OUR NETWORK

Tenun Persatuan, Tinggalkan Perseteruan!

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) berjabat tangan dengan calon Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) sebelum melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4). Anies Baswedan unggul dalam hitung cepat pada Pemilihan Gubernur DKI 2017 putaran kedua. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Jika ingin mengetahui karakter seseorang, maka beri ia kekuasaan (Abraham Lincoln)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pantas dinobatkan sebagai barometer politik nasional. Jakarta, tempat berkumpulnya para elit bangsa, tempat kekuasaan negara berpusat merupakan lingkungan yang sangat politis.

Adu strategi yang begitu kompleks dalam perhelatan pemilihan gubernur DKI tentu tidak mengherankan kita, karena Jakarta merupakan ‘centre of power’ (pusat kekuasaan). Jadi, wajar saja setiap interest group (kelompok kepentingan) secara all out mencoba merebut puncak kekuasaan di Jakarta.

Pilkada DKI kali ini sangat menguras energi, tiga kontestan di putaran pertama tidak mampu menghasilkan pemenang sehingga harus dilanjutkan dengan putaran kedua dengan dua kontestan. Sejak dideklarasikannya para kontestan Pilkada DKI, sudah memantik daya prediksi kita bahwa pertarungan merebut ibu kota pasti sangat menarik untuk disaksikan.

Terlebih ternyata pertarungan politik di DKI merupakan ajang nostalgia para elite nasional yang dulunya juga merupakan sesama kompetitor dalam konteks pemilihan presiden-wakil presiden. Megawati bersama Ahok-Djarot, SBY dengan Agus-Sylvi, dan Prabowo mengusung Anies-Sandi.

Banyak kalangan yang menyebut pilkada kali ini merupakan ‘Pilkada rasa Pilpres’. Tetapi, lebih jauh substansinya bukanlah itu, ini adalah sebuah perhelatan politik bermartabat yang berbasiskan ide dan gagasan. Agus, Ahok, dan Anies beserta pasangannya bukanlah sosok yang biasa-biasa saja: mereka aset bangsa yang brilian, mereka sosok yang secara kapasitas memang pantas bertarung dalam politik di level ibu kota.

Sorotan media yang hampir setiap masa mewartakan perkembangan Pilkada DKI membuat pertarungan tersebut bukan hanya milik warga Jakarta, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Karena Jakarta merupakan simbol negara, ibu kota negara dan milik seluruh rakyat Indonesia. Wajar saja pemenang di ibu kota memiliki beban moral yang besar, karena ia bukan hanya bertanggungjawab kepada warga DKI tetapi kepada seluruh rakyat Indonesia.

Balik Kanan

Sudah tampil di permukaan ‘calon’ Gubernur dan Wakil Gubernur baru DKI, yakni Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Walau masih dalam hasil hitung cepat, tetapi ini sudah menjadi gambaran real count KPU. Anies-Sandi adalah jawaban kegaduhan dan perseteruan selama ini. Puji Tuhan, Pilkada DKI berjalan secara demokratis dan tidak menimbulkan kerusuhan.

Hasil final quick count dari beberapa lembaga survey menunjukkan pasangan Anies-Sandi unggul dari Ahok-Djarot. Seperti, LSI (Lingkaran Survey Indonesia) Ahok-Djarot: 44,59%, Anies-Sandi: 55,41%. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Ahok-Djarot: 41,94%, Anies-Sandi: 58,06%. Polmark Indonesia Ahok-Djarot: 42,47%, Anies-Sandi: 57,53%.

Kedua pasangan pun sudah angkat bicara terkait hasil hitung cepat ini. Anies-Sandi telah melakukan jumpa pers dan mengatakan bahwa mereka akan membereskan masalah-masalah yang sedang menimpa Jakarta, seperti ketimpangan dan lain lain. Sementara Ahok-Djarot sudah memberikan selamat kepada Anies-Sandi, mereka juga meminta agar pendukung tidak bersedih dan tetap menjaga kebersamaan.

Jangan bersedih, bahwa kekuasaan itu Tuhan yang ngasih dan yang ngambil. Kami akan bekerja dengan cepat untuk 6 bulan tersisa. Selama ini kita telah menerapkan open government, dan kami terbuka untuk Pak Anies-Sandi minta data apa saja, kata Ahok dalam pidatonya di Hotel Pullman, Rabu 19/4 (detik.com)

Pilkada DKI kali ini sungguh mencerminkan demokrasi yang bermartabat, kontestan menerapkan prinsip siap kalah dan siap menang. Saling memberikan ucapan selamat dan mengakui kekalahan, serta mendukung siapapun yang terpilih, ini adalah harga mati, karena Pilkada hanyalah prosesi, tujuan utamanya tentu gotong royong dalam membenahi Jakarta.

