Selasa, Maret 9, 2021

Test The Water, Duet Jokowi dan Cak Imin

Basa-Basi

Jika suatu hari kamu hidup bermasyarakat atau di dunia kerja, saya sarankan kamu untuk berlatih  berbasa-basi terlebih dahulu supaya kamu bisa diterima di lingkunganmu.Basa-basi....

Aksi Klithih KPK

Merajalelanya aksi Klithih beberapa waktu terakhir, menimbulkan keprihatinan dan kekawatiran bagi masyarakat. Aksi Klithih yang dilakukan tidak pandang waktu ini bahkan sudah dalam level...

Menjadi Muslim yang Radikal

Dalam kamus politik Indonesia kontemporer, ‘radikalisme’ adalah satu dari sekian istilah yang paling sering disalahpahami dan disalahgunakan. Terminologi yang sebetulnya telah lama digunakan di...

Peran Orang Tua, Siswa, dan Guru dalam Pendidikan 4.0

“Change won’t wait for us: business leaders, educators and governments all need to be proactive in up-skilling and retraining people so everyone can benefit...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Mengawali tahun 2018, Jokowi tiba-tiba mengajak Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, untuk meresmikan Integrated Building ( Kereta ) Bandara Soetta. Mereka berdua terlihat sangat akrab dalam prosesi peresmian itu, dari Bandara Soetta sampai Stasiun Sudirman Baru, bahkan di dalam kereta mereka duduk berdampingan, dan terlihat sesekali bercanda.

Dikutip dari Tempo (2/1), Jokowi mengaku menelpon Muhaimin, mengajaknya bertemu di bandara.

“Saya dengan beliau ini lama enggak ketemu. Terus kemarin saya telepon, Saya ajak di bandara saja, sambil naik kereta bandara,” kata Jokowi di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta Pusat.

Dalam dunia politik ada sebuah adagium yang masyhur“ tidak ada makan siang gratis”, begitu pula agenda peresmian kereta bandara yang tiba-tiba Jokowi mengundang Cak Imin tentu bukan tanpa alasan. Apalagi ini adalah momen pembuka tahun 2018, yang notabene adalah tahun politik. Patut kita duga, mantan Gubernur DKI itu sedang menyisipkan pesan kepada masyarakat. Lalu kira-kira apa pesan yang sedang disisipkan oleh Jokowi dalam pertemuanya dengan Cak Imin itu?

Apakah ini adalah langkah “test the water” dari Jokowi, untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat, bila namanya di duetkan dengan Cak Imin di Pilpres 2019 nanti? Patut diduga, itu adalah pesan yang di sampaikan oleh Jokowi. Untuk menelisik lebih dalam, tulisan ini akan mencoba untuk menganalisanya pelan-pelan.

Hasil Survei Partai Kebangkitan Bangsa 

Bicara mengenai dinamika politik nasional, tidak akan lepas dari partai politik. Dalam iklim demokrasi Indonesia, parpol menjadi kendaraan yang sah untuk mendistribusikan pemimpin di pemerintahan. Dalam hal ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai kendaraan politik, dimana Cak Imin adalah nahkodanya, seberapa kuat daya tawar PKB untuk membawa Cak Imin, sehingga pantas di sandingkan dengan Jokowi di Pilpres 2019.

Dikutip dari news.detik.com, (26 November 2017), survey Poltrecking Indonesia, hasilnya menempatkan PDIP sebagai yang teratas dengan 23,4 %, dan menyusul secara berurutan, Gerindra 13,6 %, Golkar 10,9 %, PKB 5,1 %, Demokrat 4,2 %, NasDem 3,0 %, PKS 2,6 %, PAN 2,1 %, PPP 2,1 % Perindo 1,3 %, Hanura 0,7 %, PSI 0,7 %, PBB 0,2 %, dan PKPI 0,0 %. Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak tahu 28,8 %. Poltrecking Indonesia melakukan survey ini mulai 8-15 November 2017. Survey ini menggunakan metode stratified multistage random dengan 2400 responden minimal 17 tahun atau sudah menikah dengan margin eror +/- 2 % pada tingkat kepercayaan 95 %.

Bila melihat survey yang dilakukan di akhir 2017 ini, standing position PKB cukup kuat. Bisa dilihat PKB menempati urutan teratas, diantara Partai-partai berbasis masa religius. Sehingga bisa dikatakan PKB menjadi representasi dari mayoritas pemilih dari masa religius. Terlepas memang masih ada variabel lain untuk mengatakan suatu partai bisa menjadi representasi masa religius itu sendiri.

