Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Tipping Point Berlaku untuk Perekonomian Indonesia

Mau ‘Jewer’ Haedar Nashir, Memang Amien Rais Siapa?

Penasehat PP Muhammadiyah Amien Rais mengatakan akan ‘menjewer’ Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir karena tidak segera menentukan sikap bagi warga Muhammadiyah jelang pilpres...

Lelaki, Rawatlah Birahimu, Selamatkan Masa Depan Kami!

Menjadi seorang perempuan di masa ini cukup membuat kami was-was melihat begitu banyaknya tindak asusila yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Apalagi hidup...

Bencana dan Semesta Akal Sehat

Mungkin tidak ada kata lain untuk melukiskan berbagai tragedi bencana alam yang kita alami selain tiga kata ini, berita, cerita dan derita. Walaupun berbeda sedikit abjad...

Munculnya Islam Garis Prabowo

Saat menggeluti dunia organisasi Islam, saya tidak asing dengan istilah Islam 'bergaris' atau dengan tambahan tertentu. Mungkin ini agak awam atau asing didengar jika...
Rifky Bagas
Writing is one way to express your self. To be honest to make some opinion. What do you feel is what do you write. Give your freedom but keep concern ethics and polite words.

Kecenderungan atau minat merupakan suatu yang mungkin bisa diprediksi namun tidak dapat diperhitungkan. Kecenderungan sendiri hampir sangat terpengaruh dengan minat. Menurut Crow dan Crow, minat adalah pendorong yang menyebabkan seseorang memberi perhatian terhadap orang, sesuatu, aktivitas-aktivitas tertentu. (Johny Killis, 1988 : 26).

Jika diperhatikan, pergerakan kecenderungan masyarakat Indonesia sekarang ini, mulai bergeser untuk mencari bukti dan pembenaran yang mungkin disebabkan adanya peningkatan edukasi lewat media ataupun sudah tingginya tingkat literasi membaca untuk sekedar memperoleh informasi. Termasuk mengenai sisi perekonomian. Pernah dengar, kasus jatuhnya Seven Eleven di tahun 2017. Jatuhnya retail Seven Eleven dianggap sebagai tidak akuratnya data mengenai pertumbuhan ekonomi bagi sebagian orang.

Mengutip data dari APBN Kita (Kinerja dan Fakta) edisi bulan Desember tahun 2017, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% (sampai Q3), namun banyak pihak yang tidak sependapat dan menganggapnya gagal, untuk menjelaskan fenomena tersebut. Padahal perlu dimengerti bahwa data tersebut merupakan data pertumbuhan makro ekonomi, yang masih sejalan dengan yang ditetapkan dalam APBN-P 2017.

Dengan jenis sektor perdagangan yang sama, namun dengan konsep yang berbeda. Kita bisa memperhatikan fenomena industri makanan yang menggunakan artis sebagai pemilik, atau juga sebagai penyetor modal mayoritas dalam usaha tersebut.

Ternyata dengan kepiawaian artis ataupun adanya keberadaan nama yang sudah melekat di hati masyarakat, dapat menjadi penarik pelanggan yang besar. Mungkin juga, bahwa para pelanggan tersebut akan memperoleh kepopuleran jika membeli sesuatu yang berhubungan dengan artis pujaannya. Hingga menjadi sesuatu yang terasa elit saat mempublikasikannya di media sosial.

Fenomena “tipping point” yang membuat saya beranjak untuk menarik mundur penyebab segala tren yang terjadi sekarang ini di Indonesia, berawal dari buku yang saya miliki yang berjudul asli “The Tipping Point, How Little Things Can Make A Big Difference” ditulis oleh Malcom Gladwell tahun 2000, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Alex Tri Kantjono Widodo, mengartikan bahwa “tipping point” adalah saat ajaib ketika suatu ide, perilaku, pesan, dan produk menyebar seperti wabah penyakit menular.

“Sama seperti satu orang sakit dapat menyebabkan epidemi flu, begitu pula sentilan yang disasar dengan tepat dapat menyebabkan terjadinya tren fesyen, popularitas sebuah produk baru, atau menurunnya tingkat kriminalitas secara drastis,” kutipan dari buku “the tipping point”.

Dari hal di atas, marilah kita tarik mundur konsep hadirnya retail Seven Eleven. Konsep retail yang sangat nyaman dibanding dengan retail lain karena menawarkan tempat “nongkrong” (istilah anak muda). Walaupun jenis barang yang dijual tidak begitu lengkap dan terbatas, namun membawa konsep mini market yang nyaman untuk tempat mengobrol, bertemu kawan, ataupun melakukan sedikit rutinitas pekerjaan.

Tetapi, sekali lagi bahwa pasar tidak menangkap hal itu. Apa yang diharapkan menjadi berbeda, mungkin karena salah perencanaan, atau mungkin juga perhatian dan minat pasar di Indonesia yang tidak sama dengan negara lain. Adanya perbedaan budaya mungkin menyebabkan penggunaan konsep tersebut tidak bisa diberlakukan.

Bandingkan dengan konsep industri inovasi di bidang makanan. Kepopuleran artis ternyata menjadi jalan ampuh dalam memikat pasar. Sehingga fenomena “getok ular” atau latah ini melanda artis lain yang secara luas ingin menguji peruntungan di bidang yang sama.

Epidemi yang luar biasa dengan membawa efek yang luar biasa bagi sebuah produk. Sama halnya dengan epidemi membahas kinerja perekonomian. Sebenarnya mungkin fenomena ini sudah diprediksikan. Keinginan masyarakat mengenai adanya keterbukaan informasi untuk publik, sejatinya mulai dipahami pemerintah.

Pro dan kontra di dalam memahami setiap instrumen-instrumen keuangan dan kebijakan merupakan pertanda bahwa masyarakat mulai belajar. Bukan berarti tidak pintar, namun ada hasrat untuk memahami dan bertindak terhadap sinyal-sinyal yang bisa membuat buruk stabilitas ekonomi di Indonesia.

Sebenarnya tidak ada kata yang sempurna selain di sisi Tuhan YME. Pemerintah yang baik pun pasti ada celah untuk dapat dilakukan perbaikan. Perbaikan-perbaikan yang secara objektif untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik. Masyarakat sah saja untuk menyangsikan, apakah realisasi belanja negara selama ini telah seimbang dengan penerimaan.

Mengutip dari APBN-P tahun 2017 di dalam publikasi APBN Kita (Kinerja dan Fakta) edisi bulan Desember tahun 2017. Ternyata hingga akhir bulan November tahun 2017, penyerapan belanja tumbuh 8,6 persen atau lebih tinggi dari realisasi periode yang sama pada tahun 2016 yang sebesar 5,8 persen. Belanja tersebut sebagian diantaranya, diwujudkan dalam pembangunan dan program prioritas pemerintah sebagai berikut :

1. 16,4 juta siswa telah mendapatkan manfaat penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP);

2. 7,5 juta siswa telah menerima dana Bnatuan Operasional Sekolah (BOS)

3. 1,2 juta keluarga penerima manfaat telah menerima Bantuan Pangan Non Tunai

4. 364,4 ribu mahasiswa telah mendapatkan dana dari program Bidik Misi

5. 91,7 juta masyarakat telah mendapatkan manfaat dari program JKN-KIS;

6. 5,99 juta keluarga penerima manfaat telah menerima penyaluran PKH;

7. 14,2 juta keluarga penerima manfaat telah menerima subsidi pangan;

8. Pembangunan dan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat material khusus (almatsus), seperti Alat Apung, Kapal Perang RI, Kapal Latih, dan Kendaraan Tempur/Kendaraan Taktis, yamg tersebar di Kemenhan dan Polri;

9. Jalan baru yang telah dibangun sepanjang 611 km, jalan tol 24,5 km, dan jembatan 6.110 m;

10. 3 bandara siap dioperasikan, yakni di Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. Sedangkan  8 bandara lainnya sedang dalam pembangunan.

Sekali lagi, Kementerian Keuangan berhasil melakukan “tipping point” ataupun epidemi hasrat masyarakat untuk mempelajari instrumen-instrumen keuangan serta mengetahui realisasi belanja apa yang telah dilakukan dengan cara melakukan keterbukaan informasi.

Pamor tentang Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pun menjadi naik daun. Mungkin juga karena epidemi ini, masyarakat hingga mengetahui tentang Pasal 12 ayat (3), mengenai pembatasan defisit anggaran dibatasi maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sekali lagi, Sri Mulyani berhasil melakukan“tipping point” akan literasi keuangan dengan penguatan di segi informasi publik. Dengan contoh yang nyata dan diperjelas dengan data-data keuangan yang kompetitif.  Karena sebenarnya segala hal itu akan bermuara ke sesuatu yang benar. Seberapa pun hambatan yang ada, selama masyarakat yakin sepenuhnya akan pengelolaan perekonomian yang bijak dan hati-hati, dukungan itu pasti ada.(*)

Rifky Bagas
Writing is one way to express your self. To be honest to make some opinion. What do you feel is what do you write. Give your freedom but keep concern ethics and polite words.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.