Minggu, Februari 28, 2021

Tukang Ojek Online: Dari Hak Ekonomi Hingga Martabat

Rindu Rubrik Anak

Bis Sekolah yang ku tunggu ku tunggu  Tiada yang datang Ku telah lelah berdiri berdiri Menanti-nanti Sepenggal lirik lagu anak berjudul Bis Sekolah nampaknya sedikit mampu mengilustrasikan rasa...

Biden dan Imigrasi Mahasiswa Internasional

Saat ini, pendaftaran mahasiswa di perguruan tinggi AS telah anjlok dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar akibat retorika dan kebijakan pemerintahan Trump. Kebijakan imigrasi administrasi...

Tafsir Fenomena Hoax di Nusantara

Terhitung sudah dua bulan lebih sejak hijrah dari Makassar ke Kediri dengan berbagai kesibukan baru yang saya lakoni sekarang, justru malah menjadikan saya ketinggalan...

Menitipkan NKRI Kepada Santri

MENITIPKAN NKRI KEPADA SANTRIOleh: Rosidi Bahri, Santri Asli SumenepKunjungan Presiden Joko Widodo ke berbagai Pondok Pesantren di Indonesia yang dikemas dengan beragam acara, membuktikan...
Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id

Era internet indentik dengan generasi millenial karena kehidupan generasi ini  tak bisa lepas dari dunia digital atau online. Pada jaman digital ini pula trik-trik kampanye menjelang pilpres 2019 menjadi instrumen dalam meraup dukungan bahkan bisa jadi bumerang bagi masing-masing paslon.

Hal ini dialami oleh Pak Prabowo, beliau bisa dikatakan “apes” karena maksud hati ingin membela yang lemah justru mendapat hujatan. Berawal dari keprihatinan beliau pada meme topi orang yang berpendidikan dari SD hingga SMA kemudian setelah lulus hanya menjadi tukang ojek adalah memprihatinkan.

Semakin seru pula ketika ketua GARDA menyatakan bahwa pak prabowo telah menyinggung profesi mereka. Tukang ojek adalah profesi murahan atau bisa dikatakan rendahan. Justru menurut ketua asosiasi tersebut profesi tukang ojek adalah profesi yang halal dan mulia dari pada mereka yang korupsi.

Nah, untuk pihak yang satu ini lebih diuntungkan karena bisa bersembunyi dibalik realita untuk membentuk opini siapa lagi kalau bukan timses Jokowi. Menurut Whisnu Sakti (PDIP), tidak seharusnya seorang pemimpin seperti pak prabowo merendahkan martabat rakyatnya sedangkan kata Irma Suryani (Nasdem) pekerjaan ojek adalah pekerjaan halal dan mulia.

Meskipun mereka beradu argumen, tetap saja pihak yang dirugikan yaitu tukang ojek itu sendiri. fenomena maraknya profesi ojek online baik Goj*k maupun Gr*b adalah pilihan masyarakat untuk menetukan hak ekonominya terlebih sekarang musimnya media online sehingga para individu dituntut peka terhadap realitas ini, yang penting kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi dan halal plus tidak mencuri uang rakyat.

Apabila dicermati sesungguhnya profesi ojek online tidak beda jauh dengan ojek konvensional hanya saja cara pemesanan lebih cepat dan tepat karena melalui aplikasi berbasis online. Dapat dikatakan profesi tukang ojek masa lalu dikemas lebih efektif dan efisien di era internet saat ini. Cuma yang menjadi permasalahannya, apakah profesi tukang ojek mampu mensejahterakan keluarga si tukang ojek?

Merujuk pendapat ketua GARDA, profesi tukang ojek masih memiliki upah yang rendah sehingga semua kalangan nyaris merendahkan profesi ini. Lantas yang perlu dipikirkan lebih jauh lagi adalah sejauh mana negara memberikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi bagi mereka yang telah mengenyam jenjang pendidikan tertentu terhadap kebutuhan pekerjaan tertentu pula.

Sebagai contoh lulusan sarjana guru sangatlah banyak namun kurang terserap di pasar kerja. Dan stigma yang berkembang yang dimasyarakat adalah lulusan guru kok berdagang, lulusan guru kok menganggur dan seterusnya.

Jika benar demikian, maka pekerjaan yang bermartabat dalam konteks saat ini adalah motif pemenuhan ekonomi. Inilah fenomena yang terjadi pada tukang ojek, tidak ojek online tidak juga ojek konvensional, sekali ojek tetap ojek. Kemungkinan lulusan sekaliber sarjana pun bisa menjadi tukang ojek jika lapangan kerja tidak mampu menyerap kompetensi mereka.

Maka dari itu,  pekerjaan yang bermartabat tidak melulu soal jumlah pendapatan, kekayaan dan persoalan materialistis semata. Rakyat hidup di bumi pertiwi harus mendapatkan kelayakan dalam aksesbilitas pelayanan publik dan tidak mendiskriminasi. Era modern ini telah mengubah struktur padat karya ke padat modal ala industri yang menjadikan rakyat sebagai buruh di negeri sendiri.

Bukan kah profesi tukang ojek online adalah buruh perusahaan aplikasi? sejumlah pengamat menilai Goj*k maupun Gr*b merupakan perusahaan aplikasi transportasi yang izin operasionalnya sulit diatur. Oleh karena itu, semestinya tukang ojek berbasis online tersebut mendapat pelayanan yang layak paling tidak mendapat asuransi keselamatan dan kesehatan oleh perusahaan penyedia. Sehingga mereka yang bekerja bisa dikatakan bermartabat dan mendapat perlindungan dari negara maupun perusahaan.

Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.