OUR NETWORK

Trump dan Prediksi Geopolitik Timur Tengah

Seorang raja properti yang juga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump telah membuat gaduh dunia dengan pernyataannya yang kontroversial. Ia mendukung negara Israel untuk menjadikan Yerussalem sebagai ibu kota negaranya dan berencana memindahkan kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerussalem.

Trump bisa jadi jumawa, karena hanya dia satu-satunya Presiden AS yang berani memenuhi janji dalam kampanyenya untuk mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel dibanding beberapa presiden sebelumnya. Pimpinan negara adidaya yang berasal dari Partai Republik ini lebih memilih mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Respon keras diperlihatkan oleh mayoritas negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Konferensi luar biasa yang dihadiri lebih dari 50 negara mayoritas muslim yang diselenggarakan di Turki baru-baru ini menghasilkan keputusan pengakuan atas Yerussalem Timur sebagai ibukota negara Palestina Merdeka. Palestina juga sekarang menolak peran AS dalam proses perdamaian Timur Tengah. Bahkan negara-negara Eropa dan anggota PBB yang notabene bersekutu dengan Amerika seperti Inggris, Jerman, dan Prancis juga menolak keputusan sepihak tersebut.

Trump sendiri tidak mungkin hanya modal perhitungan memenuhi janji dan meningkatkan tingkat kepuasan pendukungnya. Di dalam negaranya sendiri Trump mungkin sedang melakukan agitasi untuk mengkonsolidasi kekuatan ditengah rumor yang makin hangat terkait konspirasinya bersama Eric Prince dan Rusia untuk kemenangan dirinya di Pilpres tahun lalu.

Eric Prince sendiri bukan orang biasa, ia adalah mantan pasukan khusus Navy Seal dan pendiri pasukan militer swasta”Blackwater” yang terkenal. AS dan Blackwater sendiri sekarang tengah berusaha memperpanjang peperangan di Afghanistan demi keuntungan mineral berkualitas nomor satu untuk bahan baku produk berteknologi tinggi. Usaha ini pun disetujui oleh pemerintah Afghanistan.

Presiden dari Partai Republik AS ini juga mungkin sedang mengetes perkembangan arus gerakan Islam seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, gerakan paramiliter seperti Islamic State, Hamas, Fatah, Hizbullah serta negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Trump bisa jadi ingin melihat sejauh mana reaksi mereka terhadap pernyataannya yang sangat kontroversial.

Sudah menjadi rahasia umum isu Palestina di beberapa negara dan gerakan bisa jadi hanya sebatas komoditas politik saja. Karena di satu sisi sebenarnya Trump juga memerlukan dukungan dunia Islam untuk menghantam dominasi perekonomian China. Suatu saat ia bisa saja menarik kembali pernyataannya jika arus gerakan Islam yang terjadi benar-benar kuat.

“Make America Great Again” bagi Trump adalah menempatkan posisi Paman Sam diatas negeri Tirai Bambu dan Beruang Merah serta terus berjaya di Timur Tengah. Di kawasan Timteng atau Heartland, ganjalan besar bagi Amerika adalah Iran.

Negara para mullah ini selalu bersitegang dengan Amerika dan rajin memperluas pengaruhnya di Timur Tengah sejak berhasil melepaskan diri dari isolasi internasional pada tahun 2015 ketika negara tersebut menandatangani Joint Comprehensive Plan of Action. Kesepakatan antara Iran dan negara-negara P5 + 1 yaitu China, Prancis, Rusia, Inggris, AS ditambah Jerman yang menetapkan pembatasan program nuklir Teheran dengan imbalan pengangkatan sanksi ekonomi dan diplomatik secara bertahap yang diberlakukan terhadap Iran.

Pengaruh Iran juga terlihat dari apa yang hari ini terjadi di Suriah, Yaman, dan Irak. Oleh karena itu sikap Arab Saudi yang mengecewakan soal pernyataan Trump itu bisa jadi merupakan sikap yang realistis bagi mereka. Mengingat Arab Saudi butuh dukungan Amerika untuk mengembangkan bisnis migas mereka dan melemahkan pengaruh Iran di Timur Tengah. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, Arab Saudi seolah malah memperlemah posisi kekuatan dunia Islam dengan bersikap mengecam terhadap AS tapi juga seolah mendukung mereka dengan menawarkan alternatif solusi kepada Palestina untuk memindahkan ibukota ke Abu Dis.

Pernyataan Trump sekali lagi ibarat suatu serangan ditengah kerumunan dan ia ingin melihat sejauh mana kekuatan kerumunan tersebut. Tapi hingga kini agenda utamanya masih belum terbaca dengan jelas. Di satu sisi sebenarnya ia juga harus berhati-hati, mengingat dalam kasus ini negeri Beruang Merah atau Rusia dapat dengan mudah mendapatkan simpati kerumunan. Jika itu terjadi maka blunder bagi Washington. Bahkan China secara tidak langsung mendapatkan keuntungan dari peran hegemonik Iran dan Rusia di Timur Tengah. Karena bagi China yang tengah fokus memperkuat hegemoni di Asia Pasifik, peran Iran dan Rusia di Timur Tengah sangatlah penting agar perbatasan negaranya dibagian barat semakin kuat.

Kedepan sepertinya konflik dengan pola yang sama akan terus terjadi. Pertalian antara pasukan militer, paramiliter, kepentingan negara danperusahaan multinasional jadi wacana yang tidak akan ada habisnya. Amerika yang tengah berusaha untuk bangkit kembali dari kemundurannya mungkin harus mengambil jalan pintas dengan memanaskan kembali konflik di Timur Tengah.

Setelah kebijakan proteksionisme AS yang membuat harga-harga naik dan meningkatnya pengangguran secara domestik, bisnis perang dan eksploitasi sumber daya alam seperti yang dilakukan di Afghanistan hingga kini mungkin akan sangat cepat mendongkrak kembali perekenomian mereka.

Pemerhati geopolitik

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…