Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Thierry Henry, Antara Pengkhianatan dan Kepahlawanan | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Thierry Henry, Antara Pengkhianatan dan Kepahlawanan

Melawan RUU Cipta Kerja

RUU Cipta Kerja atau yang sering diplesetkan menjadi Cikar, sebagai suatu proyeksi tentang kebijakan yang sifatnya eksploitatif. Sebagaimana Cikar yang dikendalikan oleh penunggang, sapi-sapi...

[Masih Soal] Perppu Ormas dan Masalah Pembatasan HAM – Bagian 1

Saya berasumsi, perumus draft Perppu Ormas 2017 atas nama kegentingan (?!), kondisi darurat (?!?!), dan kekosongan hukum (?!?1?!) ini, sepertinya sudah mengantisipasi bilamana ia...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Delusi Merusak dan Merasuki Muhammadiyah

Konsistensi dan komitmen Muhammadiyah mendakwahkan Islam yang welas asih semakin menuai simpati dan kepercayaan banyak pihak. Tidak hanya dakwah modal “ngoceh” tapi juga kental etos...
Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains

Sepakan keras Kevin De Bruyne membawa Timnas Belgia meraih kemenangan fantastis ketika melawan Brazil pada babak delapan besar Piala Dunia 2018 pada Sabtu dini hari, 7 Juli 2018. Walaupun sempat dibalas dengan sundulan dari Renato Augusto pada 15 menit sebelum waktu normal habis, hal itu tidak mengubah skor dan sekaligus memastikan Belgia melenggang mulus ke babak semifinal.

Kemenangan ini disambut positif oleh pelatih, staff, penggemar, dan seluruh warga Belgia pada khususnya. Karena dengan hasil ini membuat mereka masih bisa berpartisipasi di perhelatan sepak bola dunia yang paling bergengsi tersebut dengan melaju di babak semifinal pada babak selanjutnya.

Kegembiraan atas lolosnya Belgia ke babak semifinal Piala Dunia 2018 sebenarnya tidak perlu dimeriahkan secara berlebihan. Pasalnya, di semifinal mereka sudah ditunggu tim kuat Prancis. Les Blues (sebutan timnas Prancis) lebih dulu melenggang ke semifinal setelah berhasil menaklukkan tim tangguh asal benua Amerika Selatan, Uruguay, dengan skor meyakinkan 2-0. Dengan masing-masing hasil tersebut membuat keduanya akan saling bersua pada babak semifinal dengan strategi dan taktik yang akan diterapkan oleh Didier Deschamp dan Roberto Martinez.

Pasca peluit tanda berakhirnya pentandingan berbunyi, terlihat senyum kecil yang keluar dari wajah salah satu staff kepelatihan timnas Belgia, yaitu Thierry Henry, yang berada di pinggir lapangan menyaksikan langsung laga antara Brazil vs Belgia tersebut. Henry merupakan pria kelahiran Paris, pada 17 Agustus 1977 yang dalam karirnya sempat membela timnas Prancis di beberapa kejuaraan eropa maupun dunia.

Seperti dilansir Goal.com, Henry merupakan top skor sepanjang masa Prancis dengan torehan 51 gol, menyingkirkan sederet nama-nama pemain terkenal lainnya seperti Michel Platini (41 gol) dan David Trezeguet (34 gol). Namun, hal yang mengejutkan terjadi ketika pria berkepala plontos tersebut melalui akun twitternya pada tanggal 26 Agustus 2016 yang lalu ia mengumumkan secara resmi menukangi tim nasional Belgia sebagai staff pelatih membantu Roberto Martinez.

Tidak begitu jelas apa makna dari sebuah senyuman yang dilontarkan Henry pasca pertandingan tersebut. Secara psikologis, senyuman merupakan suatu ungkapan emosional dari stimulus yang terjadi. Senyuman yang diberikan bisa sebagai reaksi senang, bahagia atas apa yang dialaminya dan bisa juga sebagai topeng untuk menutupi kesedihan yang terjadi pada intuisinya.

Dengan hal ini kita bisa berspekulasi atas senyuman yang dilontarkan Thierry Henry. Yang pertama, senyuman tersebut menggambarkan seberapa bahagianya Henry atas kemenangan timnas Belgia, kedua, bisa saja senyuman tersebut dilontarkan sebagai reaksi dari suatu kesedihan karena pada babak selanjutnya Belgia akan dihadapkan dengan partai sengit melawan negara yang pernah dibelanya dan negara yang telah membawa namanya bersinar di kancah domestik maupun internasional.

Pada babak semifinal antara Prancis melawan Belgia pada tanggal 10 Juli mendatang tentu menjadi pilihan yang sulit bagi seorang Thierry Henry. Pasalnya, kedua tim tersebut merupakan klub yang sangat berkaitan pada dirinya. Prancis sebagai negara tempat lahir dan kebangsaan, serta Belgia sebagai tim yang dibinanya saat ini. Itu lah konflik batin yang dialaminya sekarang.

Sebenarnya tidak selesai disini, sebab, secara eksternal, bukan tidak mungkin ia akan mengalami suatu intimidasi dari pihak kelompok suporter timnas Les Blues, baik dari kalangan suporter ekstrimis maupun suporter layar kaca andai Belgia bisa menaklukkan Prancis. Dalih sebuah pengkhianatan bisa saja menjadi isu negatif yang menimpa Henry akhir-akhir ini, karena ini menyangkut sebuah negara, bukan sebuah klub sepak bola.

Perubahan karir pemain serta karir kepelatihan di dalam suatu klub sudah lumrah terjadi dan bahkan sangat minim sekali pemain tersebut dilabeli dengan kata “pengkhianat”. Cristiano Ronaldo tidak khawatir ketika berpindah dari Sporting Lisbon menuju Manchester United yang kemudian singgah di Real Madrid hingga saat ini, begitu pun Pep Guardiola menjadikan Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City sebagai destinasi dalam karir kepelatihanya.

Tapi di sisi lain ia akan mendapatkan pujian sana sini dari suporter dan penduduk Belgia. Mereka bahkan bisa menganggap Henry orang yang paling berpengaruh setelah Martinez di dalam jajaran staff kepelatihan karena bisa memberikan bocoran taktik Prancis yang dihasilkan dari pengalamannya selama bermain bersama Les Blues.

Analisis ini mengingatkan saya pada sebuah fenomena yang ditulis oleh Irfan Teguh dalam Tirto.id (02/07/2018). Artikel tersebut mengungkapkan sebuah peristiwa yang menimpa Andres Escobar ketika dirinya dituduh melakukan pengkhianatan kepada warga Kolombia dengan melakukan gol bunuh diri yang menyebabkan Kolombia kalah 2-1 ketika melawan Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994.

Hasil tersebut membawa Kolombia semakin terbenam di juru kunci. Puncaknya ketika di laga terakhir penyisihan grup, meskipun Kolombia berhasil menggasak Swiss dengan skor telak 2-0, hasil tersebut tetap membuat Kolombia menjadi juru kunci dan sekaligus memupus harapan untuk lolos ke babak selanjutnya.

Beberapa hari pasca tersingkirnya Kolombia, tepat pada 2 Juli 1994, Escobar diberondong 6 buah timah panas oleh sekelompok orang yang setiap kali peluru dimuntahkan, pelaku berkata “terima kasih atas gol bunuh dirinya”. Peristiwa ini bisa saja dialami oleh Henry jika Belgia berhasil mengalahkan Prancis.

Perlakuan tersebut akan terjadi sebaliknya terhadap Thierry Henry jika ia beserta beberapa staff pelatih gagal membawa Belgia menggasak Prancis pada laga semifinal. Sebab, Henry akan dituduh tidak sepenuh hati oleh suporter Belgia dan dianggap tidak bersungguh-sungguh dalam memperagakan taktik saat melawan timnas yang pernah dibelanya tersebut.

Di sisi lain, suporter Prancis akan memberikan applaus yang bertebaran di dunia maya dengan redaksi “Thank You Henry” disertai emoticon kepala tertawa sumringah.

Referensi: 

http://www.goal.com/id/galeri/daftar-topskor-timnas-prancis-sepanjang-masa/1/kvusnhwmup71ksnd5m6ok4b9

https://tirto.id/gol-bunuh-diri-piala-dunia-berujung-berondongan-peluru-ke-escobar-cNcS

Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.