OUR NETWORK

Tentang Usia, Kesempurnaan, dan Presiden

Millennial 
https://poliklitik.com/gaet-milenial/
https://poliklitik.com/gaet-milenial/

Saat itu media massa dan sosial seketika riuh dan gaduh (Kamis, 21 November 2019). Tampak Presiden Jokowi yang tersenyum santai, duduk beralaskan beanbag didampingi tujuh orang pemuda dan pemudi yang juga terlihat menikmati sore hari di depan Istana Merdeka, Jakarta, bercanda di hadapan para jurnalis, disiarkan langsung di stasiun tv juga media sosial.

Kegembiraan yang terlihat hari itu, merupakan perkenalan tujuh millennial sebagai staf khusus presiden ke masyarakat.

Tak main-main tentunya, tujuh staf khusus millennial ini berusia tergolong sangat muda. Salah satunya Belva S. Devara, diusianya yang ke 29 tahun adalah Direktur Utama (CEO) dari perusahaan startup di bidang pendidikan dan teknologi terbesar di Indonesia, Ruangguru.

Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai salah satu dari 30 pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes Magazine dan baru saja mendapatkan penghargaan The Best Industry Marketing Champion dan Special Mention Marketeer of The Year 2019 dari Markplus.

Juga ada Putri tanjung, walaupun lekat dengan julukan anak konglomerat yang selalu membuat dia gerah. Hal itu menjadikan motivasi untuk menunjukan kemampuannya, dan diusianya yang 23 tahun sekarang, sudah mempunyai bisnis event organizer Creative Corner yang digelutin tujuh tahun lalu tanpa bantuan sang ayah.

Belum lagi sosok Angkie Yudistia yang menjadi perhatian publik karena seorang tuna runggu. Usia 32 tahun sebagai Pendiri Thisable Enterprise, perusahaan yang fokus pada pemberdayaan ekonomi kreatif bagi penyandang disabilitas ini sudah menjaring 21 juta jiwa lebih disabilitas untuk di karyakan melalui peningkatan skill dan penyaluran pekerjaan ke perusahaan. Karena hal itu jugalah Presiden Jokowi menjadikan dia sebagai juru bicara presiden khusus di bidang sosial.

Sekali dayung dua pulau terlampaui, itulah khasnya strategi Presiden Jokowi. Tidak hanya mengangkat martabat Millenial, akan tetapi juga merangkul Disabilitas. Kepada para staf khususnya itu, Kepala Negara memiliki harapan yang besar agar mereka dapat memberikan masukan segar pada program dan kebijakan pemerintah.

Berbagai reaksi tentu saja timbul menanggapi hal ini. Ada yang bilang, ini hanyalah gimmick, pajangan belaka karena mereka tak punya kuasa atau sebagai hadiah dari partisipasi mereka bekerja untuk kampanye Jokowi.

Benarkah? Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan generasi Millennial akan menjadi generasi mayoritas dalam struktur demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia selama beberapa tahun mendatang terus meningkat, yaitu dari 265 juta pada tahun 2018 menjadi 282 juta pada tahun 2024 dan mencapai 317 juta pada tahun 2045.

IDN Research Institute pun menjelaskan dalam Report Indonesia Millennial bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, dan ini dapat menjadi “landasan pacu” bagi Indonesia untuk memajukan ekonomi dan perkembangan negara menuju negara maju. Pada tahun 2045, bonus demografi diproyeksikan akan berakhir, Indonesia akan memasuki ‘Ageing Population’, yaitu situasi di mana usia masyarakat Indonesia yang tidak produktif lebih banyak dibandingkan dengan yang produktif.

IDN mengelompokkan generasi millenniamenjadi dua, Junior Millennial dan Senior Millennial. Junior Millennial adalah mereka yang lahir pada tahun 1991-1998 dan Senior Millennial di antara tahun 1983-1990.

Menurut kelompok umur, penduduk Millennial berusia 20-35 mencapai 24 persen, yaitu 63,4 juta dari penduduk kategori usia produktif (14-64 tahun) yang jumlahnya adalah 179,1 juta jiwa (67,6 persen). Jumlah yang cukup signifikan sebagai generasi yang akan menjadi tumpuan dan menentukan wajah Indonesia di masa depan. Generasi Millennial ini memiliki modal yang kuat untuk menggerakkan peradaban Indonesia di masa depan.

Pertama, Aktivitas Berbasis Digital. Dengan kecenderungan perilaku tersebut, millennial siap membawa Indonesia menuju gerbang peradaban digital, termasuk ketika menyambut tantangan revolusi Industri di masa depan.

Kedua, Generasi Produktif dan Berani Berwirausaha. Sikap millennial ini merupakan modal untuk penguatan kemandirian ekonomi Indonesia di masa depan, termasuk industri ekonomi kreatif.

Ketiga, Jejaring Lintas Batas. Melalui karakter tersebut, millennial memiliki pondasi yang kuat untuk menjaga solidaritas dan perdamaian di Indonesia.

Keempat, berjiwa nasionalis tanpa kepentingan politis. Munculnya berbagai politisi millennial di kontestasi pilkada 2018 menjadi bukti kehadiran millennial untuk Indonesia. Mereka memiliki komitmen dan kepedulian untuk memperbaiki Indonesia dan menjaga NKRI.

“Berikan ruang yang selebar-lebarnya pada anak-anak kita ini untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang baik, untuk berinterasi dengan masyarakat, untuk melihat negara ini lebih luas dan betapa beragamnya sehingga mereka nanti akan terinspirasi dan muncul ide serta gagasan inovasi yang baik,” ujar Presiden Jokowi kepada jurnalis di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

Begitulah jawaban Presiden Joko Widodo menanggapi semua reaksi negatif. Tujuh staf khusus presiden millenial ini adalah simbol. Bahwa, sebelum bonus demografi ini berakhir, Indonesia sudah harus menjadi negara berpendapatan tinggi. Bahwa kesempatan untuk menjadi negara maju, sangat tinggi dan millennial adalah roda penggerak ekonominya. Lalu apa langkah pertama mereka untuk mewujudkan ini?

Tugas pemerintahaan mereka yang pertama adalah membantu merumuskan konsep kartu prakerja dan penanaman ideologi Pancasila. Kemudian membuat kemasan nasabah Pemodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar agar memiliki marketplace yang baik, membuat inovasi di bidang Pendidikan, juga memberi masukan di bidang digital untuk mengontrol 75 ribu desa yang ada di Indonesia.

Bukanlah perkara yang mudah pastinya. Hal ini game changing situation bagi generasi baby boomer, generasi X dan generasi Y. Dinamika kerja dan politik, tidaklah lagi dilihat dari berapa umur mereka sekarang dan berapa lama pengalaman dilapangan. Sekarang kita berbicara ide-ide yang memberi impact, innovasi dan kesesuaian produk ataupun jasa di masyarakat, adanya fakta dan rasa yang diterima. Dinamika ini sangat dinamis dan berjalan cepat.

Jadi yang dibutuhkan sekarang bukan hanya membaca banyak buku, meningkatkan hard dan soft skills, akan tetapi juga mengasah ide dan berani melakukan trial dan error. Begitupun jika perusahaan masih meminta kesempurnaan curriculum vitae dan underestimate pada umur pelamar, ada baiknya mereka berpikir ulang dan melihat tujuh generasi millennial yang sudah duduk manis asik mengobrol santai menyampaikan ide-ide mereka untuk negara ini dengan Pesiden Republik Indonesia sekarang.

A traveler of life

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.