Namun berangkat dari survey tadi, minimal PKB punya bekal diantara banyaknya variabel yang ada. Standing position ini menjadikan Cak Imin pantas untuk mendampingi Jokowi yang merupakan representasi dari kalangan Nasionalis. Dan kita tahu bersama bahwa komposisi nasional – religius sedang menjadi komposisi yang lagi laku di pentas Politik Nasional sekarang ini.

Dukungan standing position PKB untuk membawa Cak Imin menjadi pendamping Jokowi untuk Pilpres 2019, di dukung dengan pandangan beberapa pengamat politik. Salah satunya adalah pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, dikutip dari news.liputan6.com (08 Desember 2017), dia mengatakan bahwa, “ peluang Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 sangat terbuka.

Pasalnya, menurut dia, Jokowi memerlukan seseorang yang dekat dengan Islam. Sehingga masuk akal jika Jokowi menggandeng Muhaimin. Menurutnya pula, Jokowi bisa saja menggandeng tokoh dari Partai Islam seperti PAN dan PPP. Namun, sosok Nahdiyyin atau dari NU lebih tepat mendampingi jokowi.

Meski dari dua segi tadi, relevan dengan ide menyandingkan Cak Imin dengan Jokowi, namun ada fakta lain yang cukup menarik. Yakni, bahwa dalam salah satu survey yang dilakukan hampir bersamaan dengan survey di atas tadi, Cak Imin tidak masuk dalam simulasi pasangan Capres-Cawapres 2019 versi Indo Barometer.

Dikutip dari nasional.sindonews.com ( 03 Desember 2017), simulasi yang muncul sebagai kandidat Cawapres dari Jokowi dan Prabowo versi Indo Barometer adalah nama-nama lain di luar Cak Imin. Nama-nama yang muncul yakni, Gatot Nurmantyo, Anis Baswedan, Tito Karnavian, Budi Gunawan, Agus Harimurti Yudhoyono, Puan Maharani, Dan Mueldoko.

Bila dilihat dari sisi positif, apsenya nama Cak Imin di simulasi survey tadi, mungkin menjadi salah satu alasan Jokowi untuk melontarkan nama Cak Imin ke publik dengan mengajak Cak Imin di peresmian kereta tadi. Dan bisa dipastikan bahwa media akan menyorot hal ini, lalu setelah itu akan sampai ke publik. Selanjutnya di mungkinkan pula, nama Cak Imin akan masuk dalam simulasi-simulasi survey selanjutnya, dengan begitu bisa dilihat seberapa tinggi survey bila Jokowi di duetkan dengan Cak Imin.

Terlebih mesin politik PKB di daerah nampaknya serius untuk mendorong Cak Imin menjadi Cawapres. Terbukti sudah banyak baliho yang terpampang di sudut-sudut Kota di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah, kelompok-kelompok masyarakat juga sudah mendeklarasikan Cak Imin sebagai Cawapres 2019. Hal ini akan semakin mendukung tersosialisasikanya nama Cak Imin.

Muda, Pengalaman, dan Satu Visi Menjaga NKRI 

Kalau di analisis lebih lanjut, sepertinya tidak salah bahwa Jokowi memang telah memberi sinyal untuk mensosialisasikan Cak Imin ini. Karena Cak Imin ini adalah tokoh yang komplit. Diusianya yang masih muda, Cak Imin telah telah dipercaya dan sukses menahkodai PKB, membawa PKB dari saat terbelah dan terpuruk sampai sekarang menjadi partai yang punya elektabilitas cukup tinggi dan di segani.

Dari sisi pengalaman, tidak diragukan lagi. Sejak masa kuliah telah menjadi Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Jogja, dan berlanjut memimpin pucuk pimpinan Pengurus Besar. Cak Imin juga pernah menjadi anggota legislatif, sebagai Ketua Fraksi PKB DPR RI. Tidak sampai di situ saja, ia juga masuk kabinet Susilo Bambang Yudoyono, sebagi Menteri Tenaga Kerja.

Dan yang paling penting Cak Imin ini satu visi dalam menjaga NKRI. Berhaluan Islam moderat, yang juga berjiwa santri, membuat tidak diragukan kecintaanya terhadap NKRI. Latar belakang santri juga akan berguna bagi Jokowi untuk menghalau isu PKI yang sering di tujukan kepada Jokowi. Secara kelembagaan, ketika Jokowi menerbitkan Perppu ormas untuk membubarkan ormas beridiologi kontra NKRI, Cak Imin mem-back up keputusan Jokowi.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.