OUR NETWORK

“The Platform” dan Gambaran Struktur Kelas

Apa yang dilakukan Goreng merupakan tamparan sekaligus ajakan bagi kita semua untuk tetap melawan dan tidak tunduk terhadap sistem yang mengopresi

Pada pertengahan Maret 2020, Netflix kembali memproduksi sebuah film berjudul The Platform, berlatar belakang tempat yang mirip “penjara” inilah tokoh utama bernama Goreng terbangun dari tempat tidurnya. Pada awal-awal film tidak disebutkan dengan jelas tempat apa yang Goreng tinggali bersama rekan sekamarnya.

Namun perlahan, rekan sekamarnya memberi tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus Goreng lakukan di tempat tersebut. Goreng mulai mengidentifikasi apa saja yang ada di kamar tersebut, mulai dari nomor kamar, buku Don Quixote yang dibawanya, serta sebuah lift vertikal yang membawa begitu banyak makanan.

Meski demikian, hal-hal aneh mulai dirasakannya, pertama saat lift pengantar makanan tiba, hanya makanan sisa yang tersedia. Goreng pun tidak bernafsu untuk makan, sementara teman sekamarnya terlihat sangat lahap.

Goreng hanya mengantongi sebuah apel, namun entah mengapa ruangannya tiba-tiba terasa sangat panas. Ternyata di dalam “penjara” tersebut, seseorang tidak diperbolehkan mengambil jatah makanan selain saat lift pengantar makanan tiba.

Begitulah kehidupan di “penjara” berlangsung, setiap bulannya seseorang akan berpindah dari kamar teratas ke kamar paling bawah atau malah sebaliknya. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, sebab itu semua diatur oleh sistem yang tidak terdeteksi oleh siapapun.

Tokoh utama dalam film ini tidak mampu melihat ketidakadilan yang terjadi setiap harinya, bagaimana seorang yang mendiami kamar paling bawah tidak akan pernah mendapat jatah makanannya, sebab orang yang tinggal di kamar teratas akan memenuhi nafsunya agar tidak kelaparan.

Film ini menjadi sindiran keras bagi pemerintah dan masyarakat kita hari ini, dalam film ini selalu diperlihatkan bagaimana makanan yang datang dari atas dimasak dan diperhatikan secara detail, tidak ada satu kesalahan pun yang dilakukan dalam menyajikan makanan tersebut. Namun, kenyataannya makanan tersebut tidak mampu menjangkau semua orang yang hidup di dalam “penjara”, terutama untuk orang-orang yang tinggal dikamar paling bawah.

The Platform menjadi gambaran bagaimana struktur dan hirarki yang terjadi dalam masyarakat menentukan kelanjutan hidup dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat kelas bawah akan selalu dirugikan karena sistem yang dibuat oleh orang-orang “di atasnya” atau dalam film ini si pembuat makanan dan pemilik “penjara” yang menerapkan sistem yang menguntungkan beberapa pihak saja.

Dalam film ini, struktur kelas menjadi hal yang begitu krusial. Pemeran dalam film ini selalu menginginkan berada di kamar teratas agar hidupnya tidak kelaparan. Perdebatan dan perkelahian juga terjadi karena caurnya sistem yang diberlakukan di penjara ini. Tidak ada kata berbagi untuk orang-orang di kamar terbawah, sebab semua orang hanya memikirkan bagaimana perut mereka harus terisi penuh.

Meski demikian, Goreng sebagai pemeran utama digambarkan sebagai seorang yang berupaya keras untuk menerobos sistem dan membuat penjara menjadi lebih manusiawi, dengan cara memberi tahu orang-orang untuk menyisakan makanan dan mengambil seperlunya saja, meski itu sia-sia.

Saya menduga buku Don Quixote yang dibawa Goreng sengaja diperlihatkan untuk menggambarkan kegigihan Goreng sebagai “pahlawan kesiangan” sebagaimana isi dari buku tersebut.

Dengan berbagai cara Goreng beserta rekannya memikirkan cara untuk mengirim sinyal bahwa keadaan di dalam penjara sangat tidak manusiawi. Ia mengorbankan dirinya dan mengirim sebuah sinyal yang diceritakan dengan apik pada akhir film ini. Meski berhasil mengirim sinyal tersebut, Goreng tidak pernah tahu apakah sinyal tersebut mampu merubah sistem yang terjadi di dalam penjara atau tidak.

Apa yang dilakukan Goreng merupakan tamparan sekaligus ajakan bagi kita semua untuk tetap melawan dan tidak tunduk terhadap sistem yang mengopresi. Sebab, ketika orang-orang “di atas” tidak mampu menjamin keadilan bagi masyrakatnya, maka sudah seharusnya masyarakat bersolidaritas untuk melawan sistem yang tidak berpihak pada kaum-kaum “bawah”.

Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Udayana. Suka pantai dan kebun. Sesekali menulis, seringkali tidak percaya pada diri dan hanya menulis lewat blog pribadinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.