OUR NETWORK

Tentang Segitiga

Sewaktu pulang mudik dari Arab lalu Amina membawakan saya gamis plus kue Arab yang seperti nastar tapi isinya kurma.

“Mulai malam ini hingga akhir Ramadhan kita akan melakukan jama’aah solat Isya, jeda 2-3 menit, kemudian langsung solat Tarawih. Malam pertama sampai keenam kita akan menamatkan 1,5 juz tiap hari, sehingga total 9 juz. Target kita hingga Ramadhan berakhir adalah menyelesaikan 30 juz”, announcer musola kampus memberikan pengumuman begitu imam selesai mengucapkan salam mengakhiri solat Isya.

Saya lihat beberapa orang bertukar senyum. Oh, I am just everybody. Gempor deh, pertama tarawih langsung 1,5 juz. Orang-orang bergegas berdiri solat sunah ba’diyah Isya. Lalu tarawih dimulai.

Saat saya berpikir bahwa kaki mulai tidak menapak tanah, tiba-tiba dari belakang terdengar: gedebug! Wah? Imam meneruskan bacaan. Sedetik, dua detik. Kok tidak ada tanda-tanda orang berdiri bangkit? Saya menoleh ke belakang. Heyeh, Amina yang tadinya solat di shaf belakang saya tergeletak diam membujur dengan kaki tertekuk, mulut terbuka, muka pucat pasi dan mata terbuka lebar di depan jamaah lain yang tetap meneruskan solat. Geez, mati?

Dalam hati, “Nooo.. she can’t be dead now.” Saya kenal Amina saat menghadiri pesta girls only salah satu teman Arab. Sewaktu pulang mudik dari Arab lalu Amina membawakan saya gamis plus kue Arab yang seperti nastar tapi isinya kurma. Apa namanya ya? Gigitan pertama berasa pera kek nastar kurang margarin, tapi lama-lama nagih. Halah.

Spontan saya berusaha mengangkat tubuhnya. Amina kurus tapi di luar kekuatan saya. Akhirnya beberapa teman di shaf Amina ikut membatalkan solat dan membantu saya. Saya tepuk dua kali kaki Sakinah, teman Malaysia baik hati, yang tetap solat di sebelah saya dengan harapan dia membatalkannya juga. Kami mungkin perlu mobilnya. Amina beku membelalak. Saya kuatir ada apa-apa.

Saat kami bergerak mengangkat, tiba-tiba Amina sadar, jadi kami akhirnya hanya membimbingnya berjalan ke kursi. Seorang teman sigap membuka jendela. Musola terasa terlalu hangat saat solat tadi. Suhu memang hanya 8 derajat Celcius, tapi musola penuh orang yang mulai berkeringat menahan pegal. Udara memberat penuh CO2.

Seseorang memberikan air putih ke Amina. Sakinah meraih kurma dan saya bergegas ke dapur membuat teh manis.

Muka Amina sudah agak berwarna saat saya kembali. Para pemapah Amina sudah kembali solat.

Have you had dinner?” saya bertanya. “Belum.” Oalah. Saya berdiri di sampingnya. Berkali-kali Amina menyuruh saya kembali solat. Saya memilih menunggu dia sebentar lagi. Selain berempati dengan orang yang baru pingsan, ini bisa jadi alibi beristirahat wkwkwk..

Akhirnya saya masuk rekaat kedua saat hampir rukuk. Yes! Lalu menambah satu rekaat karena masbuk. Dengan kecepatan cahaya. Selesai salam, dua teman menghampiri saya. Salah satunya tadi solat di samping Amina. Dia termasuk yang tidak bergerak saat Amina jatuh. Dia ceritakan lagi bagaimana semua tidak bereaksi saat Amina jatuh hingga saya yang di depan menoleh ke belakang dan mulai menolong. Hanya dengan itu maka orang-orang lain mulai bergabung membantu. Terkonfirmasi, saya memang yang pertama. Bangga? Ga lah. Kalau bisa cium siku, baru bangga. Cium lutut mah biasa.

Dua rekaat kedua dimulai. Kami kembali ke posisi masing-masing dan mulai solat. Bacaan panjang imam yang tidak saya hafal membuat otak saya melayang ke mana-mana dan mulai menganalisis suasana. Saya jadi ingat hipotesis yang saya ajukan di Whatsapp group sahabat terdekat kemarin.

