OUR NETWORK

Tentang Gerakan #2019GantiPresiden, Sebuah Nyali yang Hilang

Terbukti, setelah diberangus di berbagai daerah, gerakan ini hanya bisa nangis bombay di media sosial.

Setelah mengeluarkan lagu yang mencatut nama mantan gitaris Boomerang, John Paul Ivan, Gerakan #2019GantiPresiden, sempat di atas angin sebentar, sebelum akhirnya mendapat penolakan di berbagai tempat.

Dari awal kemunculan gerakan ini, sebenarnya saya sudah mau ketawa, karena hastag yang digunakan. Kalau dipikir lebih dalam sedikit, gerakan ini sebenarnya menginginkan pergantian kepemimpinan nasional, yaitu Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Hanya saja, karena tidak punya nyali. gerakan ini memilih untuk menyerukan pergantian tersebut pada tahun 2019, atau melalui pemilihan presiden.

Terbukti, setelah diberangus di berbagai daerah, gerakan ini hanya bisa nangis bombay di media sosial. Para tokoh gerakan ini, seperti Neno Warisman, Ahmad Dhani, Mardani Ali Sera, dan lainnya, hanya bisa curcol di media, tanpa ada sikap untuk melawan.

Kalau berkaca dari gerakan-gerakan rakyat di Indonesia pada masa lampau, seperti gerakan mahasiswa 1966 dan gerakan mahasiswa dan rakyat tahun 1998. Pemberangusan terhadap gerakan anti pemerintah, yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional, pada kedua masa itu, malah mengakibatkan perlawanan terhadap pemerintah menjadi semakin radikal.

Dari gerakan kritik loyal terhadap pemerintah sampai menjadi gerakan penggulingan terhadap presiden, untuk hal ini mungkin hanya gerakan 1998, yang berani menyerukannya dan berhasil. Sementara gerakan 1966, hanya menyerukan penurunan harga barang, pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia), dan perombakan kabinet Dwikora.

Walaupun demikian, baik gerakan 1966 maupun gerakan 1998, memilih menggunakan cara-cara radikal, seperti aksi massa, long march, bahkan tak segan untuk bentrok dengan aparat. Tak ada dalam sejarah disebutkan, tokoh-tokoh gerakan pada masa lalu tersebut, curhat, atau nangis bombay di pojokan.

Karena itulah, seperti sub judul yang saya tuliskan, “Sebuah Nyali yang Hilang”, gerakan #2019GantiPresiden, hanyalah sekelompok orang yang tak bernyali, tapi ingin terlihat seolah-olah berani.

Jujur saja, jika gerakan tanpa nyali ini mau diteruskan, saya pikir malah menimbulkan efek sebaliknya, yaitu semakin menguatnya dukungan rakyat terhadap Jokowi. Mengapa demikian?

Logikanya begini, ada sekelompok orang yang ingin mengganti penguasa yang sah dan terpilih melalui pemilihan umum. Sekelompok orang tersebut menyerukan pergantian penguasa melalui pemilu.

Penguasa yang ingin diganti, didukung oleh banyak pemilik media cetak dan elektronik, sehingga menimbulkan gambaran terhadap si penguasa selalu ideal di media-media tersebut.

Ketika si penguasa memberangus gerakan yang ingin mengganti dirinya, media-media pendukungnya akan menggambarkan gerakan yang diberangus, sebagai gerakan negatif yang ingin mengganggu penguasa yang kerjanya rajin. Gerakan yang diberangus pun tak berani untuk menggencarkan perlawanan terhadap penguasa yang telah memberangus dirinya.

Akibatnya sudah pasti rakyat akan melihat bahwa gerakan tersebut, hanya parasit yang mengganggu pohon yang sedang tumbuh pesat. Dengan demikian, rakyat akan bersimpati pada penguasa yang digambarkan ideal tersebut.

Ditambah lagi lawan penguasa tersebut di pemilihan presiden, hanya sepasang manusia yang memiliki rekam jejak negatif, yang satu memiliki rekam jejak terlibat dalam penculikan aktivis, yang satu lagi namanya masuk dalam panama papers sebagai salah satu pengemplang pajak.

Oleh karena itu, saran saya pada gerakan #2019GantiPresiden, sudahlah bro dan sis, kalau kalian gak punya nyali, tak usah bikin gerakan anti pemerintah. Kalau kalian mau mengganti pemerintah lewat pemilu, alangkah lebih baik kalau kalian lebih fokus mendukung lawan dari petahana di pemilu. Terlebih lagi pemilu tahun depan hanya diikuti oleh dua pasangan calon, seperti di pilpres sebelumnya, tahun 2014.

Kalau kalian memang tidak mau mendukung salah satu pasangan calon, lebih baik kalau kalian menyerukan golput atau boikot pemilu. Hasilnya akan lebih efektif, karena dengan demikian, jika si penguasa terpilih tidak prorakyat, kalian akan lebih mudah menjelaskan pada rakyat, bahwa yang bersangkutan adalah penipu rakyat, dan merupakan produk dari pemilu yang gagal. Selain itu, gerakan kalian juga bisa lebih independen dan mendapat dukungan luas dari massa rakyat.

Kalau kalian tak mau mengikuti saran saya, maka lebih baik kalian pulang ke rumah atau tempat tinggal kalian, perbanyak tidur, usahakan mimpi ganti presiden yang durasinya lama. Kalau bisa jangan bangun, supaya kalian bisa melanjutkan hidup dalam mimpi saja.

Harsa Permata lahir di Aceh Selatan, pada tanggal 30 Januari 1979. Ia adalah alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…