Sabtu, Januari 16, 2021

Tentang Gerakan #2019GantiPresiden, Sebuah Nyali yang Hilang

Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja

Sebelumnya, penulis ingin menyampaikan alasan menulis tema “Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja” adalah, pertama, penulis bukanlah serarang yang kontra terhadap pemerintahan kabinet kerja yang...

Quo Vadis Demokrasi

Kemunculan cara berpolitik baru di Indonesia menjadi signifier kemuakkan rakyat dengan politik gaya lama. Demokrasi pun dirasa terkunci sebatas prosedural tanpa diperankan secara substansial. Demokrasi...

Cak Imin dan Balihonya

Di sebuah pagi yang gerimis, di sebuah warung kopi Bu Supinah, sekumpulan anak muda tiba-tiba menyeletuk “Cak Imin, mendeklarasikan diri jadi Cawapres”. Kemudian hujan...

Merenungi Kebijakan Pendidikan Mitigasi Bencana

Tsunami melanda Lampung Selatan, Pandeglang dan sekitaran Selat Sunda. Huru-hara tsunami yang terjadi Sabtu malam yang lalu kembali membuka pertanyaan-pertanyaan terkait ketidak deteksinya tsunami...
Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Setelah mengeluarkan lagu yang mencatut nama mantan gitaris Boomerang, John Paul Ivan, Gerakan #2019GantiPresiden, sempat di atas angin sebentar, sebelum akhirnya mendapat penolakan di berbagai tempat.

Dari awal kemunculan gerakan ini, sebenarnya saya sudah mau ketawa, karena hastag yang digunakan. Kalau dipikir lebih dalam sedikit, gerakan ini sebenarnya menginginkan pergantian kepemimpinan nasional, yaitu Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Hanya saja, karena tidak punya nyali. gerakan ini memilih untuk menyerukan pergantian tersebut pada tahun 2019, atau melalui pemilihan presiden.

Terbukti, setelah diberangus di berbagai daerah, gerakan ini hanya bisa nangis bombay di media sosial. Para tokoh gerakan ini, seperti Neno Warisman, Ahmad Dhani, Mardani Ali Sera, dan lainnya, hanya bisa curcol di media, tanpa ada sikap untuk melawan.

Kalau berkaca dari gerakan-gerakan rakyat di Indonesia pada masa lampau, seperti gerakan mahasiswa 1966 dan gerakan mahasiswa dan rakyat tahun 1998. Pemberangusan terhadap gerakan anti pemerintah, yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional, pada kedua masa itu, malah mengakibatkan perlawanan terhadap pemerintah menjadi semakin radikal.

Dari gerakan kritik loyal terhadap pemerintah sampai menjadi gerakan penggulingan terhadap presiden, untuk hal ini mungkin hanya gerakan 1998, yang berani menyerukannya dan berhasil. Sementara gerakan 1966, hanya menyerukan penurunan harga barang, pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia), dan perombakan kabinet Dwikora.

Walaupun demikian, baik gerakan 1966 maupun gerakan 1998, memilih menggunakan cara-cara radikal, seperti aksi massa, long march, bahkan tak segan untuk bentrok dengan aparat. Tak ada dalam sejarah disebutkan, tokoh-tokoh gerakan pada masa lalu tersebut, curhat, atau nangis bombay di pojokan.

Karena itulah, seperti sub judul yang saya tuliskan, “Sebuah Nyali yang Hilang”, gerakan #2019GantiPresiden, hanyalah sekelompok orang yang tak bernyali, tapi ingin terlihat seolah-olah berani.

Jujur saja, jika gerakan tanpa nyali ini mau diteruskan, saya pikir malah menimbulkan efek sebaliknya, yaitu semakin menguatnya dukungan rakyat terhadap Jokowi. Mengapa demikian?

Logikanya begini, ada sekelompok orang yang ingin mengganti penguasa yang sah dan terpilih melalui pemilihan umum. Sekelompok orang tersebut menyerukan pergantian penguasa melalui pemilu.

Penguasa yang ingin diganti, didukung oleh banyak pemilik media cetak dan elektronik, sehingga menimbulkan gambaran terhadap si penguasa selalu ideal di media-media tersebut.

Ketika si penguasa memberangus gerakan yang ingin mengganti dirinya, media-media pendukungnya akan menggambarkan gerakan yang diberangus, sebagai gerakan negatif yang ingin mengganggu penguasa yang kerjanya rajin. Gerakan yang diberangus pun tak berani untuk menggencarkan perlawanan terhadap penguasa yang telah memberangus dirinya.

Akibatnya sudah pasti rakyat akan melihat bahwa gerakan tersebut, hanya parasit yang mengganggu pohon yang sedang tumbuh pesat. Dengan demikian, rakyat akan bersimpati pada penguasa yang digambarkan ideal tersebut.

Ditambah lagi lawan penguasa tersebut di pemilihan presiden, hanya sepasang manusia yang memiliki rekam jejak negatif, yang satu memiliki rekam jejak terlibat dalam penculikan aktivis, yang satu lagi namanya masuk dalam panama papers sebagai salah satu pengemplang pajak.

Oleh karena itu, saran saya pada gerakan #2019GantiPresiden, sudahlah bro dan sis, kalau kalian gak punya nyali, tak usah bikin gerakan anti pemerintah. Kalau kalian mau mengganti pemerintah lewat pemilu, alangkah lebih baik kalau kalian lebih fokus mendukung lawan dari petahana di pemilu. Terlebih lagi pemilu tahun depan hanya diikuti oleh dua pasangan calon, seperti di pilpres sebelumnya, tahun 2014.

Kalau kalian memang tidak mau mendukung salah satu pasangan calon, lebih baik kalau kalian menyerukan golput atau boikot pemilu. Hasilnya akan lebih efektif, karena dengan demikian, jika si penguasa terpilih tidak prorakyat, kalian akan lebih mudah menjelaskan pada rakyat, bahwa yang bersangkutan adalah penipu rakyat, dan merupakan produk dari pemilu yang gagal. Selain itu, gerakan kalian juga bisa lebih independen dan mendapat dukungan luas dari massa rakyat.

Kalau kalian tak mau mengikuti saran saya, maka lebih baik kalian pulang ke rumah atau tempat tinggal kalian, perbanyak tidur, usahakan mimpi ganti presiden yang durasinya lama. Kalau bisa jangan bangun, supaya kalian bisa melanjutkan hidup dalam mimpi saja.

 

Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.