M. Dudi Hari Saputra, MA. Pengurus Kahmi Samarinda Jujur, saya termasuk orang yang menolak anggapan bahwa Islam ini terkotak-kotak kedalam aliran atau kebangsaan tertentu (misal:...

Televisi Mengingatkan, Orang Tua Melakukan

Program televisi memiliki klasifikasinya masing-masing, sehingga membutuhkan peran orang tua mengawasi anak-anak untuk memilih program hiburan yang sesuai dengan kebutuhanya. Mengingat televisi memberikan informasi...

Pandemi Covid19 dan Audit Perguruan Tinggi

Audit Mutu Internal (AMI) merupakan proses pengujian yang sistematik, mandiri dan terdokumentasi untuk memastikan pelaksanaan kegiatan di perguruan tinggi sesuai prosedur dan hasilnya telah...
Opsar Damodalag
Mahasiswa Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado. Tergabung dalam organisasi kemahasiswaan, dan tertarik dalam bidang penulisan

Uang adalah alat tukar yang digunakan manusia sejak dahulu hingga saat ini, uang memiliki fungsi yang sangat baik apabila digunakan dengan baik, begitu pula sebaliknya, posisi uang pada awalnya adalah netral, ketika manusia menggunakan uang untuk hal yang bermanfaat dari netral bisa berubah menjadi sesuatu yang baik, dan ketika kita menggunakan uang untuk kejahatan maka nilai netral dari uang bisa jadi sebuah kejahatan. Semua itu tergantung kita mengarahkan uang kemana, tetapi pada awalnya uang adalah materi yang baik dan sesuatu yang penitng dalam proses jual beli.

Dari sejarah awalnya, peradaban manusia kuno menukar barang dengan barang (Barter) ini sudah dilakukan sebelum adanya uang, nenek moyang manusia sudah melakukan proses itu dalam dunia perdagangan untuk mendukung kelansungan hidup manusia. Setelah adanya sistem pertukaran barang, dalam perdagangan berubah menjadi nilai tukar emas pada jaman peradaban Yunani dan Romawi, emas yang dihitung nilainya dengan berat dan juga besar dari emas tersebut.

Setelah beberapa tahun berjalan, munculah pemikiran baru untuk merubah alat jual beli, dan uang koin menjadi alat tukar dalam kegiatan jual beli hingga tersebar kebelahan dunia. Karena semakin maju jaman, dan teknologi berkembang pesat, uang koin disulap menjadi uang kertas dan masih terjaga sampai saat ini.

Uang sejak jaman kemunculanya didunia hingga hari ini memang masih terjaga fungsinya, akan tetapi perpolitikan dalam ekonomi semakin tajam dan uang bisa saja menjadi senjata untuk manusia sendiri. Politik uang yang paling fatal adalah ketika nilai rupiah dan dolar tidak sama, negara maju dengan sengaja membuat uang sebagai ilusi nilai tinggi dengan perubahan gambar dan digit angka didalamnya, negara penguasa dunia butuh waktu yang panjang untuk mengilusi kepada manusia bahwa jumlah uang rupiah sebesar 5.000 sama dengan lima lembar uang seribu kertas kan tetapi ukuran dari uang kertas sama saja, ilusi itu dibuat terus menerus hingga manusia lalai didalamnya.

Memang nilai dariuang itu sudah diatur sedemikian rupa untuk kelancaran dari kegiatan jual beli, namun kita harus menyadari bahwa itu adalah sebuah ilusi yang dibuat, yang lebih parah lagi apabila 1 dollar disamakan dengan Rp. 16.000 bahkan lebih, bagi saya ini sebuah kekonyolan dan kita masuk dalam perankap tersebut, karena dengan sistem ini bisa saja negara luar menguras sumber daya alam kita sampai seterusnya dan kemiskinan akan terus berkembang dan meregenerasi, seperti contohnya negara asing bisa membeli bawang mentah di Indonesia dengan jumlah dolar yang sedikit akan tetapi kita membeli barang diluar negeri dengan jumlan rupiah yang sangat banyak.

Ketika sahabat bisa berpikir kritis, pasti akan menolak sistem yang akan menghancurkan Negara kita ini, pasalnya kita bisa saja kaya, namun sistem yang memaksa kita untuk tertunduk miskin bahkan negara tidak punya energi yang besar untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi hingga kini. Dari penjelasan diatas kiranya kita tidak bisa menyalahkan siapa saja, sebab kita hanya terlamun dengan ilusi uang yang dibuat untuk memasukan manusia dalam perangkap didalamnya perlawananpun hanya sebuah dongeng apabila kesetaraan nilai uang masih saja jauh dari pandangan.

Semakin menuju kedunia baru, ilusi uang kertas akan berubah menjadi digit angka dalam dunia digital, perubahan dan kemajuan teknologi sudah semakin jauh berkembang, saat ini tokoh sudah masuk dunia media sosial, ojek sudah memakai sistem online, pesan makanan dengan online, input data pribadi menggunakan mendia elektronik, bahkan sekolah dionlinekan dimasa Pandemi ini.

Secara otomatis kegiatan kita sekarang hanya seputar Smart Phone sebagai media yang menggunakan jaringan internet untuk mengoprasikanya, uang kertas tidak berlaku disini, yang ada hanya top up dengan cara uang kertas dileburkan menggunakan media lain dan nilai tuka sudah berubah menjadi digit angka, itulah sistem baru yang akan diterapkan untuk menghancurkan uang kertas yang menjadi ilusi selama ini.

Bukan ramalan tetapi hanya prediksi saya untuk satu abad kemuka hitungan dari tahun 2020 ini, uang kertas akan segera menjadi sejarah yang bisa diceritakan untuk anak cucu kita, uang kertas akan dileburkan dan dihilangkan, pertukaran barang tinggal menggunakan digit yang bisa saja negara lain merubahnya menjadi lebih tinggi karena mereka pemegang server untuk media internet. Kemajuan media memanglah mempermudah dan mempercepat kerja kita, tetapi juga berbahaya.

Solusi yang mungkin bisa saya simpulkan saat ini adalah tetaplah bijak dalam menanggapi hal baru dan kritis dalam membaca strategi penjajahan gaya baru yang dibuat oleh negara maju sebagai penguasa negara lainya.

Opsar Damodalag
Mahasiswa Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado. Tergabung dalam organisasi kemahasiswaan, dan tertarik dalam bidang penulisan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.