Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

“The Platform” dan Gambaran Struktur Kelas

Memilih Peran Berpolitik Atau Tidak Berpolitik

Selalu ada saja orang yang memilih untuk tidak memilih pada pemilihan umum (pemilu), baik sengaja maupun tak sengaja. Bisa juga disebut sebagai Golongan Putih...

Membuka Pintu Inklusi untuk Masyarakat Adat

Kekhasan identitas sosial masyarakat adat yang umumnya hidup di wilayah-wilayah terpencil adalah faktor lahirnya isolasi sosial terhadap kelompok ini. Banyak kasus menunjukkan bahwa cara...

Literasi Merawat Kebersamaan, Pengalaman di Pulau Lombok

Kita hidup di sebuah ruang bersama yang, sayangnya, masih saja kurang terasa komitmen kebersamaannya. Mestinya, hidup bersama mensyaratkan adanya kesiapan untuk adil dalam akses-akses...

Wujudkan Kembali Yogyakarta Sebagai City of Tolerance

Pagi itu saya terkejut ketika membaca postingan sebuah akun media sosial yang memberitakan peristiwa penyerangan dan penganiayaan terhadap pastur dan jemaat gereja St. Lidwina,...
Ayu Pawitri
A political science student.

Pada pertengahan Maret 2020, Netflix kembali memproduksi sebuah film berjudul The Platform, berlatar belakang tempat yang mirip “penjara” inilah tokoh utama bernama Goreng terbangun dari tempat tidurnya. Pada awal-awal film tidak disebutkan dengan jelas tempat apa yang Goreng tinggali bersama rekan sekamarnya.

Namun perlahan, rekan sekamarnya memberi tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus Goreng lakukan di tempat tersebut. Goreng mulai mengidentifikasi apa saja yang ada di kamar tersebut, mulai dari nomor kamar, buku Don Quixote yang dibawanya, serta sebuah lift vertikal yang membawa begitu banyak makanan.

Meski demikian, hal-hal aneh mulai dirasakannya, pertama saat lift pengantar makanan tiba, hanya makanan sisa yang tersedia. Goreng pun tidak bernafsu untuk makan, sementara teman sekamarnya terlihat sangat lahap.

Goreng hanya mengantongi sebuah apel, namun entah mengapa ruangannya tiba-tiba terasa sangat panas. Ternyata di dalam “penjara” tersebut, seseorang tidak diperbolehkan mengambil jatah makanan selain saat lift pengantar makanan tiba.

Begitulah kehidupan di “penjara” berlangsung, setiap bulannya seseorang akan berpindah dari kamar teratas ke kamar paling bawah atau malah sebaliknya. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, sebab itu semua diatur oleh sistem yang tidak terdeteksi oleh siapapun.

Tokoh utama dalam film ini tidak mampu melihat ketidakadilan yang terjadi setiap harinya, bagaimana seorang yang mendiami kamar paling bawah tidak akan pernah mendapat jatah makanannya, sebab orang yang tinggal di kamar teratas akan memenuhi nafsunya agar tidak kelaparan.

Film ini menjadi sindiran keras bagi pemerintah dan masyarakat kita hari ini, dalam film ini selalu diperlihatkan bagaimana makanan yang datang dari atas dimasak dan diperhatikan secara detail, tidak ada satu kesalahan pun yang dilakukan dalam menyajikan makanan tersebut. Namun, kenyataannya makanan tersebut tidak mampu menjangkau semua orang yang hidup di dalam “penjara”, terutama untuk orang-orang yang tinggal dikamar paling bawah.

The Platform menjadi gambaran bagaimana struktur dan hirarki yang terjadi dalam masyarakat menentukan kelanjutan hidup dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat kelas bawah akan selalu dirugikan karena sistem yang dibuat oleh orang-orang “di atasnya” atau dalam film ini si pembuat makanan dan pemilik “penjara” yang menerapkan sistem yang menguntungkan beberapa pihak saja.

Dalam film ini, struktur kelas menjadi hal yang begitu krusial. Pemeran dalam film ini selalu menginginkan berada di kamar teratas agar hidupnya tidak kelaparan. Perdebatan dan perkelahian juga terjadi karena caurnya sistem yang diberlakukan di penjara ini. Tidak ada kata berbagi untuk orang-orang di kamar terbawah, sebab semua orang hanya memikirkan bagaimana perut mereka harus terisi penuh.

Meski demikian, Goreng sebagai pemeran utama digambarkan sebagai seorang yang berupaya keras untuk menerobos sistem dan membuat penjara menjadi lebih manusiawi, dengan cara memberi tahu orang-orang untuk menyisakan makanan dan mengambil seperlunya saja, meski itu sia-sia.

Saya menduga buku Don Quixote yang dibawa Goreng sengaja diperlihatkan untuk menggambarkan kegigihan Goreng sebagai “pahlawan kesiangan” sebagaimana isi dari buku tersebut.

Dengan berbagai cara Goreng beserta rekannya memikirkan cara untuk mengirim sinyal bahwa keadaan di dalam penjara sangat tidak manusiawi. Ia mengorbankan dirinya dan mengirim sebuah sinyal yang diceritakan dengan apik pada akhir film ini. Meski berhasil mengirim sinyal tersebut, Goreng tidak pernah tahu apakah sinyal tersebut mampu merubah sistem yang terjadi di dalam penjara atau tidak.

Apa yang dilakukan Goreng merupakan tamparan sekaligus ajakan bagi kita semua untuk tetap melawan dan tidak tunduk terhadap sistem yang mengopresi. Sebab, ketika orang-orang “di atas” tidak mampu menjamin keadilan bagi masyrakatnya, maka sudah seharusnya masyarakat bersolidaritas untuk melawan sistem yang tidak berpihak pada kaum-kaum “bawah”.

Ayu Pawitri
A political science student.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.