Saya bilang dalam kondisi kolektif, orang mungkin memang lebih mudah diajak berbuat keburukan daripada kebaikan. Saya mencontohkan kalau orang lebih mudah digerakkan untuk menangkap maling dan memukulinya daripada menolong korban kecelakaan. Sempat terbersit di pikiran saya, mungkin sebagian orang memang berpikir bahwa menolong orang adalah fardu kifayah, memukuli orang fardu ain. Seorang teman menjawab, itu tergantung provokatornya. Iya sih. Ini ranah psikologi massa.

Mengapa teman-teman tidak segera menolong Amina seketika dia jatuh? Saya mengenal semua orang yang solat di sekeliling Amina tadi. Saya bersaksi mereka adalah orang yang benar-benar baik. Jadi saya heran mereka ragu untuk membatalkan solat demi menolong Amina yang sepintas terlihat seperti mati mendadak. Atau saya hanya hiperbola? Tapi di akhir solat tarawih Sakinah juga mengutarakan kekuatirannya kok melihat kondisi Amina saat jatuh tadi.

Menurut saya, alasan pertama adalah ilmu. Ilmu yang mereka punya bilang bahwa bergerak yang tidak penting akan membatalkan solat. Jika terjadi disaat yang sama, solat dianggap lebih divine dan lebih surgawi dibanding menolong orang sakit, karena itu harus diprioritaskan. Solat jamaah tidak bisa tergantikan. Plus, pingsan itu tidak mematikan.

Alasan kedua, mereka lebih mendengarkan otak daripada hati. Sekali lagi, sumpah, setahu saya mereka adalah orang baik. Saya tahu betul. Mereka jenis orang yang selalu memberikan hadiah saat teman lain ulang tahun. Mereka juga jenis orang yang suka menyediakan makanan gratis di musola buat mereka yang berpuasa.

Mereka benar-benar baik dan tidak enggan berkorban. Lha tapi kalau ilmu di otak bilang, “Membatalkan solat itu dosa,” mau gimana? Orang baik tentunya lebih takut dengan dosa lah. Sehingga walau hati ingin menolong, fisiknya beku, karena otak memerintah lain.

Segitiga hati-akal-nafsu ini memang sering menjadi pangkal ragu. Sering segitiga ini harus berada dalam keadaan tidak sama sisi. Saat kita digantung sama cowok, otak yang harus maju, bukan hati. Tinggalkan saja. Saat kasus Amina, hati yang harus maju, batalkan solat. Saat lapar, nafsu yang harus maju, makan. Eh tapi nafsu juga tidak boleh yang sepenuhnya nafsu deng, harus yang ilaa rahima rabbi, terkendali.

Alasan ketiga, mereka berpikir Amina bisa bangkit sendiri.

Atau mungkin mereka terlalu khusyu, tidak mendengar, tidak melihat. Kita suka begitu bukan? Berpapasan dengan teman di jalan saja kalau kita sedang memikirkan sesuatu (baca: tidak mindful) teman tadi jadi tidak kelihatan.

Atau mereka berpikir nanti pasti akan ada yang menolong, mungkin sebelahku. Ini jamak. Seperti kalau kita melihat sepotong sampah di koridor kantor, kita berpikir, “Nanti juga ada pak OB yang ambil.” Trus pak OB1: biar OB2 yang ambil. Ahay, chain reaction of “biar yang lain saja”?

Jadi apa yang ingin saya sampaikan? Saya bukan ingin mengatakan bahwa saya lebih baik dari yang lain. Jalan menuju Allah itu sebanyak nafas hambaNya kok. Salah satu yang tidak bergerak menolong tadi suka merapikan tumpukan mukena di musola. Saya? Ya yang mengacak mukena lah.

Kejadian ini mengingatkan saya untuk tidak takut menginisiasi amal. Yuk mari, sebarkan cinta. Jangan chickened out. Lakukan kebaikan tanpa berniat memberi contoh. Lakukan apa yang kita percaya, tanpa menyakiti orang lain.

Imam bertakbir menuju rukuk. Alah siah. Ghaflah.

Pelajar. Dari Jawa Tengah. Penyuka The Cranberries.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…