Senin, November 30, 2020

Tunggal Puteri Indonesia Nasibmu Kini

Problematika Independensi Hakim Mahkamah Konstitusi

  Presiden Joko widodo(Jokowi) memberikan penghargaan Bintang Mahaputera kepada 5 hakim Mahkamah Konstitusi.pemberian penghargaan tersebut diberikan di Istana Negara pada,Rabu (11/11/2020) Penghargaan yang diberikan oleh Presiden...

Demo Starter Pack Ala Joker

Pengaruh budaya pop pada aktivis pergerakan memang tak ada habisnya. Kalau dulu di Amerika Serikat poster "Make Love, Not War" dan ngedengerin musik Bob...

Budaya Bersaing dan Zonasi

Saya teringat obrolan dengan seorang bapak di bus yang hendak menuju ke Surabaya. Singkat cerita, si bapak mengaku senang saat ini tinggal di desa....

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu HargaKabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program...
Aditya Mahyudi
Penulis Lepas di berbagai Media dan Alumni Unikom.

Di zaman sekarang ini, para unggulan bulu tangkis khususnya tunggal puteri sudah menyebar ke beberapa negara. Jika dulu tunggal puteri lebih berkiblat pada kawasan Asia Timur dan Asean, kini kehadiran tunggal puteri yang berasal dari negara antah-berantah malah mengubah segalanya sampai-sampai para unggulan merasa was-was atas kehadirannya.

Misalnya saja beberapa negara di Eropa (kecuali Denmark dan Inggris) dan Amerika mulai meramaikan urusan perbulutangkisan dunia dengan cara menerapkan revolusi mental.

Strateginya bermacam-macam dari menaturalisasi atlet sampai mendatangkan pelatih yang sudah lama berkecimpung di bulu tangkis untuk mendongkrak prestasi yang lebih baik.

Walaupun strategi mereka terkesan licik karena mengandalkan kekuatan negara lain, mereka setidaknya belajar dari kesalahan lalu berguru pada atlet-atlet berpengalaman biar semakin kuat di turnamen dan tidak melulu menjadi tim penggembira alias hanya meramaikan turnamen saja dengan hasil ala kadarnya.

Buktinya, pemain tunggal puteri seperti Michelle Li, Zhang Beiwen, sampai Carolina Marin telah mematahkan dominasi Bulutangkis Asia dan menyatakan dirinya sebagai ancaman baru.

Yang lebih mengherankan lagi, mereka sanggup mendongkrak rangking BWF secara tak terduga dan mampu menghentikan tunggal putri yang sudah langganan juara sampai-sampai lawannya dibikin frustasi dan nyaris walk out setelah menyaksikan penampilan ciamiknya.

Maka dari itu, tunggal puteri Indonesia wajib waspada terhadap keberadaan mereka agar tidak tampil keteteran ataupun seloyo-loyonya. Jangan sampai Indonesia sebagai gudangnya perbulutangkis Indonesia malah kalah saing dengan negara-negara non-bulutangkis.

Seperti diketahui, momen Tunggal Putri Indonesia untuk meraih Podium Juara justru sudah jarang terlihat lagi. Jangankan untuk mendapat piala, meraih kemenangan sampai babak Semifinal pun tak sanggup lagi. Sisanya harus menanggung malu yaitu tersingkir dari awal atau angkat koper duluan sebelum bertanding.

Kalaupun ada, hanya tunggal puteri yang bermental juara sajalah dalam memberantas musuh-musuhnya tanpa rasa takut. Sesuai dengan prinsipnya, “work play hard play” yang berarti bermain di pertandingan bukan sekedar mengincar poin kemenangan saja dan harus siap menang ataupun kalah agar mengedepankan rasa sportivitas.

Jauh sebelum tunggal putri dinyatakan gagal, tunggal putri kebanggaan kita di era Susi Susanti justru tampil lebih kuat dan garang dari sekarang. Coba bayangkan saja Mia Audina yang notabene pebulutangkis seusia anak SMP berhasil membuat penonton terpana.