Tugas Anies-Sandi tidaklah mudah, mereka wajib melakukan beberapa langkah integrasi sosial sesegera mungkin. Pertama, merekatkan kembali masyarakat yang terbelah. Keriuhan Pilkada DKI tidak bisa kita pungkiri telah membuat fragmentasi sosial yang begitu ketara di tengah-tengah rakyat, bahkan bukan hanya di dunia nyata, dunia maya juga tidak lepas dari serang-menyerang antar sesama pendukung paslon.

Cacian, hujatan, makian, fitnah dan lain sebagainya yang telah ditumpahkan dalam perhelatan Pilkada DKI wajib hukumnya disudahi. Rakyat harus balik kanan, kembali kepada aktivitasnya masing-masing dan turut mengakui bahwa Anies-Sandi adalah pemimpin untuk seluruh rakyat, bukan hanya milik golongan tertentu saja.

Untuk merekatkan kembali keterbelahan warga ibukota, dibutuhkan self approach (pendekatan diri) dari elit itu sendiri yakni: Anies-Sandi. Mereka memegang komando penting dalam menyatukan kembali rakyat yang terpecah belah.

Gengsi semestinya sudah terhapus untuk mendatangi basis-basis massa pendukung Ahok-Djarot. Dalam hal ini identitas tidaklah menjadi penghalang, mengingat basis massa pendukung Ahok-Djarot adalah dari kalangan Tionghoa, Kristen dan Katolik, Anies harus hadir dan merangkul mereka.

Kedua, safari politik di kalangan elite. Menciptakan stabilitas politik di dalam mengarungi kekuasaan penting untuk melakukan rekonsiliasi dengan para elite politik. Kita menyaksikan betapa akrobat politik para elite partai politik telah mensugesti kita bahwa peran mereka dalam tataran elite sangat berpengaruh.

Sebab, dalam 5 tahun ke depan Anies-Sandi akan berhadapan dengan dinamika politik di DPRD DKI, di mana polarisasi kekuatan tergantung dari komando partai politik. Saling dukung-mendukung yang melibatkan elite parpol selama Pilkada ini tentu telah menimbulkan perang urat syaraf di antara keduanya, baik di televisi maupun di media sosial kita masif melihat para politisi saling membela jagoannya.

Sudah saatnya balik kanan dan semua elemen merapatkan barisan untuk pembangunan Jakarta yang berkelanjutan. Seluruh energi yang telah habis dalam Pilkada DKI ini harus mampu terkonversi menjadi kekuatan tambahan bagi Anies-Sandi dalam memimpin DKI, dan ini semua tergantung pada sosok Anies-Sandi dalam geliat politik rekonsiliasinya. Kuncinya di pemenang, apakah mereka mau membuka tangan untuk gerakan bersama atau tidak.

Semangat Keberagaman

Dan yang terpenting bagi Anies-Sandi adalah menjawab tantangan keberagaman yang selama ini menjadi tanda-tanya besar akibat kasus penistaan agama oleh Ahok. Jakarta itu cerminan Indonesia, terdiri dari beragam suku dan agama, isu ‘krisis keberagaman’ harus ditepis. Akhir-akhir ini Jakarta kita saksikan bak wilayah dengan sentimen pandangan yang berlebihan, seperti: larangan menyolatkan jenazah pendukung Ahok serta Djarot yang diwartakan diusir dari masjid.

Kini semua telah selesai, Ahok-Djarot sebagai juru kunci dengan kenegarawanannya menerima kekalahan dengan lapang dada. Politik hendaknya selesai di dalam Pilkada saja, selanjutnya harus bergandengan tangan menatap era baru Jakarta di bawah kepemimpinan Anies-Sandi.

Anies-Sandi harus mampu menjadi tauladan bahwa perbedaan itu harus menjadi kekuatan bukan justru menjadi kelemahan, karena Jakarta milik rakyat, Jakarta adalah harapan Indonesia. Pilkada DKI ini adalah ujian bagi demokrasi kita, dibutuhkan kedewasaan seluruh pihak: kontestan, rakyat maupun elit, serta membangkitkan kembali semangat kebersamaan dalam prinsip gotong royong.

Semoga Anies mampu merealisasikan slogannya, yakni: maju kotanya, bahagia warganya. Semoga!

Alumni Ilmu Politik FISIP Universitas Sumatera Utara

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…