OUR NETWORK

Toilet dan Pandangan Ideologi Masyarakat

Bentuk toilet yang di sini adalah bentuk cara kerja pembuangan. Seperti cara pembuangan toilet dari Jerman, Perancis dan Inggris. Dan kemudian dihubungkanlah bentuk-bentuk tersebut serta perilaku yang menyertainya

Tulisan ini adalah hasil dari melihat salah satu video interview Slavoj Zizek. Filsuf kontemporer yang kadar intelektualnya disegani di dunia. Dalam salah satu bagian dalam interview video tersebut ada sesuatu hal yang menarik diutarakan oleh Zizek, dan yang ia bahas adalah salah satu cara membaca kehidupan masyarakat, yakni melalui toilet.

Mungkin apa yang dibahas ini adalah salah satu lelucon, karena Zizek memang senang memberikan berbagai macam lelucon-lelucon khas filsuf. Tetapi apabila ditilik lagi, dan bahkan dia juga menyadari, jika kadang kala arsitektur sebuah sarana di suatu tempat  telah terbentuk sejak jaman dulu-dulu dapat digunakan sebagai sebuah kacamata melihat jenis masyarakat tersebut.


Bentuk toilet yang di sini adalah bentuk cara kerja pembuangan. Seperti cara pembuangan toilet dari Jerman, Perancis dan Inggris. Dan kemudian dihubungkanlah bentuk-bentuk tersebut serta perilaku yang menyertainya. Sehingga dapat dihubungkan dengan ragam filsafat maupun ideologi yang dianut.

Karena sesuai pendapat Zizek, apabila arsitektur bangunan ataupun objek yang dibuat manusia mendapat pengaruh juga dari ideologi yang bersangkutan dari si pembuat. Sehingga dalam perasaan si pembuat ada sebuah pemikiran yang termaktub dalam objek tersebut. Bukan hanya untuk digunakan saja, tetapi manusia dapat berpikir bersama objek tersebut.

Analisa ini tidaklah bisa dikatakan valid. Karena memang bentuk-bentuk sebuah toilet berikut perkembangannya dalam setiap daerah berbeda-beda, dan pemakaian ideologi antar daerah juga berbeda. Mengikuti tipe masyarakat pengguna yang membuat toilet tersebut. Dalam analisanya Zizek melihat dari tiga negara besar yang memberikan banyak sumbangsihnya terhadap dunia.

Hegel adalah yang pertama melihat perbedaan sikap dalam eksistensi masing-masing masyarakat di tiga negara tersebut. Dan kemudian Zizek mengikuti dengan menambahkan analisanya melalui toilet. Karena siapa sangka ternyata toilet dapat digunakan membaca jejak-jejak sikap maupun ideologi sebuah bangsa yang sudah lama terbentuk.

Di Perancis, lubang toilet berada di bagian belakang, sehingga feses yang masuk akan dapat langsung menghilang. Sementara di Jerman yang sekarang memang lubang toiletnya berada di belakang. Di jaman dulu lubang toilet mereka berada di depan sehingga feses-nya mengendap terlebih dahulu sebelum disiram air.

Berbeda di kemudian daerah, di negara Anglo-Saxon (Inggris maupun USA) letak lubang toiletnya merupakan sintesis dari keduanya. Yaitu terdapat banyak air di dalam baskom toilet tersebut. Sehingga meski feses mengendap akan tidak menimbulkan bau.

Zizek mendapat perhatian dari hal ini, dan kemudian menanyakan kepada para teman arsitekturnya kenapa dapat perbedaan-perbedaan ini. Salah satu temannya memberikan buku arsitektur mengenai struktur toilet di Eropa, tetapi Zizek tetap tidak mendapatkan sesuatupun yang membantunya untuk memhami ini.

Hingga kemudian datang ke sebuah pendapat yang bisa dikatakan sebagai argumen yang rasis, jika pada abad ke 18, ketika tiga negara besar tersebut masih menggunakan toilet-toilet berbentuk seperti yang disebutkan diatas. Ada sebuah wacana apabila tiga negara besar tadi memiliki tempat politisnya masing-masing dan tiga negara tersebut memiliki peran besar di Eropa sendiri, seingga disebut sebagai Trinitas Eropa (Europe Trinity).