Aksinya di Uber Cup 1994 saat mengandaskan Harapan Zhang Ning yang disebut-sebut sebagai aksi bulutangkis terbaik sepanjang masa versi BWF. Smashnya yang kencang dan mengandalkan lompatan setinggi langit adalah rahasia utama Mia Audina dalam menaklukan musuh-musuhnya tanpa balas.

Di samping itu, kemenangan Mia Audina  telah membantu Indonesia dalam merebut kembali Uber Cup semenjak era 70-an sekaligus membangkitkan Srikandi Indonesia yang sudah lama tertidur panjang.

Tidak berhenti sampai disitu, kehadiran Maria Kristin Yulianti yang secara tak terduga mampu meraih medali Perunggu di era Olimpiade sekaligus medali terakhir bagi Indoneisa di sektor tunggal putri. Lalu ada lagi Lindaweni Fanaetri yang dijuluki sebagai mpunya pebulutangkis putri Indonesia. Prestasinya yang paling dikenang oleh publik adalah ketika mengandaskan ratu bulutangkis dunia yaitu Tai Tzu Ying yang saat itu masih dalam masa percobaan.

Sebenarnya, catatan tunggal putri Indonesia tidaklah buruk-buruk amat. Contohnya saja Fitriani yang telah merengkuh gelar di Thailand Masters 2019 Level 300. Lalu ada lagi Gregoria Mariska Tunjung yang berprestasi di negeri sendiri lewat raihan emas Kejuaraan Dunia Junior 2017.

Meskipun mereka sudah memperbaiki catatan kariernya tetapi kedua prestasi itu hanya gelar hiburan sehingga hanya penampilan konsisten mereka sajalah yang mampu menjawabnya. Mau bagaimana lagi mereka sudah tampil maksimal tapi belum menemukan strategi yang tepat yaitu bangkit dari keterpurukan dalam kondisi tertinggal.

Bayangkan saja gelar tunggal putri Indonesia saja harus menunggu 6 tahun lamanya sedangkan negara lain sudah berbenah hingga ke akar-akarnya. Merekrut Rionny Mainaky saja tidaklah cukup. Harus ada perbaikan lebih mendalam supaya Tunggal Putri Indonesia dapat bersaing di tingkat internasional sekaligus menaikkan peringkatnya hingga meraih puncak.

Jika mau berhasil, stamina dan konsentrasi harus ditingkatkan karena Tunggal Putri Indonesia sering tampil inkonsisten atau naik-turun dalam setiap penampilannya. Lebih baik lagi jika membaca permainan lawan secara saksama biar paham cara mengalahkan pemain unggulan tanpa kesalahan fatal.

Seperti kata Tai Tzu Ying, “Permainan Pemain Tunggal Putri Indonesia itu sebenarnya bagus dalam hal taktik mengecoh lawan. Namun, rasa percaya dirinya mulai down ketika berada dalam posisi unggul dan seakan-akan mereka seperti habis kesabaran. Sebaliknya, mereka justru terburu-buru dalam menyelesaikan pertandingan dengan berbagai kesalahan sehingga mencari celah pun seakan diabaikan padahal momen ini adalah kesempatan emas untuk meraih kemenangan.”

Sesungguhnya momen tunggal puteri kebanggaan Indonesia dalam meraih prestasi hanyalah faktor keberuntungan semata. Kita tidak akan menyaksikan penampilan Susi lagi karena Susi sudah berganti seragam menjadi Pengurus Bulutangkis.

Bagaimana pun caranya, mari kita dukung perjuangan Atlet Tunggal Putri Indonesia biar terus mencetak Prestasi dan kalau bisa membawa Piala Uber atau Piala Sudirman ke Tanah Bumi Pertiwi demi harga diri.

Selain itu, meraih emas Olimpiade adalah kesempatan emas jika Tunggal Putri Indonesia semakin dihargai di negeri sendiri ketimbang meraih pujian saja. Walaupun sudah berlalu, semangat juang ala Susi Susanti tidak akan pernah terlupakan sampai akhir hayat.

Aditya Mahyudi
Penulis Lepas di berbagai Media dan Alumni Unikom.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.