OUR NETWORK

Tuhan, Cinta, dan Rumi

Penciptaan Nabi Adam dan Hawa tidak lepas dari cinta

Cinta adalah bagian dari fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Dengan cinta, kehidupan manusia dimulai. Misalkan saja dalam agama Islam di mana manusia pertama yang diciptakan adalah Nabi Adam AS yang selanjutnya dari tulang rusuknya terciptalah Hawa. Filosofi tulang rusuk ini pula yang selama ini menjadi sebuah majas untuk memperumpamakan ikatan cinta antara sepasang suami istri.

Penciptaan Nabi Adam dan Hawa tidak lepas dari cinta, di mana kala itu Nabi Adam merasa kesepian di dalam Surga hingga pada akhirnya Allah menciptakan Hawa. Kedatangan Hawa mengusir kesepian serta memberikan ketentraman kepada kehidupan Nabi Adam. Ketika keduanya diturunkan ke bumi, cinta dalam diri mereka membuat keduanya saling memikirkan, saling mencari hingga akhirnya bertemu. Itulah kisah cinta pertama oleh manusia pertama yang diciptakan Allah SWT.

Berbicara cinta, saya teringat kepada salah satu tokoh sufi yang namanya tentu tidak asing lagi bagi para penikmat sastra. Dia adalah Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi yang karya-karyannya tidak bisa lepas dari kecintaan kepada Tuhan. Jika di awala sudah saya kisahkan cinta antara manusia dengan manusia, maka cinta Rumi ini jauh berbeda. Bait-bait cinta dalam puisi Rumi ditujukan kepada Allah SWT, Sang Maha Cinta.

Dalam sebuah puisi  Rumi menuliskan:

Karena cinta pahit berubah menjadi manis, karena cinta tembaga berubah menjadi emas

Karena cinta ampas berubah menjadi sari, karena cinta pedih menjadi obat

Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan, karena cinta raja berubah menjadi hamba

Dalam puisi itu, Rumi ingin mengatakan bahwa dengan cinta, segalanya menjadi sesuatu yang indah. Keindahan itu akan terus datang dan dirasakan serta memberikan kebahagiaan yang tiada tara. Bagi Rumi, cinta adalah hal yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Dari situ pula Rumi memiliki anggapan bahwa cinta adalah penggerak kehidupan alam semeseta ini. Dengan kata lain, cinta adalah segala-galanya.

Dalam sebuah kajian yang pernah saya ikuti, dijelaskan bahwa Rumi membagi cinta manusia dalah tiga tahapan. Tahapan pertama adalah ketika manusia cinta kepada harta, benda, kepada suami atau istrinya, anak-anaknya dan lain sebagainya, yang berorientasi kepada dunia, adalah cinta yang dilandasi oleh nafsu belaka. Sebagaimana kita tahu bahwa nafsu akan cenderung menjerumuskan manusia kepada keburukan. Cinta seperti itu dikatakan oleh Rumi sebagai cinta tahapan pertama.

Tahap kedua adalah cinta yang didasari kekaguman manusia kepada Tuhan. Kekaguman itu melahirkan pemujaan melalui berbagai bentuk peribadahan yang manusia lakukan. Kecintaan Sementara itu, tahap ketiga adalah cinta mistis yang berarti bahwa seseorang tak pernah mengatakan bahwa ia memuja Tuhan atau tidak, sebab pemujaan terhadap Tuhan adalah sebuah hal yang bersifat intim.

Pada tahap ketiga inilah muncul hal yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan, yaitu kemenyatuan manusia dengan Tuhan (Wahdatul Wujud). Dalam artian tak ada wujud hakiki kecuali Tuhan. Manusia itu tiada dan Tuhan adalah segala-galanya.

Kefanaan akan membawa manusia kepada yang Satu. Konon katanya, Wahdatul Wujud inilah yang membuat Al-Halaj dan Syekh Siti Jenar dianggap sesat. Banyak yang menafsirakan kemenyatuan manusia dengan Tuhan sebagai bentuk bersatunya wujud Tuhan dalam diri manusia sehingga muncul frasa “keakuan” yang secara implisit diartikan bahwa “Aku adalah Tuhan”.

