Selasa, Maret 9, 2021

Teroris Perempuan Lebih Sadis?

Dilematis Revolusi Industri 4.0

Yang abadi dalam kehidupan manusia adalah perubahan. Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang selalu mengubah dirinya untuk menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Selain beradaptasi dengan...

Revolusi Industri 4.0 Merubah Format Kehidupan

Revolusi industri 4.0 secara umum bisa digambarkan dalam ungkapan “internet of think” menurut Nurunniyah salah seorang Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta. Hal ini menandai...

Mau Dibawa Kemana Revolusi Industri 4.0 Kita?

“Halo Google, cari info tentang mobil listrik!”, adalah sepetik kalimat yang mungkin tidak lagi asing dalam keseharian kita sebagai pengguna mesin pencari Google bertipe...

Masalah Properti Milenial dan Land Value Tax

Tanah merupakan aset berharga yang mampu memberikan imbal hasil tinggi bagi pemiliknya. Imbal hasil tersebut didapatkan dari meningkatnya harga jual tanah setiap tahunnya. Imbas dari...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Tragedi ledakan bom di tiga gereja Surabaya yang merenggut puluhan korban jiwa, baik dewasa maupun anak-anak masih menyisakan kesedihan panjang bagi bangsa ini. Rakyat Indonesia, khususnya publik kota Surabaya begitu syok berat, ketika tahu bahwa pelaku bom bunuh diri itu adalah seorang wanita dan dua orang putrinya.

Sambil menggandeng dua putrinya, Puji Kuswati yang bercadar dan berpakaian hitam menuju lokasi parkir Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Dipenogoro, Surabaya, Minggu 13 Mei 2018, pukul 08.00 WIB. Di pinggang Puji, terselip bom yang  siap diledakkan. Kedatangan Puji ditolak satpam GKI bernama Yesaya.

Puji ngotot memaksa masuk sambil memeluk Yesaya, bom pun meledak dahsyat. Berselang lima menit, bom lainnya juga meledak dalam dua tas yang dibawa Puji dan dua putrinya yaitu Fadilah Sari (12 tahun) dan Pemela Riskika (9 tahun).

Semua pelaku tewas di tempat. Puji bersama kedua anaknya tercatat sebagai  ‘pengantin’ perempuan pertama dalam sejarah tindak pidana terorisme Indonesia. Menurut polisi, Puji merupakan salah satu anggota Jamaah Asharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman yang mendekam di penjara Mako Brimob, Depok.

Aksi bom bunuh diri yang dilakukan perempuan, tergolong sebagai fenomena baru di Indonesia yang sangat mengejutkan. Dalam tataran budaya nasional, selama ini perempuan Indonesia hanya memainkan peran sebagai sosok seorang ibu rumah tangga yang berfungsi membimbing dan merawat anak-anak sekaligus melayani kebutuhan hidup suami.

Status sosial perempuan Indonesia mengalami pergeseran sangat keras sejak munculnya gerakan feminisme di dunia. Namun, pergeseran status sosial perempuan ini, hanya terfokus dalam ranah karir publik sebagai upaya untuk memecah stereotype gender.

Berbeda dengan pergeseran status sosial perempuan dalam kelompok-kelompok radikal yang menganut aliran agama tertentu. Dalam tataran ideologi mereka, perempuan mempunyai hak dan kewajiban untuk berperang dan berjihad sebagaimana layaknya dilakukan seorang lelaki.

Lemahnya daya nalar (rasionalitas) serta minimnya pemahaman spiritualitas perempuan dalam kelompok-kelompok radikal ini, membuat kaum perempuan mudah terpapar oleh ajaran agama dan ideologi yang menyesatkan. Namun, mereka dijanjikan  masuk surga, bila tewas dalam berjihad atau berperang.

Chaula Rininta Anindya, analis dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang University Singapura, mengatakan, bomber perempuan mengafirmasi fakta bahwa jagat terorisme tak lagi hanya didominasi kaum laki-laki.

“Kenapa perempuan? Karena secara strategis dan taktikal jelas perempuan punya peran yang efektif. Secara strategis, efek terornya besar karena (publik) tidak terbiasa dengan perempuan sebagai penyerang. Biasanya akan muncul overreaction yang justru itu menjadi tujuan utama dari tindakan terornya,” ujar Chaula saat berbincang dengan salah satu media di Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018 lalu.

Apa yang dikatakan Chaula mungkin ada benarnya. Saat ini, peran dan fungsi perempuan dalam kelompok-kelompok radikal telah dinaikkan derajatnya untuk mengemban tugas-tugas jihad yang biasanya dilakukan laki-laki. Para perempuan ini wajib berjihad dalam negara yang damai (negara dalam keadaan tidak perang). Tindakan jihad perempuan, seperti kasus bom bunuh diri di gereja Surabaya, justru lebih sadis ketimbang para jihadis pria.

Untuk masa-masa mendatang, para teroris ini akan terus memakai perempuan sebagai eksekutor di lapangan, karena umumnya perilaku perempuan tidak terlalu mudah dicurigai oleh aparat keamanan.

Dalam pengecekan bom oleh aparat keamanan, umumnyan bom yang dibawa teroris perempuan sering luput dari deteksi, karena alasan etika dan kesopanan saat melakukan pemeriksaan fisik perempuan.

Saat ini,  perempuan yang siap menjadi ‘pengantin’ untuk melakukan bom bunuh diri, diduga jumlahnya semakin banyak (mantan janda para teroris ISIS). Perempuan mempunyai potensi penting bagi para pelaku teror untuk dimanfaatkan sebagai eksekutor bom bunuh diri.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Berita sebelumnyaAltruisme yang Terbatas
Berita berikutnyaKrisis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.