OUR NETWORK

Tumbangnya Politik Emak-Emak di Pilpres 2019

Derajatnya nyaris sama dengan kaum bapak

Emak-emak menjadi idola baru di panggung politik kita dewasa ini. Ia yang selama ini nyaris tidak pernah diperhitungkan dalam konstelasi perpolitikan kita, kini ia cukup menyedot perhatian publik. Ia tidak lagi menjadi makhluk nomer dua dalam konstelasi perpolitikan kita menjelang pilpres 2019 mendatang. Derajatnya nyaris sama dengan kaum bapak. Dan keberadaannya cukup diperhitungkan.

Sandiaga Uno yang mendampingi Prabowo Subianto sebagai cawapres di pilpres 2019 mendatang adalah orang pertama yang merangkul emak-emak. Seuasi mendaftarkan diri bersama Prabowo di gedung KPU, kepada awak media dia mengungkapkan bahwa akan berjuang untuk kebahagiaan emak-emak di seluruh Indonesia. “Saya berjuang bersama Pak Prabowo untuk kebahagiaan emak-emak di seluruh Indonesia,” ungkapnya kepada wartawan.

Di mana ada Sandiaga Uno, di situlah juga ada emak-emak. Emak-emak ini bukan emak-emak biasa, tetapi adalah emak-emak yang siap memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga pada kontestasi pilpres 2019 mendatang. Karena bagi mereka pasangan Prabowo-Sandiaga adalah pasangan yang mengerti akan ihwal dan kebutuhan emak-emak.

Jamak publik kita tahu bahwa ‘the power of emak-emak’ adalah salah satu kekuatan pasangan Prabowo-Sandiaga dalam menghadapi pasangan Jokowi-Makruf. Harus kita akui, bahwa diposisikannya emak-emak di garda terdepan panglima pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga karena pemerintahan Jokowi dinilai tidak berpihak kepada kepentingan emak-emak. Yaitu kebutuhan akan bahan pokok yang murah.

Maka pasangan Prabowo-Sandiaga, dalam konteks ini memposisikan dirinya sebagai ratu adil atau juru selamat (kepentingan) emak-emak. Sebagaimana kita mafhum, suara emak-emak lah yang selama ini lantang menyuarakan ketidakadilan Jokowi dan kecakapan pasangan Prabowo- Sandiaga dalam mengentaskan tingginya harga kebutuhan pokok emak-emak.

#2019GantiPresiden adalah teriakan yang membuat pasangan Jokowi-Makruf sedikit khawatir dan kelimpungan. Semakin keras #2019GantiPresiden diteriakkan, semakin masyhur pulalah kekuatan emak-emak itu ke seantero negeri, dari sudut-sudut kota hingga ke pelosok-pelosok desa. Saat itu saya sempat berpikir bahwa politik emak-emak benar-benar menemukan momentumnya pada kontestasi politik kali ini.

Tetapi sayang, prediksi saya meleset. Apa yang terjadi hari ini tidak seperti yang saya bayangkan beberapa bulan mutakhir. Gara-gara aksi hoaks seorang emak si Ratna Sarumpaet, politik emak-emak berada dalam jurang kehancuran. Di saat publik kita mulai percaya akan propaganda dan ajakan emak-emak untuk ganti presiden, malah kepercayaan itu dirusak oleh aksi nakal si emak Ratna Sarumpaet.

Si emak Ratna Sarumpaet, sebagaimana jamak orang mafhum telah membohongi publik, terlebih di tataran grass root. Wajahnya yang sudah keriput dimakan usia tiba-tiba dioperasi plastik, supaya kelihatan lebih muda dan yang melihatnya sedikit geregetan. Nahas, bukan cantik yang ia dapatkan, tetapi bonyok. Bekas operasi semakin membuat wajahnya menua tak karuan.

Singkatnya, si emak Ratna kemudian mengaku habis dipukulin orang tak dikenal sehingga wajahnya bonyok. Lantas cerita ini membuat Prabowo dkk percaya dan melakukan jumpa pers atas cerita itu. Dan publik kita ramai membincangkannya. Otomatis ia menjadi tranding topik.

Setelah beberapa hari, publik kita kemudian dibuat kaget oleh pernyataanya yang tiba-tiba mengakui bahwa apa yang dia ceritakan adalah cerita bohong dan meneyebut dirinya sebagai ‘Ratu Hoaks’.

Peristiwa ini tidak hanya melukai Prabowo dkk dan pengagum emak-emak, tetapi juga yang lebih hakiki ia telah melukai rasa kemanusiaan dan moralitas yang bangsa. Dia telah membohongi rakyat, rakyat yang selama ini ia sebut-sebut sebagai rujukan perjuangannya. Sungguh, dia adalah bagian dari emak-emak yang nakal, emak-emak yang tega membuat hati orang-orang yang mencintainya tersayat.

Tentu kenakalan si emak Ratna Sarumpaet ini berimplikasi negatif terhadap politik emak-emak yang selama ini begitu dibangga-banggakan pasangan Prabowo-Sandiaga untuk meningkatkan elektabiltas dan memaksimalkan perolehan suara pada pilpres mendatang. Implikasi negatif itu berupa runtuhnya politik emak-emak dalam kontestasi pilpres kali ini.

Runtunya politik emak-emak menjadi insiden buruk bagi elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga dan akan cukup menyulitkan pasangan penantang ini dalam merebut hati dan suara para pemilih. Karena kredibelitas emak-emak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan omongannya tidak  bisa kita pegang.

Saya sendiri trauma dengan emak-emak karena bagi saya dibohongi emak-emak itu lebih menyakitkan daripada ditinggal kawin sang pacar.

Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia Wilayah Sumenep, Madura.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…