Jumat, Desember 4, 2020

Uang, dari Ilusi Kertas Sampai Peleburan

Indonesia Bubar 2030, Realita, Fiksi, atau Fiktif?

Pidato Prabowo Subianto mengenai Indonesia bubar 2030 memunculkan berbagai argumentasi yang beragam di masyarakat. Indonesia diklaim bubar 2030 ini merujuk pada salah satu novel...

Merefleksikan Inovasi Politik

Urgensi inovasi begitu tinggi, sayangnya tidak semua bentuk-bentuk institusi yang dekat dengan publik cukup sadar dengan ketatnya dunia saat ini. Eksekutif dan Legislatif sering...

Ihwal Jilbab dalam Konteks Kekuasaan Foucault

Jilbab (isme) merupakan salah satu contoh yang dipraktekkan para elite sebagai wacana yang diperebutkan. Jilbab (isme) semakin popular ketika budaya populer juga berkembang dan menjadi trend. Istilah...

2019 Ganti Presiden, Terlalu Ekslusif

Beberapa waktu belakangan ini, terdapat fenomena menarik dalam konstelasi politik di tanah air. Meski pemilihan umum masih cukup lama, yaitu pada April 2019, namun...
Opsar Damodalag
Mahasiswa Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado. Tergabung dalam organisasi kemahasiswaan, dan tertarik dalam bidang penulisan

Uang adalah alat tukar yang digunakan manusia sejak dahulu hingga saat ini, uang memiliki fungsi yang sangat baik apabila digunakan dengan baik, begitu pula sebaliknya, posisi uang pada awalnya adalah netral, ketika manusia menggunakan uang untuk hal yang bermanfaat dari netral bisa berubah menjadi sesuatu yang baik, dan ketika kita menggunakan uang untuk kejahatan maka nilai netral dari uang bisa jadi sebuah kejahatan. Semua itu tergantung kita mengarahkan uang kemana, tetapi pada awalnya uang adalah materi yang baik dan sesuatu yang penitng dalam proses jual beli.

Dari sejarah awalnya, peradaban manusia kuno menukar barang dengan barang (Barter) ini sudah dilakukan sebelum adanya uang, nenek moyang manusia sudah melakukan proses itu dalam dunia perdagangan untuk mendukung kelansungan hidup manusia. Setelah adanya sistem pertukaran barang, dalam perdagangan berubah menjadi nilai tukar emas pada jaman peradaban Yunani dan Romawi, emas yang dihitung nilainya dengan berat dan juga besar dari emas tersebut.

Setelah beberapa tahun berjalan, munculah pemikiran baru untuk merubah alat jual beli, dan uang koin menjadi alat tukar dalam kegiatan jual beli hingga tersebar kebelahan dunia. Karena semakin maju jaman, dan teknologi berkembang pesat, uang koin disulap menjadi uang kertas dan masih terjaga sampai saat ini.

Uang sejak jaman kemunculanya didunia hingga hari ini memang masih terjaga fungsinya, akan tetapi perpolitikan dalam ekonomi semakin tajam dan uang bisa saja menjadi senjata untuk manusia sendiri. Politik uang yang paling fatal adalah ketika nilai rupiah dan dolar tidak sama, negara maju dengan sengaja membuat uang sebagai ilusi nilai tinggi dengan perubahan gambar dan digit angka didalamnya, negara penguasa dunia butuh waktu yang panjang untuk mengilusi kepada manusia bahwa jumlah uang rupiah sebesar 5.000 sama dengan lima lembar uang seribu kertas kan tetapi ukuran dari uang kertas sama saja, ilusi itu dibuat terus menerus hingga manusia lalai didalamnya.

Memang nilai dariuang itu sudah diatur sedemikian rupa untuk kelancaran dari kegiatan jual beli, namun kita harus menyadari bahwa itu adalah sebuah ilusi yang dibuat, yang lebih parah lagi apabila 1 dollar disamakan dengan Rp. 16.000 bahkan lebih, bagi saya ini sebuah kekonyolan dan kita masuk dalam perankap tersebut, karena dengan sistem ini bisa saja negara luar menguras sumber daya alam kita sampai seterusnya dan kemiskinan akan terus berkembang dan meregenerasi, seperti contohnya negara asing bisa membeli bawang mentah di Indonesia dengan jumlah dolar yang sedikit akan tetapi kita membeli barang diluar negeri dengan jumlan rupiah yang sangat banyak.

Ketika sahabat bisa berpikir kritis, pasti akan menolak sistem yang akan menghancurkan Negara kita ini, pasalnya kita bisa saja kaya, namun sistem yang memaksa kita untuk tertunduk miskin bahkan negara tidak punya energi yang besar untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi hingga kini. Dari penjelasan diatas kiranya kita tidak bisa menyalahkan siapa saja, sebab kita hanya terlamun dengan ilusi uang yang dibuat untuk memasukan manusia dalam perangkap didalamnya perlawananpun hanya sebuah dongeng apabila kesetaraan nilai uang masih saja jauh dari pandangan.

Semakin menuju kedunia baru, ilusi uang kertas akan berubah menjadi digit angka dalam dunia digital, perubahan dan kemajuan teknologi sudah semakin jauh berkembang, saat ini tokoh sudah masuk dunia media sosial, ojek sudah memakai sistem online, pesan makanan dengan online, input data pribadi menggunakan mendia elektronik, bahkan sekolah dionlinekan dimasa Pandemi ini.

Secara otomatis kegiatan kita sekarang hanya seputar Smart Phone sebagai media yang menggunakan jaringan internet untuk mengoprasikanya, uang kertas tidak berlaku disini, yang ada hanya top up dengan cara uang kertas dileburkan menggunakan media lain dan nilai tuka sudah berubah menjadi digit angka, itulah sistem baru yang akan diterapkan untuk menghancurkan uang kertas yang menjadi ilusi selama ini.

Bukan ramalan tetapi hanya prediksi saya untuk satu abad kemuka hitungan dari tahun 2020 ini, uang kertas akan segera menjadi sejarah yang bisa diceritakan untuk anak cucu kita, uang kertas akan dileburkan dan dihilangkan, pertukaran barang tinggal menggunakan digit yang bisa saja negara lain merubahnya menjadi lebih tinggi karena mereka pemegang server untuk media internet. Kemajuan media memanglah mempermudah dan mempercepat kerja kita, tetapi juga berbahaya.

Solusi yang mungkin bisa saya simpulkan saat ini adalah tetaplah bijak dalam menanggapi hal baru dan kritis dalam membaca strategi penjajahan gaya baru yang dibuat oleh negara maju sebagai penguasa negara lainya.

Opsar Damodalag
Mahasiswa Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado. Tergabung dalam organisasi kemahasiswaan, dan tertarik dalam bidang penulisan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.