in

Terbongkar, Drama Percintaan Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil


Ini hanya analisis Politik yang saya kemas dalam cerita drama. Karena Menarik sekali mencermati langkah Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil dan tentu saja Partai Golkar di Pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun depan.

Ceritanya seperti masa-masa anak sekolah seketika sedang rebutan mencuri Perhatian perempuan yang aduhai.

Logikanya seperti ini, Partai Golkar itu ibarat Perempuan cantik yang aduhai. Kenapa, karena Partai Golkar tempat berteduhnya Dedi Mulyadi memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi calon Gubernur Jawa Barat.

Semua calon sudah pasti dong ingin diusung oleh Partai Golkar, karena dengan diusungnya oleh Partai Golkar, minimal tujuan menjadi calon Gubernur selangkah lebih dekat.

Dedi Mulyadi adalah calon suami dari Partai tersebut, secara dia kan ketua Partai Golkar Jawa Barat yang sudah di usung oleh semua DPD 2 se Jawa Barat. Setya Novanto adalah ayah dari Partai tersebut.

Semua keinginan kader tidak akan bisa dicapai sebelum ada restu dari sang ayah. Putusan ayah adalah putusan bersama yang harus di sepakati oleh semua keluarga (Pengurus Partai)

Untuk memperjuangkan yang di cintainya (Partai Golkar) Dedi Mulyadi rela mengorbankan semua yang ia punya. Uang, waktu, tenaga, fikiran dan sebgainya, semuanya di berikan. Maklum lah, karena semuanya saling mencintai, maka semuanya rela dikorbankan. Termasuk mengorbankan dirinya sendiri, asalkan Partai yang di cintainya tetap menjadi nomor satu.

Hasilnya menakjubkan. Berdasarkan hasil survey Golkar menjadi Partai favorit di Jawa Barat. Sampai bisa mengalahkan PDIP yang merupakan Partai Pemenang pemilu pada tahun lalu. Bagaimana dengan dirinya? Walaupun awalnya jeblok, tetapi grafiknya terus naik, sekarang berada di Posisi ketiga

Langkah yang dilakukan Dedi luar biasa, ia merubah paradigma partai yang kaku menjadi Partai yang Pleksibel, sangat peduli pada kemanusiaan dan mengusung jargon ‘gerakan sosial Partai Golkar’

Dedi mendekatkan sedekat mungkin Golkar dengan masyarakat, karena baginya Golkar adalah milik masyarakat. Bukan milik segelintir orang. Ketika Golkar milik masyarakat, maka Beringin harus tumbuh di antara kumpulan masyarakat.

Baca Juga :   ‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’

Pelantikan yang biasanya di gelar dalam ruangan sejuk, dirubah menjadi tempat terbuka, pinggiran rumah kumuh yang hampir ambruk.

Dedi Mulyadi tidak mau ketika Golkar yang notabenya partai masyarakat, harus bersebrangan dengan masyarakat yang hidupnya dalam kekurangan, maka dengan tegas ia mengatakan ‘tujuan kita berpolitik bukanlah untuk memperbesar perut sedangkan masyarakat yang seharusnya di perjuangkan perutnya semakin ‘mengkrucut’.

Setiap pelantikan yang digelar oleh Golkar pasti ada warganya yang tertolong, entah itu rumah, modal usaha, modal ternak, maupun modal berobat warga yang tidak mampu. Entah berapa ratus, bahkan mungkin ribuan orang yang telah di bantu.


Saat kondisi keuangan tidak mencukupi untuk membayar biaya pengobatan, maka dia memerintahkan anggota fraksinya patungan untuk membayar biaya pengobatan tersebut. Devina-Devani bayi yang terlahir dempet dari Sumedang meraskan langsung apa yang dilakukan Partai Golkar dibawah gerakan sosial yang terus di dengungkan Dedi Mulyadi.

Berjalannya waktu ketika pasangan ini akan menikah (Dedi dan Golkar) untuk pencalonannya menjadi Gubernur Jawa Barat karena desakan yang sangat kuat dari masyarakat Jawa Barat, datanglah orang ketiga (Ridwan Kamil) yang ini menggagalkan pernikahan mereka.

Siapakah Ridwan Kamil ini? Dia adalah orang kaya, ganteng dan tentunya orang kota dengan segala gemerlapnya.

