Minggu, Februari 28, 2021

Tuhan, Nunung, dan Narkoba

Resep Beragama Di Era Hoax 

Modernitas dan Teknologi Teknologi, sebagai dampak bawaan dari modernitas, bak sebuah pisau yang memiliki dua sisi bertolak belakang. Satu sisi bisa sebagai alat yang sangat...

Mengintip Tingkah Generasi Milenialls di Film My Generation

Tak salah bila menyebut masa remaja menjadi saat menyenangkan dalam hidup. Bila dirunut, sejak tayang Ada Apa dengan Cinta pada 2002 film yang mengangkat...

Diskusi Perihal Haramnya Poligami

Beberapa hari yang lalu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui Ketua Umumnya, Grace Natalie, melemparkan wacana penolakan terhadap poligami. Sontak sikap kontroversial ini viral di...

Generasi Milenial Menghadapi Era Distruptif

Generasi Milenial yang saat ini diketahui sedang sibuk berburu mencari lowongan pekerjaan yang tidak kunjung menghampiri dan adapun yang sibuk membangun bisnis karena sadar...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Komedian Nunung atau pemilik nama asli Tri Retno Prayudati baru saja tertangkap basah tengah mengonsumsi shabu di kediamananya pada Jumat (19/7) kemarin.

Tertangkapnya Nunung menambah panjang daftar pelawak senior Srimulat yang tersandung kasus narkoba. Sebelumnya, Gogon, Polo, Doyok, dan Tessy sudah terlebih dahulu terjerumus menggunakan barang haram tersebut.

Sejatinya kasus narkoba yang menjerat kalangan artis bukan hal yang baru. Sudah banyak artis yang pada akhirnya hancur karirnya lantaran mengonsumi barang yang konon katanya mampu menambah stamina serta gairah bekerja tersebut.

Meskipun demikian, fakta tersebut nyatanya tidak menjadi pelajaran bagi artis lainnya sehingga kasus-kasus narkoba yang menjerat para public figur itu terus terjadi secara silih berganti.

Bagi masyarakat umum, berita tentang artis yang tertangkap mengonsumi narkoba bukan lagi menjadi hal yang mengagetkan. Jika dahulu hanya kalangan artis dengan penampilan rocker nan garang yang identik dengan narkoba, saat ini artis-artis yang terlihat lugu, tampan, cantik serta menawan pun juga menggunakannya. Pergerseran itu tidak lepas dari kehidupan artis yang glamor, gemerlap serta gaya hidup mereka yang hedonis.

Bagi mereka, narkoba dianggap mampu meningkatkan stamina serta gairah dalam menjalani aktifitas yang padat. Alasan tersebut patut dipertanyakan mengingat saat ini pengetahuan tentang dampak buruk narkoba sudah menyebar luas dan menjadi hal umum yang hampir semua orang tahu.

Jika mau jujur, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan artis terjerat narkoba. Selain gaya hidup, lemahnya moral, keimanan serta faktor lingkungan menjadi penyebab utamanya.

Patut disadari bahwa artis akan sangat erat dengan bergelimpangnya harta. Bayaran yang tinggi membuat para artis dianugerahi harta berlimpah dan oleh sebab itu pula bagi para produsen serta pengedar para artis menjadi sasaran empuk untuk dijadikan konsumen.

Layaknya seorang penjual tentu akan berlomba untuk mendapatkan konsumen yang potensial. Barangkali awalnya para produsen serta pengedar memberikan sample gratis tentu juga dengan menjanjikan berbagai manfaat semu dari narkoba.

Secara psikologis sensasi yang dirasakan saat awal-awal memakai narkoba akan membuat pemakainya menjadi kecanduan. Pada titik inilah biasanya artis yang sudah kecanduan akan makin ter­gan­tung dan berpotensi berubah dari pemakai.

Harus Lekas Diatasi

Memutus mata rantai peredaran narkoba terutama di kalangan artis yang notabene sebagai publik figur harus lekas dilaksanakan. Pemerintah sebagai pemegang kuasa sudah saatnya bertindak tegas.

Secara sederhana, memberantas  narkoba sebenarnya mudah yaitu dengan cara memutus mata rantai pemasoknya. Dengan berbagai undang-undang serta aparat penegak hukum yang ada, mencari pemasok tentu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya saja apakah saat ini pemerintah sudah benar-benar berupaya secara maksimal melakukannya? Apakah pemerintah sudah didukung dengan pendanaan serta sumber daya manusia yang baik?

Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba di Indonesia masih berjalan di tempat. Sudah banyak para pemakai serta pengedar yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara namun tidak sampai kepada pemasok serta bandanrnya. Hal yang lebih memilukan adalah bahwa dalam beberapa kasus terungkap aparat penegak hukum justru ikut andil di dalamnya.

Beberapa kurun waktu terakhir, seringkali kita disuguhkan dengan pemberitaan terkait oknum petugas penjara yang ikut andil dalam peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan. Tidak sedikit pula pemberitaan terkait para pengedar narkoba yang masih bisa menjalankan bisnisnya di balik jeruji besi. Penegakan hukum yang demikian tentu tidak akan mampu untuk memutus mata rantai peredaran narkoba.

Hal tersebut tentu seharusnya menjadi fokus pemerintah jika memang dengan serius ingin memutus peredaran narkoba. Khusus di kalangan para artis, peran serta sesama artis juga harus dimunculkan yaitu dengan berinisiatif untuk ikut terlibat memantau dan me­la­ku­kan pengawasan terhadap ke­mungkinan anggotanya ter­je­rumus menjadi pecandu nar­ko­ba.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah dengan adanya kesadaran diri betapa pentingnya keimanan serta peran agama untuk membengi diri. Seperti kata pengamat politik dan pertahanan, Salim Said, Negeri ini tidak maju karena Tuhan tidak ditakuti. Tantangan kita adalah bagaimana Tuhan ditakuti.”

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.