Senin, April 12, 2021

Tiga Modal Menuju Istana

Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF?

Kekalahan yang ditelan timnas Indonesia di pertandingan pertama melawan Singapura 1-0, dan pertandingan ketiga melawan Thailand 4-2, menjadikan peluang Timnas ke babak semifinal begitu...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Metafisika Muhammad Iqbal

Dalam bukunya Prolegomena, Kant mengajukan pertanyaan: Apakah metafisika itu mungkin? Jawaban Kant atas pertanyaan ini negatif tidak mungkin. Alasan-alasannya didasarkan pada ciri yang agak...

Pilkada Jatim dan Nasib Orang Pulau

Sebelumnya mohon maaf, atas keterlambatan dalam merumuskan bentuk kritikan, kami terlalu leha, woles, kurang uptudate dengan informasi kontemporer dan klasik sehingga banyak sekali yang...
taufik ismail
Mahasiswa Muslim scholar and writer

Demokrasi langsung yang kekuasaan berada ditangan rakyat harus diperebutkan oleh capres dan cawapres. Perebutan ini tak bisa hanya bermodalkan asumsi semata, namun juga diikuti oleh modal yang lain, guna memperoleh hegemoni rakyat. Dalam upaya merebut hegemoni simpati dan suara rakyat menurut Antonio Gramsci mereka memerlukan tiga modal yakni intelektual, sosial, dan ekonomi.

Modal intelektual menjadi dasar untuk menyusun strategi baik menghadapi lawan politik maupun rakyat yang majemuk, tentu strategi menghadapi kalangan tradisional akan berbeda dengan kalangan ningrat.

Ketua tim pemenangan menjadi unsur fital dalam modal intelektual ini, kematangan dan kelihaian melihat dinamika pemikiran rakyat tentang calon yang diusung serta sikap seperti apa yang harus diperlihatkan untuk menjaga hegemoni suara akan ditentukan oleh modal intelektual.

Modal intelektual memang lebih cenderung kepada team pemenangan, berbeda dengan modal sosial yang lebih kepada personal calon. Modal ini justru paling berpengaruh, teori modal sosial mengasumsikan semakin kita terhubung dengan orang lain semakin kita mempercayainya.

Kepercayaan publik tentu tidak datang tiba-tiba, terutama dari pemilih rasional. Sebuah kepercayaan dibangun atas dasar hubungan yang baik, prestasi, jejak langkah perilaku dan pendidikan. Dalam pilpres ini memasukkan unsur agama dalam personal branding sangat terlihat, kita melihatnya dalam diri cawapres Sandiaga yang dijuluki awalnya santri post-Islamisme dan terakhir sebagai ulama.

Yang menjadi pertanyaan usaha pemaksaan ini apakah berhasil mempengaruhi pemilih atau tidak? Atau justru kontraproduktif? Dalam modal sosial yang paling ditekankan adalah kepercayaan. Sebuah kepercayaan tak bisa dipaksakan.

Maka jika usaha membranding yang tak sesuai dengan latar belakang sosial ini terus dilakukan terutama pemilih rasional akan lari, karena jelas hal itu tak sesuai dengan realita. Karena kampanye yang baik dan mendidik adalah beradu program, wacana, dan prestasi. Bukan dengan menonjolkan identitas yang tak sesuai.

Modal terakhir dan tak kalah menentukan adalah ekonomi. Barangkali karena faktor ini kubu penantang memilih Sandi. Karena dalam pilpres perlu modal ekonomi yang tak sedikit, mengingat cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas untuk kampanye, menggerakkan mesin partai, biaya saksi dan “membeli” suara.

Modal ekonomi menjadi penting bagi kalangan tipe pemilih pragmatis. Kubu petahana memang diuntungkan sebagai pemegang kekuasaan saat ini, namun kubu penantang juga mengimbangi dengan dicalonkannya Sandi yang memiliki modal ekonomi.

Dalam pemilu terkadang bisa dipandang dari teori pengetahuan Hegel, yakni ada tesis, anti tesis dan sintesis. Dalam pilpres kali ini bisa dilihat fenomena ini. Jika salah satu kubu melemparkan sebuah wacana program, maupun pelaksanaannya juga calon.

Bisa dibilang ini sebuah tesis, maka kubu yang lain akan merespon dan berusaha mencari anti tesisnya. Contohnya dalam adu tagar dalam media sosial, penunjukkan calon pendamping presiden antara ulama dibalas milenial, pelaksanaan program dan pengkritikan program. Hal ini adalah tesis dan anti tesis. Sedangkan dari adu tesis dan sintesis antara petahana dan penantang akan membuahkan sintesis berupa asumsi pemilih tentang kedua kubu.

Dalam hal ini peran modal intelektual sangat diperlukan untuk memproduksi tesis ataupun anti tesis untuk mengendalikan sintesis di masyarakat. Dari kedua kubu yang lebih mengendalikan keadaan adalah petahana karena tesis yang diproduksi dan kekuatan mengendalikan keadaan, karena kubu penantang senantiasa menunggu kubu petahana melangkah, baru penantang menentukan sikap. Hal ini jelas menguntungkan petahana sebagai pengatur tempo permainan. Sejauh ini penantang hanya dibelakang dan bisa dikatakan bertahan menunggu kompetitornya.

Sun Tzu mengatakan “kecepatan adalah inti perang. Yang dihargai dalam perang adalah kemenangan yang cepat, bukan operasi militer yang berkepanjangan”. Ini mengisyaratkan siapa yang lebih cepat dalam mengambil keputusan akan mempunyai keunggulan. Namun terlalu percaya diri atau bahkan kejumawaan sering mengarah kepada kecerobohan, penilaian gegabah dan kesalahan umum lainnya. Banyak pikiran-pikiran hebat telah menjadi mangsa kecerobohan.

taufik ismail
Mahasiswa Muslim scholar and writer
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.