Kehadirannya bukan hanya sebatas ingin menggagalkan pernikahan Dedi dan Golkar, tetapi juga ingin menikahi Golkar. Sang ayah pun mulai mencari tau setelah mendengar informasi siapa Ridwan Kamil ini. Kakak dari calon Pasangan Dedi Mulyadi (Partai Golkar) menyatakan tertarik sama Ridwan Kamil.

Baca Juga :   Diskursus Dibalik Pemutaran dan Peremajaan Film G30S

Nusron Wahid, Nurdin Halid pun yang merupakan kakaknaya mulai membisiki sang ayah.

Mungkin kurang lebihnya seperti ini. ‘yah, Ridwan Kamil ini lebih menjanjikan dari pada Dedi Mulyadi. Lebih ganteng, lebih kaya dan lebih populer. Dedi Mulyadi siapa dia? Dia hanya orang kampung, gak punya uang, popularitasnya juga no tiga.’ Singkat katanya, Dedi tidak ada apa-apanya di bandingkan Ridwan Kamil.

Dengan bijak si ayah pun menjawab, ‘anak-anaku, kita tidak bisa memutuskan secara personal. Partai Golkar adalah partai keluarga yang harus di putuskan secara bermusyawarah. Tidak bisa sepihak ataupun secara personal. Harus dilihat dulu bagaimana dampaknya. Apabila merugikan banyak pihak lebih baik tidak usah’

Bagaimana tanggapunmu Yahya Zaini dan Idrus Marham, yang merupakan kakak-kakak dari Nurdin dan Nusron, ‘ayah, saya tetap mendukung Dedi Mulyadi untuk menikahi adikku (Partai Golkar) yang sudah teruji kontribusi dan kesetiaannya. Saat hujan, gelombang, badai, dan petir menyambar-nyambar, Dedi Mulyadi setia kepada adikku. Berbeda dengan Ridwan Kamil, dia datang hanya seketika ada maunya saja. Lihat saja bagaimana dia memperlakukan mantanya, PKS dan Grindra. Seketika sudah menggapai apa yang di inginkan, dia mencampakannya begitu saja, dimana harga diri kita sebagai keluarga terhormat ketika orang yang sudah di campakan oleh orang lain, kita memungutnya. Mau disimpan dimana harga diri dan wajah kita kalau kita menerima Ridwan Kamil?

 

Belum lagi, tetangga besar kita seperti PDIP dan Hanura siap membantu Dedi Mulyadi untuk menjadi mewujudkan mimpi-mimpi dari masyarakat Jawa Barat. Belum lagi bagaimana perasaan Dedi Mulyadi ketika kita sebagai orang tua tidak berlaku adil, kita harus memberikan contoh yang baik kepada adik-adik saya dan masyarakat. apa yang dimiliki oleh Ridwan Kamil tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah di perbuat dan diberikan Dedi Mulyadi untuk Partai Golkar.

Bagaima menurutmu Idrus Marham, saya setuju dengan apa yang di katakan Yahya. Saya masih mempriotskan Dedi.

Baiklah anak-anakku. Masukan kalian baklan ayah pertimbangkan. Baik buruknya kita pertimbngkan bersama. Beri waktu ayah untuk memutuskan dan menandatangani Rekomendasi untuk Dedi Mulyadi. Tutup Setya Novanto

Baca Juga :   Seharusnya Wajah Islam Kita

Sejauh ini Partai Golkar memang belum memang belum memutuskan siapa yang akan di usung untuk menjadi Calon Gubernurnya. Kehadiran Ridwan Kamil memang membuat kehawatiran kader Partai Golkar di jabar. Ada kemungkinan yang sangat mungkin terjadi, ketika Golkar tidak mengusung Dedi Mulyadi menimbulkan keretakan di dalam tubuh Partai itu sendiri.

Dalam sebuah hubungan, orang ketiga yang hadir seperti Ridwan Kamil dengan menawarkan segala kemewahannya selalu menimbulkan masalah.

Pesan saya untuk Golkar, Putuskan orangnya dan putuskan permaslahannya. Jangan putuskan Hubungannya. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama.

Penutup, sebelum janur kuning melengkung memang masih bisa di perdebatkan bahkan kasarnya masih milik siapa saja. Tetapi sangat tidak baik ketika ikut campur urusan dapur rumah tangga orang lain.

Menggunting dalam lipatan itu menyakitkan, lebih baik menjadi orang yang Gantle dan berani terang-terangan. Politik itu adalah Adab dan etika.

Ketika berpolitik adab dan etika itu di tinggalkan, lantas apa bedanya kita dengan orang yang tidak memiliki sopan santun.


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR