Jumat, Oktober 30, 2020

Thierry Henry, Antara Pengkhianatan dan Kepahlawanan

Patriarki Musuh Bersama

Hari Perempuan Internasional, suara perempuan bergemuruh di mana-mana. Melalui kampanye, aksi refleksi hingga tulisan-tulisan, mereka ekspresikan. Sebab salah satu tantangan utama kita dalam mengatasi...

Film The Gift Hanung dan Hadiah yang Kepalang Tanggung

Pemilihan judul film dengan lema bahasa asing sudah lebih dulu menunjukkan mula kegagalan. Film komersil Indonesia gemar berjudul asing dan membiarkan dirinya tertuduh sekadar...

Merindukan Mahaguru Bangsa

Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalo kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu. Begitulah...

Jangan Terlalu Benci DPR dan Jangan Terlalu Cinta KPK

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara...
Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains

Sepakan keras Kevin De Bruyne membawa Timnas Belgia meraih kemenangan fantastis ketika melawan Brazil pada babak delapan besar Piala Dunia 2018 pada Sabtu dini hari, 7 Juli 2018. Walaupun sempat dibalas dengan sundulan dari Renato Augusto pada 15 menit sebelum waktu normal habis, hal itu tidak mengubah skor dan sekaligus memastikan Belgia melenggang mulus ke babak semifinal.

Kemenangan ini disambut positif oleh pelatih, staff, penggemar, dan seluruh warga Belgia pada khususnya. Karena dengan hasil ini membuat mereka masih bisa berpartisipasi di perhelatan sepak bola dunia yang paling bergengsi tersebut dengan melaju di babak semifinal pada babak selanjutnya.

Kegembiraan atas lolosnya Belgia ke babak semifinal Piala Dunia 2018 sebenarnya tidak perlu dimeriahkan secara berlebihan. Pasalnya, di semifinal mereka sudah ditunggu tim kuat Prancis. Les Blues (sebutan timnas Prancis) lebih dulu melenggang ke semifinal setelah berhasil menaklukkan tim tangguh asal benua Amerika Selatan, Uruguay, dengan skor meyakinkan 2-0. Dengan masing-masing hasil tersebut membuat keduanya akan saling bersua pada babak semifinal dengan strategi dan taktik yang akan diterapkan oleh Didier Deschamp dan Roberto Martinez.

Pasca peluit tanda berakhirnya pentandingan berbunyi, terlihat senyum kecil yang keluar dari wajah salah satu staff kepelatihan timnas Belgia, yaitu Thierry Henry, yang berada di pinggir lapangan menyaksikan langsung laga antara Brazil vs Belgia tersebut. Henry merupakan pria kelahiran Paris, pada 17 Agustus 1977 yang dalam karirnya sempat membela timnas Prancis di beberapa kejuaraan eropa maupun dunia.

Seperti dilansir Goal.com, Henry merupakan top skor sepanjang masa Prancis dengan torehan 51 gol, menyingkirkan sederet nama-nama pemain terkenal lainnya seperti Michel Platini (41 gol) dan David Trezeguet (34 gol). Namun, hal yang mengejutkan terjadi ketika pria berkepala plontos tersebut melalui akun twitternya pada tanggal 26 Agustus 2016 yang lalu ia mengumumkan secara resmi menukangi tim nasional Belgia sebagai staff pelatih membantu Roberto Martinez.

Tidak begitu jelas apa makna dari sebuah senyuman yang dilontarkan Henry pasca pertandingan tersebut. Secara psikologis, senyuman merupakan suatu ungkapan emosional dari stimulus yang terjadi. Senyuman yang diberikan bisa sebagai reaksi senang, bahagia atas apa yang dialaminya dan bisa juga sebagai topeng untuk menutupi kesedihan yang terjadi pada intuisinya.

Dengan hal ini kita bisa berspekulasi atas senyuman yang dilontarkan Thierry Henry. Yang pertama, senyuman tersebut menggambarkan seberapa bahagianya Henry atas kemenangan timnas Belgia, kedua, bisa saja senyuman tersebut dilontarkan sebagai reaksi dari suatu kesedihan karena pada babak selanjutnya Belgia akan dihadapkan dengan partai sengit melawan negara yang pernah dibelanya dan negara yang telah membawa namanya bersinar di kancah domestik maupun internasional.

