in

Timnas U-22 dan Catatan Kecil Dibalik Performanya


Tuntas Sudah semua pertandingan timnas U-22 dalam ajang Sea Games 2017 yang dihelat di Malaysia. Mendapatkan 11 point dalam grup neraka yang dihuni Thailand dan Vietnam serta mampu meraih perunggu (juara-3) menjadi pelengkap daya juang timnas U-22 kali ini. Prestasi yang tak buruk jika melihat kondisi sepakbola Indonesia yang baru saja “dimulai” kembali setelah mendapatkan banned dari federasi tertinggi sepak bola dunia yakni FIFA.

Ekspektasi Besar dalam diri Timnas U-22

Dikontraknya Luis Milla menggantikan Alfred Riedl menjadi tim pelatih kepala pada diri Timnas Senior serta merangkap pelatih Timnas U-22 menjadi awal mula dimulainya tuntutan yang tinggi dalam diri Timnas Indonesia. Luis Milla pun dituntut mampu secara singkat merubah prestasi yang tak kunjung membaik dalam diri Timnas Indonesia. Hal ini pun dianggap wajar menilik prestasi Luis Milla yang mampu mengantarkan Tim Nasional Junior Spanyol yang meraih juara pada perhelatan EURO dibawah umur 21. Di sisi lain, animo masyarakat pecinta bola tanah air yang menginginkan Timnas Indonesia mampu meraih prestasi baik menjadi titik ukuran pelatih berkebangsaan Spanyol ini dikontrak.

Pasca dikontrak pada akhir tahun 2016, secara cepat seleksi pun dilakukan pada bulan Februari lalu untuk mendapatkan pemain-pemain yang dirasa memiliki kemampuan dan skill yang baik untuk meraih prestasi bersama Timnas Indonesia. Namun, kegagalan dalam Kualifikasi Piala Asia U-22 2017 menjadi langkah terjal pertama Timnas Indonesia dibawah asuhan pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut.

Baca Juga :   [Masih Soal] Perppu Ormas dan Problem Kesewenang-wenangan Hukum

Di samping itu, kegagalan meraih emas pada ajang Sea Games Malaysia yang terakhir diraih tahun 1991 kali ini pun menjadi kekecewaan besar seluruh elemen pecinta bola tanah air. Namun, dibalik prestasi yang hanya mampu meraih perunggu tersebut, terdapat catatan-catatan yang minimal mampu memberikan senyuman di akhir semua pertandingan Timnas U-22 dalam ajang Sea Games Malaysia dan menjadi modal berharga dalam persiapan meraih target semifinalis pada ajang Asian Games 2018 yang diadakan di Indonesia.


Membaiknya Strategi Luis Milla

Dalam menerapkan strategi pada Timnas U-22 dalam ajang Sea Games 2017 kali ini, Luis Milla cenderung menggunakan formasi 4-2-3-1 yang dianggap berjalan baik dengan mengandalkan pemain-pemain sayap yang memiliki kelebihan kecepatan yang dihuni Febri Hariyadi dan Osvaldo Haay di kiri serta Saddil Ramdani dan Yabes Roni di kanan dengan ditopang Evan Dimas sebagai pengatur serangan.

Jika dibandingkan dengan permainan pada ajang Kualifikasi Piala Asia U-22 2017 lalu, dalam keseluruhan pertandingan Sea Games kali ini, Timnas U-22 mampu menunjukkan performa menyerang dan bertahan yang baik, namun terdapat pekerjaan rumah yang lumayan banyak dalam menindaklanjuti performa ke depan. Hal ini karena performa penyelesaian akhir yang masih terbilang buruk dan emosi pemain yang mudah “panas” menjadi kerugian besar jika melihat keikutsertaan dalam kompetisi pendek ke depan.

Baca Juga :   Sebuah Prahara Bangsa Moro

Di sisi lain, masih minimnya pemain yang memiliki daya intelegensia yang tinggi dan kurang pandainya pemain sayap dalam melakukan umpan-umpan panjang dalam kotak penalti serta masih mandulnya striker Timnas U-22 menjadi nilai minus dalam catatan performa di ajang Sea Games kali ini. Sisi positif nya adalah timnas besutan Luis Milla mampu memiliki kedalaman skuad yang baik. Hal ini dibuktikan dengan sering nya luis milla dalam merotasi pemain inti yang berbeda dalam setiap pertandingan.

Di samping itu, performa apik yang ditampilkan Rezaldi Hehanusa di posisi bek kiri dan Septian David Maulana yang berada di belakang striker menjadi harapan besar performa timnas U-22 yang sebelumnya cenderung mengandalkan evan dimas semata. Dalam Sea Games 2017 kali ini, Septian David Maulana mampu memberikan torehan 3 gol dan 2 asisst menjadi nilai positif dalam membaiknya performa timnas. Di sisi lain, tangguhnya lini belakang yang dinahkodai Hansamu Yama dan Ricky Fajrin serta kedua penjaga gawang yang sering berganti antara satria tama dan kurnia kartika menjadi nilai positif lainnya dalam melihat performa Timnas U-22.

Proyeksi Ke depan

Kegagalan meraih target dalam 2 (dua) kompetisi yang diikuti Timnas U-22  pada tahun 2017, menyisahkan Asiang Games 2018 sebagai penahbisan kemampuan Timnas U-22 dibawah besutan Luis Milla. Apalagi dalam ajang Asian Games 2018 mendatang, Indonesia bermain sebagai tuan rumah dengan dukungan besar suporter tanah air.

Baca Juga :   Membela Koruptor: Ramalan Prof. J.E Sahetapy Terhadap Setya Novanto

Luis Milla sebagai pelatih kepala dituntut harus mampu menyelesaikan pekerjaan rumah besar yang dimiliki Timnas U-22 serta mental bertanding yang acap kali menjadi batu sandungan dalam menampilkan performa apik Timnas U-22. Di samping itu perlunya menerapkan strategi alternatif disamping strategi dari kekuatan sayap Timnas Indonesia dengan menerapkan umpan-umpan pendek seperti halnya kekhasan iklim sepakbola spanyol perlu dicoba.

Di sisi lain Luis Milla harus cerdik dalam melihat pemain-pemain yang belum terpanggil dalam komposisi tim kali ini. Catatan penulis, pemain-pemain seperti Ilham Udin Armain, Maldini Pali Muchlis Hadi yang menjadi andalan pelatih Indra Sjafri dalam timnas U-19 pada tahun 2015 lalu serta Tarens Puhiri perlu dicoba untuk meraih komposisi yang lebih baik dalam mempersiapkan diri dalam ajang Asian Games tahun 2018 ke depan. Semoga Timnas Indonesia U-22 mampu meraih prestasi lebih baik ke depan dan menjadi generasi apik dalam Timnas Senior.


Written by hatta abdi

Penulis telah menyelesaikan studi S2 di Universitas Airlangga Surabaya

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR