Sabtu, Januari 16, 2021

Tentang Penghapusan PR dari Sekolah

Kaum Luddites dan Para Penentang Transportasi Online

Dalam Bahasa Inggris, ada istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang anti terhadap kemajuan atau teknologi baru: luddite. Kamus online Cambridge Dictionary mendefinisikan luddite...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Membuka Ruang Publik Milenial Membatasi Staqus Quo

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY.  Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Membuka generasi milenial,  menjadi trigger konsepsi ruang publik...

Pasca Terpilihnya Indonesia sebagai Presiden DK PBB

Indonesia dinobatkan sebagai presiden Dewan Keamanan (DK) Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1 Mei lalu untuk sebulan kedepan. Hal ini membuat 'bargaining position' Indonesia di...
Lukfi Kristianto
Pembelajar ilmu politik di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Aktif berkhidmat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU). Mendukung Kebebasan berfikir dan kesetaraan akses pendidikan.

“If there was one life skill everyone on the planet needed, it was the ability to think with critical objectivity”. – Josh Layon

Belakangan khalayak kembali riuh memperbincangkan peniadaan Pekerjaan Rumah (PR) dari sistem pendidikan kita. Asbabnya adalah ketika tersiar kabar soal tidak adanya PR di sekolah dasar dan menengah di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yakni Garut. Padahal isu peniadaan PR sendiri hampir tiap tahun menjadi bahasan, tapi sampai kini tidak juga dijumpai ketegasannya.

Mendikbud Muhadjir Efendy sebagaimana dilansir dari Metrotvnews, penghapusan PR secara nasional perlu kajian khusus dan pendalaman, tapi beliau memperbolehkan jika ada sekolah meniadakan PR terkhusus sekolah berbasis Full Day School. Toh sebenarnya ihwal ada atau tidaknya PR merupakan kebijakan Dinas Pendidikan, mengingat dinas setempat yang paham betul kearifan lokal, situasi dan kondisi daerah.

Terlepas dari perdebatan harus sama atau tidaknya sistem pendidikan antar daerah dan kesenjangan kualitas pendidikan yang ditimbulkan, penting untuk dibahas adalah eksistensi dan relevansi penerapan PR. Perlukah diubah dengan model baru atau bahkan ditiadakan/dihapuskan?

PR yang selama ini dihidangkan untuk siswa selalu saja bersifat akademis yang  tidak berbeda sama sekali dengan apa yang saban hari ditemui di dalam kelas. Siswa harus menjumpai teori atau rumus dan soal hampir sepanjang hari. Mungkin saja hanya menyisakan waktu tidur (yang juga sudah terpotong durasinya).

Padahal kita tahu bahwa hidup anak tidak melulu soal sekolah dan segala hal yang menyertainya, termasuk PR. Belajar bukan hanya dengan mengikuti  program pembelajaran sekolah. Ada hal penting lain seperti quality time dengan keluarga, bermain Tik tok dan Mobile Legend  bersama teman sebaya, berekreasi dst. yang mana sekolah sukar untuk memfasilitasi.

Bahkan menurut Etta Kralovec dan John Buell, dalam tulisannya The End of Homework: How Homework Disrupts Families, Overburdens Children, and Limits Learning, menuturkan bahwa pekerjaan rumah merupakan gangguan pada kehidupan keluarga, yang mengeksploitasi waktu anak untuk berkumpul bersama keluarga atau kegiatan sosial. Belum lagi stress berkepanjangan anak yang timbul dari terlalu banyaknya deadline PR yang harus dikerjakan.

 Salah kaprah

Guru memberikan pekerjaan rumah dengan tujuan untuk penguatan, pendalaman dan pengayaan apa yang telah diplajari. Dengan harapan siswa memiliki tingkat penguasaan materi yang tinggi.

Dapat disimpulkan bahwa titik tekan disini adalah bagaimana meningkatkan penguasaan siswa terhadap apa yang dipelajari. Jadi logikanya bukan berarti peningkatan penguasaan = tambahan tugas berupa aktivitas yang sama jiplek dengan aktivitas sekolah.

Menilik realitas dan dampak yang timbul sebagaimana sempat disinggung diatas, PR dengan model klasik berupa sebrek soal yang jawabanya ada di buku sudah tidak lagi relevan dan justru menampakkan tercerabutnya PR dari tujuannya, yakni peningkatan penguasaan. Akan lebih tepat jika pekerjaan berupa upaya kontekstual yang searah dengan kebutuhan dan tidak memberatkan (tekanan emosional) bagi siswa.

Dilansir oleh Antara Presiden Joko Widodo pernah mengusulkan, agar pekerjaan rumah bagi para siswa berupa kegiatan sosial, misal menjenguk tetangga yang sakit, memberikan makanan untuk orang lain, melakukan eksperimen kecil dsb. juga hal-hal yang mengarahkan siswa untuk menerapkan hal yang dipelajari. Konsekuensinya, pembelajaran di kelas harus lebih banyak memuat materi yang aplikatif.

Apakah materi yang disampaikan di kelas tidak aplikatif?. Hemat saya pembelajaran dikelas yang pernah kita alami cenderung hanya mengedepankan knowing, bukan pembentukan karakter dan kemampuan berfikir kritis. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya teori dan fakta yang telah kita tahu tapi gagap dalam aktualisasi. Mengapa? Karena kita hanya dituntut untuk tahu. Parahnya setelah sampai dirumah kita masih dihadapkan pada hal yang sama.

Gimana nggak sialan? di sekolah dijejalkan fakta ilmiah dan sejarah, dirumah kita menguatkan itu dengan tugas yang mensyaratkan kita berlaku CTRL+V untuk dapat mengerjakannya. Bukan tentang “mengapa dan bagaimana”. Contoh : dulu sering kita dikenalkan dengan penemu dan temuannya, Alexander Graham Bell dan Telepon misalnya. Kita terus saja merapal itu tanpa pernah dipertanyakan dampak ditemukan bagi manusia dan alternatifnya?. Akhirnya kita hanya menghafal nama dan temuannya.

Haruskah pekerjaan rumah ditiadakan?

Boleh jadi akan tepat jika PR ditiadakan, guna memberikan ruang dan kesempatan siswa untuk belajar lewat keseharian dan menikmati hidupnya. Tapi bukan berarti PR dilenyapkan dari semua tingkatan pendidikan. Cukup sekolah dasar saja, pasalnya usia mereka memang diproyeksikan untuk bermain dalam rangka stimulasi pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Yang memberdakan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah dosis dan obyek pembelaharan, tapi paradigmanya tetap sama.

Sedangkan untuk sekolah menengah (pertama dan lanjutan) keberadaan PR adalah mutlak. Namun yang diberikan sebagai pekerjaan rumah bukan lagi soal/tugas dengan mekanisme kerja CTRL+V dari buku paket atau internet, tapi yang dapat melatih mereka untuk berfikir kritis dan solutif. Kiranya di usia remaja, siswa susah cukup mampu melakukan itu.

Konsepnya berbeda dengan Pekerjaan Rumah pada tingkat sekolah dasar. Setelah dijejali berbagai pengetahuan di kelas, kemudian mereka dirumah diberikan tantangan berupa permasalahan yang terkait dengan apa yang telah dipelajari. Dan itupun tidak harus dalam bentuk tertulis dan metode pengerjaannya bisa dengan bertanya kepada orang tua, tetangga atau bahkan melakukan eksperimen sendiri. Jadi mengerjakan PR sembari bersosialisasi.

Soal dalam dalam model PR ini  terfokus pada why and how quetsion bukan what, who, where and when quetsion. Dengan begitu siswa akan terarahkan untuk berfikir untuk memecahkannya, untuk itu harus dipastikan guru tidak membuat pertanyaan yang jawabannya mudah ditemukan.

Tokoh dan teoretrikus pendidikan Brasil, Paulo Freire menyebut itu dengan “Pendidikan Kritis” atau Pendidikan Hadap Masalah. Kebalikan dari pendidikan hadap masalah adalah Pendidikan Gaya Bank hanya menghimpun dan menyampaikan dalam bentu yang sama tanpa ada proses fikir. Dengan PR yang berparadigma pendidikan hadap masalah, menjadikan siswa tidak hanya mengerti apa yang dipelajari, tapi mampu menguasai dalam arti yang sebenarnya, ‘mengurai benang kusut’ bahkan menemukan teori baru.

Disadari atau tidak, pendidikan gaya bank yang kita alami hanya menumpuk sampah-sampah pengetahuan. Padahal hidup teramat dinamis dan atas sebab itu pengetahuan lama akan tergantikan pengetahuan baru. Apa  jadinya jika kemampuan berfikir kritis kita lemah?.

Namun, sebagus apapun Pekerjaan Rumah diformulasikan, pada akhirnya ia bukanlah penentu dari keberhasilan sebuah pembelajaran. Karena pada dasarnya PR hanya kepanjangtanganan dari pembelajaran didalam kelas itu. Tapi paling tidak PR tidak kemudian malah menjadi momok bagi siswa yang justru menghambat pembelajaran dan menjadi beban yang sarat menimbulkan stres juga menjajah waktu bermain anak.

Lukfi Kristianto
Pembelajar ilmu politik di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Aktif berkhidmat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU). Mendukung Kebebasan berfikir dan kesetaraan akses pendidikan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.