Pada babak semifinal antara Prancis melawan Belgia pada tanggal 10 Juli mendatang tentu menjadi pilihan yang sulit bagi seorang Thierry Henry. Pasalnya, kedua tim tersebut merupakan klub yang sangat berkaitan pada dirinya. Prancis sebagai negara tempat lahir dan kebangsaan, serta Belgia sebagai tim yang dibinanya saat ini. Itu lah konflik batin yang dialaminya sekarang.

Sebenarnya tidak selesai disini, sebab, secara eksternal, bukan tidak mungkin ia akan mengalami suatu intimidasi dari pihak kelompok suporter timnas Les Blues, baik dari kalangan suporter ekstrimis maupun suporter layar kaca andai Belgia bisa menaklukkan Prancis. Dalih sebuah pengkhianatan bisa saja menjadi isu negatif yang menimpa Henry akhir-akhir ini, karena ini menyangkut sebuah negara, bukan sebuah klub sepak bola.

Perubahan karir pemain serta karir kepelatihan di dalam suatu klub sudah lumrah terjadi dan bahkan sangat minim sekali pemain tersebut dilabeli dengan kata “pengkhianat”. Cristiano Ronaldo tidak khawatir ketika berpindah dari Sporting Lisbon menuju Manchester United yang kemudian singgah di Real Madrid hingga saat ini, begitu pun Pep Guardiola menjadikan Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City sebagai destinasi dalam karir kepelatihanya.

Tapi di sisi lain ia akan mendapatkan pujian sana sini dari suporter dan penduduk Belgia. Mereka bahkan bisa menganggap Henry orang yang paling berpengaruh setelah Martinez di dalam jajaran staff kepelatihan karena bisa memberikan bocoran taktik Prancis yang dihasilkan dari pengalamannya selama bermain bersama Les Blues.

Analisis ini mengingatkan saya pada sebuah fenomena yang ditulis oleh Irfan Teguh dalam Tirto.id (02/07/2018). Artikel tersebut mengungkapkan sebuah peristiwa yang menimpa Andres Escobar ketika dirinya dituduh melakukan pengkhianatan kepada warga Kolombia dengan melakukan gol bunuh diri yang menyebabkan Kolombia kalah 2-1 ketika melawan Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994.

Hasil tersebut membawa Kolombia semakin terbenam di juru kunci. Puncaknya ketika di laga terakhir penyisihan grup, meskipun Kolombia berhasil menggasak Swiss dengan skor telak 2-0, hasil tersebut tetap membuat Kolombia menjadi juru kunci dan sekaligus memupus harapan untuk lolos ke babak selanjutnya.

Beberapa hari pasca tersingkirnya Kolombia, tepat pada 2 Juli 1994, Escobar diberondong 6 buah timah panas oleh sekelompok orang yang setiap kali peluru dimuntahkan, pelaku berkata “terima kasih atas gol bunuh dirinya”. Peristiwa ini bisa saja dialami oleh Henry jika Belgia berhasil mengalahkan Prancis.

Perlakuan tersebut akan terjadi sebaliknya terhadap Thierry Henry jika ia beserta beberapa staff pelatih gagal membawa Belgia menggasak Prancis pada laga semifinal. Sebab, Henry akan dituduh tidak sepenuh hati oleh suporter Belgia dan dianggap tidak bersungguh-sungguh dalam memperagakan taktik saat melawan timnas yang pernah dibelanya tersebut.

Di sisi lain, suporter Prancis akan memberikan applaus yang bertebaran di dunia maya dengan redaksi “Thank You Henry” disertai emoticon kepala tertawa sumringah.

Referensi: 

http://www.goal.com/id/galeri/daftar-topskor-timnas-prancis-sepanjang-masa/1/kvusnhwmup71ksnd5m6ok4b9

https://tirto.id/gol-bunuh-diri-piala-dunia-berujung-berondongan-peluru-ke-escobar-cNcS

Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.