Kamis, November 26, 2020

Tukang Ojek Online: Dari Hak Ekonomi Hingga Martabat

Alam Semesta: Diciptakan atau Selalu Ada?

Andai Aristoteles, Al Ghazali, Ibn Rusyd, Immanuel Kant, Einstein dan Hawking sedang ngopi di alam sana, apa kiranya yang akan mereka bincangkan? Saya kira...

Tuhan, Nunung, dan Narkoba

Komedian Nunung atau pemilik nama asli Tri Retno Prayudati baru saja tertangkap basah tengah mengonsumsi shabu di kediamananya pada Jumat (19/7) kemarin. Tertangkapnya Nunung menambah...

Partai Cyber dan Fenomena Berpolitik

Penggunaan internet yang dimulai sejak era 1990-an menandakan berakhirnya mobilisasi tradisional. Seluruh perangkat keras tak lagi memberikan efek dominan terhadap perubahan cara pandang politik....

Relasi Dinamik Islam dan Adat

Relasi antara adat (tradisi) dan Islam pada masyarakat Melayu-Indonesia, khususnya Minangkabau adalah dinamik. Awalnya, pemahaman tentang relasi dua sistem norma tersebut dijelaskan dalam konsep...
Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id

Era internet indentik dengan generasi millenial karena kehidupan generasi ini  tak bisa lepas dari dunia digital atau online. Pada jaman digital ini pula trik-trik kampanye menjelang pilpres 2019 menjadi instrumen dalam meraup dukungan bahkan bisa jadi bumerang bagi masing-masing paslon.

Hal ini dialami oleh Pak Prabowo, beliau bisa dikatakan “apes” karena maksud hati ingin membela yang lemah justru mendapat hujatan. Berawal dari keprihatinan beliau pada meme topi orang yang berpendidikan dari SD hingga SMA kemudian setelah lulus hanya menjadi tukang ojek adalah memprihatinkan.

Semakin seru pula ketika ketua GARDA menyatakan bahwa pak prabowo telah menyinggung profesi mereka. Tukang ojek adalah profesi murahan atau bisa dikatakan rendahan. Justru menurut ketua asosiasi tersebut profesi tukang ojek adalah profesi yang halal dan mulia dari pada mereka yang korupsi.

Nah, untuk pihak yang satu ini lebih diuntungkan karena bisa bersembunyi dibalik realita untuk membentuk opini siapa lagi kalau bukan timses Jokowi. Menurut Whisnu Sakti (PDIP), tidak seharusnya seorang pemimpin seperti pak prabowo merendahkan martabat rakyatnya sedangkan kata Irma Suryani (Nasdem) pekerjaan ojek adalah pekerjaan halal dan mulia.

Meskipun mereka beradu argumen, tetap saja pihak yang dirugikan yaitu tukang ojek itu sendiri. fenomena maraknya profesi ojek online baik Goj*k maupun Gr*b adalah pilihan masyarakat untuk menetukan hak ekonominya terlebih sekarang musimnya media online sehingga para individu dituntut peka terhadap realitas ini, yang penting kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi dan halal plus tidak mencuri uang rakyat.

Apabila dicermati sesungguhnya profesi ojek online tidak beda jauh dengan ojek konvensional hanya saja cara pemesanan lebih cepat dan tepat karena melalui aplikasi berbasis online. Dapat dikatakan profesi tukang ojek masa lalu dikemas lebih efektif dan efisien di era internet saat ini. Cuma yang menjadi permasalahannya, apakah profesi tukang ojek mampu mensejahterakan keluarga si tukang ojek?

Merujuk pendapat ketua GARDA, profesi tukang ojek masih memiliki upah yang rendah sehingga semua kalangan nyaris merendahkan profesi ini. Lantas yang perlu dipikirkan lebih jauh lagi adalah sejauh mana negara memberikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi bagi mereka yang telah mengenyam jenjang pendidikan tertentu terhadap kebutuhan pekerjaan tertentu pula.

Sebagai contoh lulusan sarjana guru sangatlah banyak namun kurang terserap di pasar kerja. Dan stigma yang berkembang yang dimasyarakat adalah lulusan guru kok berdagang, lulusan guru kok menganggur dan seterusnya.

Jika benar demikian, maka pekerjaan yang bermartabat dalam konteks saat ini adalah motif pemenuhan ekonomi. Inilah fenomena yang terjadi pada tukang ojek, tidak ojek online tidak juga ojek konvensional, sekali ojek tetap ojek. Kemungkinan lulusan sekaliber sarjana pun bisa menjadi tukang ojek jika lapangan kerja tidak mampu menyerap kompetensi mereka.

Maka dari itu,  pekerjaan yang bermartabat tidak melulu soal jumlah pendapatan, kekayaan dan persoalan materialistis semata. Rakyat hidup di bumi pertiwi harus mendapatkan kelayakan dalam aksesbilitas pelayanan publik dan tidak mendiskriminasi. Era modern ini telah mengubah struktur padat karya ke padat modal ala industri yang menjadikan rakyat sebagai buruh di negeri sendiri.

Bukan kah profesi tukang ojek online adalah buruh perusahaan aplikasi? sejumlah pengamat menilai Goj*k maupun Gr*b merupakan perusahaan aplikasi transportasi yang izin operasionalnya sulit diatur. Oleh karena itu, semestinya tukang ojek berbasis online tersebut mendapat pelayanan yang layak paling tidak mendapat asuransi keselamatan dan kesehatan oleh perusahaan penyedia. Sehingga mereka yang bekerja bisa dikatakan bermartabat dan mendapat perlindungan dari negara maupun perusahaan.

Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.