OUR NETWORK

Tetap Ingin Dibilang Asli Desa

Dalam konteks negara, dua kandidat presiden dan wakilnya yang bertarung saat ini juga sangat memperhatikan pembangunan infrastruktur, yang belum tentu berbanding lurus dengan pembangunan pemikiran manusianya. Konsep yang tentu sedikit banyak diwarisi orba.

Pembangunan infrastruktur yang gila-gilaan, jujur saja memberi rasa takut pada diri saya, jangan-jangan kelak giliran desa saya yang akan mendapat ucapan selamat datang dari deretan alat berat.

Dalam konteks negara, dua kandidat presiden dan wakilnya yang bertarung saat ini juga sangat memperhatikan pembangunan infrastruktur, yang belum tentu berbanding lurus dengan pembangunan pemikiran manusianya. Konsep yang tentu sedikit banyak diwarisi orba.

Tolak ukur kemajuan suatu desa, tidak dimungkiri bisa dilihat dari pembangunan yang menggeliat. Persoalan bagaimana sirkulasi dana pembangunan bangunan terkait, berapa besar anggarannya, efektifkah untuk menopang roda ekonomi warga, sering dinomorduakan. Belum lagi, yang kerap dilupakan oleh jajaran pemerintah desa, ialah kinerja orang-orang yang setiap hari duduk di kantor kelurahan.

Pembangunan yang paling digencarkan di desa-desa ialah akses jalan yang menghubungkan antardesa, sebagai salah satu kunci penopang ekonomi. Di musim politik seperti ini, kerap sekali para caleg menggembor-gemborkan janji untuk memperbaiki jalan rusak, membangun gedung-gedung, dan lain sebagainya.

Para caleg menyumbangkan dana pembangunan kepada yayasan-yayasan yang mempunyai lembaga pendidikan, organisasi massa, atau kelompok-kelompok tani, dan tentu harus ditukar dengan suara dalam pemilu nanti.

Strategi ini tentu jitu dan banyak mengundang simpati pemilih. Masyarakat perdesaan mengharapkan adanya orang-orang yang memperhatikan kondisi mereka.

Pembangunan, sedikit demi sedikit tentu akan menjalar sesuai dengan kebutuhan ekonomi. Dalam bentuknya yang paling brutal, efek pembangunan (entah itu oleh negara maupun oleh para oligarki kapital) bisa kita jumpai lewat serentetan aksi kekerasan terhadap para petani yang menolak pembangunan tersebut yang terjadi di banyak daerah.

Desa saya terletak di dataran tinggi di kabupaten Banjarnegara. Kondisi geografis semacam ini tentu membuat warga desa saya banyak yang menjadi petani, dengan menanam cabai, kol, kentang, atau tomat. Namun tanaman jagung dan padi, dua makanan pokok, juga tumbuh subur. Jagung dan padi ditanam bukan untuk dijual, namun untuk konsumsi sendiri. Barulah jika ada kebutuhan mendesak, jagung dan padi bisa menjadi penghasil duit cepat.

Di barat daya desa, ada tambang batu alam yang dikelola oleh individu-individu yang sudah beroperasi sejak sekira tahun 1995. Tambang ini terletak di sebuah bukit. Aktivitas penambangan tentu sedikit demi sedikit mengikis bukit tersebut. Beberapa kali sempat terjadi sengketa antara warga terdampak dengan pemilik tambang. Lewat beberapa negosiasi, sengketa itu berhasil diselesaikan.

Empat tahun berada di Jogja, karena kebetulan saya lulus SNMPTN empat tahun lalu, membuat saya harus berjarak dengan kampung halaman. Jujur saja, banyak nama-nama warga yang saya lupa, terutama mereka yang sudah tua dan mereka yang lahir belakangan.

Jarak itu tentu menciptakan sedikit keterasingan ketika sekali dua kali saya pulang saat liburan. Jalan-jalannya sudah berubah – diperlebar dan tentu sudah halus. Beberapa meter ladang milik warga harus terkena dampak pembangunan jalan usaha tani. Kini jalan-jalan itu mulai diperbaiki – diberi pondasi batu, dan beberapa sudah mulai diaspal.

Entah mengapa saya kurang suka dengan pembangunan yang seperti itu. Pembukaan jalan tentu akan berdampak pada kegiatan warga. Baik dan buruknya selalu ada. Dampak baiknya, tentu warga akan mudah mengangkut hasil panen atau membawa pupuk dari atau ke ladang. Dampak buruknya adalah ancaman longsor. Jika segala perencanaan pembangunan tidak dilakukan dengan matang, maka akan sangat rentan terhadap bencana, mengingat jalan-jalan itu melewati tebing yang cukup tinggi.

