Kamis, November 26, 2020

Tuhan, Nunung, dan Narkoba

Tentang Penghapusan PR dari Sekolah

“If there was one life skill everyone on the planet needed, it was the ability to think with critical objectivity”. – Josh Layon Belakangan khalayak...

Memanusiakan Manusia dengan Cara Jawa

Salah satu etika Jawa adalah keselarasan antara manusia. Berangkat dari pendapat tersebut, bisa dikatakan bahwa etika Jawa sangat merefleksikan tentang hubungan kosmis, yaitu antara...

Rentannya Masyarakat Adat terhadap Gizi Buruk

Dadaku terasa sesak ketika membaca halaman depan Harian Kompas hari itu, 13 Januari 2018. Gambar seorang anak terpampang lebar di halaman depan, kurus dan...

Post NU-Muhammadiyah

Kita umat muslim seluruh dunia sedang menyambut dengan bahagia atas hari kelahiran nabi SAW, yang kita peringati setiap tanggal 12 rabiul awal. Baik itu...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Komedian Nunung atau pemilik nama asli Tri Retno Prayudati baru saja tertangkap basah tengah mengonsumsi shabu di kediamananya pada Jumat (19/7) kemarin.

Tertangkapnya Nunung menambah panjang daftar pelawak senior Srimulat yang tersandung kasus narkoba. Sebelumnya, Gogon, Polo, Doyok, dan Tessy sudah terlebih dahulu terjerumus menggunakan barang haram tersebut.

Sejatinya kasus narkoba yang menjerat kalangan artis bukan hal yang baru. Sudah banyak artis yang pada akhirnya hancur karirnya lantaran mengonsumi barang yang konon katanya mampu menambah stamina serta gairah bekerja tersebut.

Meskipun demikian, fakta tersebut nyatanya tidak menjadi pelajaran bagi artis lainnya sehingga kasus-kasus narkoba yang menjerat para public figur itu terus terjadi secara silih berganti.

Bagi masyarakat umum, berita tentang artis yang tertangkap mengonsumi narkoba bukan lagi menjadi hal yang mengagetkan. Jika dahulu hanya kalangan artis dengan penampilan rocker nan garang yang identik dengan narkoba, saat ini artis-artis yang terlihat lugu, tampan, cantik serta menawan pun juga menggunakannya. Pergerseran itu tidak lepas dari kehidupan artis yang glamor, gemerlap serta gaya hidup mereka yang hedonis.

Bagi mereka, narkoba dianggap mampu meningkatkan stamina serta gairah dalam menjalani aktifitas yang padat. Alasan tersebut patut dipertanyakan mengingat saat ini pengetahuan tentang dampak buruk narkoba sudah menyebar luas dan menjadi hal umum yang hampir semua orang tahu.

Jika mau jujur, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan artis terjerat narkoba. Selain gaya hidup, lemahnya moral, keimanan serta faktor lingkungan menjadi penyebab utamanya.

Patut disadari bahwa artis akan sangat erat dengan bergelimpangnya harta. Bayaran yang tinggi membuat para artis dianugerahi harta berlimpah dan oleh sebab itu pula bagi para produsen serta pengedar para artis menjadi sasaran empuk untuk dijadikan konsumen.

Layaknya seorang penjual tentu akan berlomba untuk mendapatkan konsumen yang potensial. Barangkali awalnya para produsen serta pengedar memberikan sample gratis tentu juga dengan menjanjikan berbagai manfaat semu dari narkoba.

Secara psikologis sensasi yang dirasakan saat awal-awal memakai narkoba akan membuat pemakainya menjadi kecanduan. Pada titik inilah biasanya artis yang sudah kecanduan akan makin ter­gan­tung dan berpotensi berubah dari pemakai.

Harus Lekas Diatasi

Memutus mata rantai peredaran narkoba terutama di kalangan artis yang notabene sebagai publik figur harus lekas dilaksanakan. Pemerintah sebagai pemegang kuasa sudah saatnya bertindak tegas.

Secara sederhana, memberantas  narkoba sebenarnya mudah yaitu dengan cara memutus mata rantai pemasoknya. Dengan berbagai undang-undang serta aparat penegak hukum yang ada, mencari pemasok tentu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya saja apakah saat ini pemerintah sudah benar-benar berupaya secara maksimal melakukannya? Apakah pemerintah sudah didukung dengan pendanaan serta sumber daya manusia yang baik?

Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba di Indonesia masih berjalan di tempat. Sudah banyak para pemakai serta pengedar yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara namun tidak sampai kepada pemasok serta bandanrnya. Hal yang lebih memilukan adalah bahwa dalam beberapa kasus terungkap aparat penegak hukum justru ikut andil di dalamnya.

Beberapa kurun waktu terakhir, seringkali kita disuguhkan dengan pemberitaan terkait oknum petugas penjara yang ikut andil dalam peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan. Tidak sedikit pula pemberitaan terkait para pengedar narkoba yang masih bisa menjalankan bisnisnya di balik jeruji besi. Penegakan hukum yang demikian tentu tidak akan mampu untuk memutus mata rantai peredaran narkoba.

Hal tersebut tentu seharusnya menjadi fokus pemerintah jika memang dengan serius ingin memutus peredaran narkoba. Khusus di kalangan para artis, peran serta sesama artis juga harus dimunculkan yaitu dengan berinisiatif untuk ikut terlibat memantau dan me­la­ku­kan pengawasan terhadap ke­mungkinan anggotanya ter­je­rumus menjadi pecandu nar­ko­ba.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah dengan adanya kesadaran diri betapa pentingnya keimanan serta peran agama untuk membengi diri. Seperti kata pengamat politik dan pertahanan, Salim Said, Negeri ini tidak maju karena Tuhan tidak ditakuti. Tantangan kita adalah bagaimana Tuhan ditakuti.”

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.