Rasanya “keakuan” seperti itulah yang dianggap sebagai kesesatan. Terlepas dari hal tersebut, saya pribadi mengartikan “keakuan” sebagai bentuk kefanaan manusia di hadapan Tuhan. Bahwa aku adalah bukan apa-apa dan segala yang ada padaku adalah milik Tuhan. Sebagaimana dalam sebuah puisi Rumi berikut ini:

“Enam puluh tahun kuterus lalai setiap menit, tapi tak sedetikpun aliran yang datang kepadaku berhenti atau melambat”

Rahmat Tuhan tak akan pernah putus kepada manusia, tiada peduli manusia itu lalai atau tidak. Apakah dia beriman atau tidak, Tuhan akan memberikan cintanya kepada manusia yang sedang menjalani kehidupan di dunia melalui berbagai pemberian-Nya. Setiap detik, Tuhan akan selalu memberi tanpa pernah meminta. Itulah yang disebut sebagai Ar-Rahman. Begitulah kiranya saya memaknakan keakuan; segalanya bersumber dari yang Satu.

Kecintaan Tuhan kepada manusia akan tetap berlanjut ketika manusia telah menemui ajalnya dan dibangkitkan kembali di akhirat. Cinta Tuhan kepada manusia di akhirat berupa pengampunan terhadap manusia yang beriman serta bertakwa kepada-Nya selama menjalani hidup di dunia. Itulah yang disebut sebagai Ar-Rahim.

Kematian adalah pertemuan manusia dengan Tuhan sebagai kekasih sejatinya. Kematian bukan sebagai akhir dari perjalanan cinta. Justru ia adalah pintu gerbang menuju cinta yang sesungguhnya.

Bukankah Ibrahim pernah bertanya kepada Izrail: “Mungkinkah Sang Khaliq matikan kekasih-Nya?” Jawab-Nya: “Apakah Kekasih tak mau jumpa kekasihnya?”

Dari berbagai penjelasan di atas, sejatinya saya hanya ingin mengatakan bahwa memahami cinta bukanlah perkara yang mudah lagi singkat. Cinta adalah api yang berkobar, yang bisa melalap segalanya. Cinta adalah cahaya yang menjadi suluh dalam kegelapan.

Cinta adalah air, yang memberikan kehidupan. Cinta adalah segalanya. Memahami cinta hanya sebatas pada kecintaan manusia kepada manusia, atau dari kisah percintaan antara lelaki dan perempuan, hanya akan membuat seseorang mendapatkan pemahaman cinta yang sangat dangkal. Cinta seperti itu hanyalah cinta yang lahir dari nafsu belaka.

Benar kata Rumi bahwa kekuatan cinta adalah sesuatu yang mistis. Cinta bisa diartikan apa saja, namun cinta tidak akan bisa diartikan oleh akal manusia yang serbat terbatas. Jika semua hal itu saya tarik kembali kepada makna agama Islam, maka bisa ditemukan sebuah keterikatan bahwa Islam berarti berserah diri.

Islam adalah jawaban dari ketidakberdayaan akal manusia untuk menjangkau segala hal. Dengan begitu, jika kita ingin benar-benar merasakan keindahan cinta sebagaimana apa yang dirasakan oleh Rumi dan para sufi lainnya, menurut saya kata kuncinya adalah berserah diri.

Sumber bacaan:

Mulyadhi Kartanegara, Jalal Al-Din Rumi: Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju, Jakarta, 2004.

Syamsudin Ni’am, Cinta Ilahi Perpestif Rabi’ah Al Adawiyah dan Jalaluddin Rumi, Risalah Gusti, Surabaya, 2001.

Sumber gambar:pixabay.com

ASN dan Humas Rutan Kelas IIB Wates. Pecinta kopi, buku dan sastra.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…