Jika infrastruktur jalan baik, tak menampik akan adanya infestor yang masuk ke desa saya yang menjelma menjadi mesin perusak alam. Ini yang sangat mengkhawatirkan saya. Desa saya kelak akan menjadi tempat industri, dan tak layak disebut sebagai desa dengan segala kekhasannya.

Saya berkaca dari cerita teman-teman saya, bahwa daerah tempat tinggal mereka kini banyak dimasuki oleh pabrik-pabrik yang akhirnya memberi dampak buruk. Ada salah seorang teman yang konon desanya akan terkena imbas pembangunan jalan tol, yang tentu membuat teman saya itu khawatir akan direlokasi.

Peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap para petani di berbagai wilayah atas nama pembangunan, sebenarnya menjadi alarm bagi desa-desa dan petani khususnya bahwa dampak buruk pembangunan akan selalu ada, dan lebih banyak dampak buruk yang didapat dari pada keuntungannya.

Relokasi dengan hitung-hitungan ganti rugi dan ganti untung yang tepat, akan dianggap fair. Tapi tentu tidak semua hal bisa dihitung dengan untung dan rugi. Pemindahan kampung halaman dan ladang baru adalah hal yang lain.

Banyaknya pemuda desa yang merantau tentu satu bukti bahwa ada yang tak tepat sasaran dari program pembangunan desa apa pun itu bentuknya. Pembangunan, dalam prosesnya, hanya untuk ajang proyek para elit desa. Warga sebagai komunitas pertama yang harus dilayani, kerap diabaikan, alih-alih dilibatkan dalam prosesnya.

Tidak jelasnya alokasi dana, tidak tepat sasarannya program pemerintah desa, kinerja perangkat desa yang buruk, pembangunan yang terkesan asal-asalan, tidak diperhatikannya kesejahteraan pengurus PKK, menjadi hal yang tak disadari. Situasi seperti ini tentu menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan warga terhadap pemerintah desa.

Saya senang ketika ada sekelompok pemuda yang berani menyuarakan apa yang mereka anggap tidak sesuai dengan melancarkan kritik terhadap pemerintah desa. Mereka ini yang sebenarnya tahu betul ada yang tidak beres dalam tata kelola desa, namun tidak diberi ruang untuk mengudar gagasan.

Kelompok-kelompok seperti ini memang diperlukan kala kondisi warga memang sudah muak dengan kinerja aparat desa, yang masih sangat feodal dan menjunjung tinggi adat “nggak enak”an. Kelompok pemudalah yang diharapkan mampu menembus batas itu.

Desa saya ini sangat potensial jika dikelola dengan baik. Ada objek pariwisata air terjun yang terkendala sulitnya akses menuju ke sana. Ini adalah potensi yang jangan sampai salah urus. Juga kabar terakhir yang saya dengar bahwa desa saya akan dilewati salah satu opsi jalan provinsi menuju kabupaten Pekalongan.

Ada yang menyambut baik, tentunya. Tapi saya pribadi tak terlalu suka. Saya tetap suka menjumpai desa saya yang sunyi, yang tak terkotori oleh asap kendaraan, yang orang-orangnya masih terbuka dan tak egois. Saya tetap ingin dibilang asli ndesa, karena di sanalah saya betul-betul merasa ada.

Sumber Gambar:

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-HHWrboF3VSU%2FW3vw2YI0T1I%2FAAAAAAAAC9c%2FkylcA9CSXaUlsBRScSaludfwXw2wESp7ACLcBGAs%2Fs1600%2FIMG_0025.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fsarwodadi.blogspot.com%2F2018%2F08%2Fpadat-karya-desa-sarwodadi-pejawaran.html&docid=6VnbrWemCkFeEM&tbnid=PyeJqWpGz_4SNM%3A&vet=10ahUKEwjm_8mH7KXhAhW-7XMBHSXDBPQQMwgpKAAwAA..i&w=1000&h=666&safe=strict&client=firefox-b-ab&bih=664&biw=1366&q=desa%20sarwodadi%20pejawaran&ved=0ahUKEwjm_8mH7KXhAhW-7XMBHSXDBPQQMwgpKAAwAA&iact=mrc&uact=8

Belajar di prodi Ilmu Sejarah IKIP Karangmalang

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…