Tiga negara tersebut memiliki corak kultur berbeda dalam menghadapi maupun mendalami realitas sekitar mereka. Inggris memiliki paham liberal kemudian Perancis adalah Revolusioner sedangkan Jerman adalah konservatif.


Dan pada abad ke 18 itu, ketiga negara tersebut memang memiliki perbedaan dalam menanggapi feses masing-masing mereka. Inilah yang kemudian seperti memberikan jawaban kepada Zizek. Bahwa bentuk toilet ini dapat dihubungkan dengan sikap politik ideologi masing-masing negara tersebut.

Perancis dengan pragmatismenya di mana feses yang masuk langsung menghilang. Sejalan dengan paham radikal revolusionernya. Maka dari itu dapat muncul revolusi Perancis yang dapat dilaksanakan di Perancis sendiri saja tidak di negara lain. Karena paham politik mereka yang seperti bentuk toilet mereka. Langsung ditangani seperti cara yang ada. Karena ketergesaan inilah mereka dapat melakukan revolusi mereka.

Berbeda dengan Jerman di mana memang di abad 18 Jerman adalah salah satu negara dengan jenis masyarakatnya kebanyakan berpaham konservatif. Dan bentuk toilet mereka dulu, di mana feses mengendap terlebih dahulu sehingga mereka dapat merasakannya. Sebagai kontemplasi untuk membuat refleksi atas apa yang mereka buang dari tubuh. Dan Jerman adalah penghasil banyak berbagai jenis pemikir dan sastrawan.

Dan dapat dicocokkan dengan mereka yang senang berkontemplasi seperti yang terlihat dari bentuk toilet mereka. Apabila Perancis menghasilkan revolusi dalam bentuknya di kenyataan, Jerman telah memikirkan dan mengkontemplasikan hal-hal itu. Selain kontemplasi juga adalah hal yang sering dilakukan sastrawan. Sehingga banyak nama besar sastrawan di Jerman kala itu.

Berbeda di Inggris yang bentuk toiletnya merupakan penggabungan dari dua toilet sebelumnya. Feses mengendap tetapi tidaklah berbau karena di genangi air. Inggris dalam sikap politiknya lebih pragmatis dan rasional. Oleh karena itu ekonomi begitu berkembang di Inggris karena memang ideology politiknya lebih condong dalam praktis ekonomi, itu juga bisa saja salah satu alasan yang menjadikan Inggris sebagai tempat awal bermulanya revolusi industri.

Mungkin bisa terlihat konyol tetapi keberadaan toilet yang memang berbeda-beda di waktu dulu itu memang benar adanya. Dan memang benar juga apabila Inggris di kala itu memiliki pendekatan pragmatis dan rasional sedangkan Jerman menyukai berbagai hal metafisik, sastra dan berbagai seni keindahan lainnya.

Sedangkan Perancis memiliki pendekatan langsung serta radikal. Tetapi tidak juga bisa menyangkal pendapat Zizek akan ini, karena kecocokan berbagai hal itu sangat kentara apabila dilihat perlakukan masing-masing warga negara-negara tersebut terhadap sesuatu.

Jadi mungkin penglihatan akan sebuah filosofi sebuah bangsa dapat dilihat dari berbagai hal. Bahkan sarana-prasana didalam rumah sekalipun. Yang terpenting hal-hal itu memang telah lama ada dan mengendap dalam masayarakat, dan juga mencirikan masyarakat itu sendiri.

Untuk itulah apabila ingin membentuk sebuah ideologi di zaman modern ini. Yang bahkan bisa dikatakan adalah zaman ketika manusia menjadi skeptis. Di mana pemakaian ideologi hanya untuk praktis saja tidak karena mempercayainya.

Bisa dibuat sebuah perencanaan akan pemasukan berbagai macam substansi ideologi dalam berbagai alat perkakas rumah tangga maupun barang-barang sehari-hari lainnya. Berikut maksud dan tujuannya. Sehingga setiap benda yang dipakai memiliki sebuah ideologi yang dapat memperkuat ideologi si pemakai.

Mungkin itu salah satu usaha untuk melawan sesuatu yang memang telah menjadi dasar segala hal. Salah satu usaha yang dapat dilakukan, berdasarkan analisa dari Zizek tadi. Memproduksi bentuk materiil dari sebuah ideologi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…