Jumat, Januari 22, 2021

Tukang Ojek Online: Dari Hak Ekonomi Hingga Martabat

Di Balik Bebasnya Abu Bakar Ba’asyir, Kemanusiaan atau Strategi?

Masyarakat kita mungkin saja masih larut dalam euforia dan riuh-riuh debat pilpres beberapa waktu yang lalu, terutama sekali kalangan netizen maha benar yang jarinya...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Kehidupan yang Genit cum Semholai

Dangdut sempat dan masih lekat dengan lema seputar biduan seksi, goyangan seronok, musik kampungan, minuman keras, dan lema-lema picisan lain. Kendatipun begitu, dangdut kian...

KPK: Dari Cicak Versus Buaya Sampai E-KTP

“Korupsi adalah kejahatan luar biasa yang telah merampas hak asasi rakyat Indonesia dan merendahkan martabat bangsa; KPK merupakan harapan utama rakyat untuk memberantas korupsi;...
Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id

Era internet indentik dengan generasi millenial karena kehidupan generasi ini  tak bisa lepas dari dunia digital atau online. Pada jaman digital ini pula trik-trik kampanye menjelang pilpres 2019 menjadi instrumen dalam meraup dukungan bahkan bisa jadi bumerang bagi masing-masing paslon.

Hal ini dialami oleh Pak Prabowo, beliau bisa dikatakan “apes” karena maksud hati ingin membela yang lemah justru mendapat hujatan. Berawal dari keprihatinan beliau pada meme topi orang yang berpendidikan dari SD hingga SMA kemudian setelah lulus hanya menjadi tukang ojek adalah memprihatinkan.

Semakin seru pula ketika ketua GARDA menyatakan bahwa pak prabowo telah menyinggung profesi mereka. Tukang ojek adalah profesi murahan atau bisa dikatakan rendahan. Justru menurut ketua asosiasi tersebut profesi tukang ojek adalah profesi yang halal dan mulia dari pada mereka yang korupsi.

Nah, untuk pihak yang satu ini lebih diuntungkan karena bisa bersembunyi dibalik realita untuk membentuk opini siapa lagi kalau bukan timses Jokowi. Menurut Whisnu Sakti (PDIP), tidak seharusnya seorang pemimpin seperti pak prabowo merendahkan martabat rakyatnya sedangkan kata Irma Suryani (Nasdem) pekerjaan ojek adalah pekerjaan halal dan mulia.

Meskipun mereka beradu argumen, tetap saja pihak yang dirugikan yaitu tukang ojek itu sendiri. fenomena maraknya profesi ojek online baik Goj*k maupun Gr*b adalah pilihan masyarakat untuk menetukan hak ekonominya terlebih sekarang musimnya media online sehingga para individu dituntut peka terhadap realitas ini, yang penting kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi dan halal plus tidak mencuri uang rakyat.

Apabila dicermati sesungguhnya profesi ojek online tidak beda jauh dengan ojek konvensional hanya saja cara pemesanan lebih cepat dan tepat karena melalui aplikasi berbasis online. Dapat dikatakan profesi tukang ojek masa lalu dikemas lebih efektif dan efisien di era internet saat ini. Cuma yang menjadi permasalahannya, apakah profesi tukang ojek mampu mensejahterakan keluarga si tukang ojek?

Merujuk pendapat ketua GARDA, profesi tukang ojek masih memiliki upah yang rendah sehingga semua kalangan nyaris merendahkan profesi ini. Lantas yang perlu dipikirkan lebih jauh lagi adalah sejauh mana negara memberikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi bagi mereka yang telah mengenyam jenjang pendidikan tertentu terhadap kebutuhan pekerjaan tertentu pula.

Sebagai contoh lulusan sarjana guru sangatlah banyak namun kurang terserap di pasar kerja. Dan stigma yang berkembang yang dimasyarakat adalah lulusan guru kok berdagang, lulusan guru kok menganggur dan seterusnya.

Jika benar demikian, maka pekerjaan yang bermartabat dalam konteks saat ini adalah motif pemenuhan ekonomi. Inilah fenomena yang terjadi pada tukang ojek, tidak ojek online tidak juga ojek konvensional, sekali ojek tetap ojek. Kemungkinan lulusan sekaliber sarjana pun bisa menjadi tukang ojek jika lapangan kerja tidak mampu menyerap kompetensi mereka.

Maka dari itu,  pekerjaan yang bermartabat tidak melulu soal jumlah pendapatan, kekayaan dan persoalan materialistis semata. Rakyat hidup di bumi pertiwi harus mendapatkan kelayakan dalam aksesbilitas pelayanan publik dan tidak mendiskriminasi. Era modern ini telah mengubah struktur padat karya ke padat modal ala industri yang menjadikan rakyat sebagai buruh di negeri sendiri.

Bukan kah profesi tukang ojek online adalah buruh perusahaan aplikasi? sejumlah pengamat menilai Goj*k maupun Gr*b merupakan perusahaan aplikasi transportasi yang izin operasionalnya sulit diatur. Oleh karena itu, semestinya tukang ojek berbasis online tersebut mendapat pelayanan yang layak paling tidak mendapat asuransi keselamatan dan kesehatan oleh perusahaan penyedia. Sehingga mereka yang bekerja bisa dikatakan bermartabat dan mendapat perlindungan dari negara maupun perusahaan.

Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.