OUR NETWORK

Tembok Digital Cina: Perpu Bukan Alternatif

Cina merupakan suatu peradaban yang sudah melewati asam-manis ideologi. Terdapat tiga fase dalam peradaban China. Pertama era Dinasti dari sebelum masehi hingga keruntuhan dinasti Manchu di akhir abad ke 19. Kedua, periode singkat Nasionalisme China pada awal abad ke 20 dari Dr Sun Yat Sen hingga Chiang Kai Shek. Ketiga, ketika Mao Tse Tung berhasil mempersatukan Cina daratan dibawah ideologi Komunisme.

Masing-masing fase menjalankan proyek tembok besarnya. Pada era Dinasti, Cina membangun Tembok besar yang dikerjakan oleh lebih dari 10 Dinasti (Qin hingga Ming) dari abad ke 7 sebelum masehi hingga abad ke 17. Membentang sepanjang 21.196 kilometer. Untuk menghalau kaum barbar dari Utara.

Pada era Mao tahun 1959, China sempat disebut sebagai “Negara Tirai Bambu” karena mengisolasi diri dari intervensi Negara Kapitalis. Di Era pemerintahan Komunis, segala bentuk Kapitalisme dan turunannya; persaingan, prestasi, kebebasan berpendapat tidak mendapatkan tempat. Seorang enterpeurner muda China, Eric Li dalam TED Talk, mengaku pernah hidup diera Komunisme yang pahit. Ketika itu ia bisa mendapatkan makan dengan cara mengambil jatah kupon makan milik neneknya.

Lelucon yang disampaikan Eric Li cukup menarik. Pertama ia menyampaikan bahwa modernitas yang ditawarkan Barat menghasilkan Demokrasi dan Komunisme, kami (Cina) sudah pernah merasakan hidup di era komunisme, lalu mengapa kami harus tertipu dua kali dengan mencoba demokrasi? Cina memilih sendiri cara hidupnya. Ia menunjukan pada dunia bahwa Cina bisa memilih keduanya sekaligus. Kapitalisme sebagai roda ekonomi dan komunisme sebagai sistem politik. Hal ini tergambarkan oleh suatu pemandangan di kota sanghai, saat Gedung Partai Komunis China bersebelahan dengan Mall dengan merk Global (Louiss Vuiton, Zara, Adidas dan lainnya).

Disatu sisi, China termasuk Negara yang diuntungkan dengan persaingan teknologi Informasi (industri gadget, aplikasi software dan perusahaan berbasiskan IT lainnya), namun disisi lain, internet merupakan gerbang menuju kebebasan informasi tanpa batas. Artinya, meski internet menguntungkan roda ekonomi China namun internet dapat melemahkan sistem politik di China karena mempermudah pengaruh dari luar (Baca: Globalisasi). Seperti Arabs Springs di Tunisia, Mesir, Libya hingga Suriah, Peter Beaumont berpendapat bahwa keberadan sosial media (Facebook dan Twitter) menjadi pemicu besarnya gerakan masa Arab Springs.

“China tidak menyerah. Ketika internet akan merubah sistem politik mereka, justru mereka merubah internet untuk melayani sistem politiknya.”

Begini kisahnya:

Sejarah mencatat pada tanggal 20 April 1994 The Chinese Academy of Science (CAS) Institute of High Energy Physics (IHEP) berhasil membangun kabel internet pertama dengan mengirim email ke Eropa dan Amerika Utara. Baru pada tahun 2006 Google China didirikan oleh kai Fu Lee. Namun pada bulan Maret 2009, Google Youtube di blokir oleh pemerintah China karena merilis video aparat China yang sedang melakukan kekerasan terhadap warga Tibet. Pada bulan januari 2010, Google meninggalkan China dan pindah ke Hongkong.

Awalnya karena isu bahwa pemerintah china membobol data google (salahsatunya gmail). Secara umum Pemerintah China dan perusahaan Google tidak mencapai kesepakatan tentang masa depan perusahaan tersebut di China daratan. Terutama bahwa keinginan Google untuk memberi akses informasi seluas-luasnya kepada individu tidak sesuai keinginan pengaturan informasi dari Pemerintahan China. Sejak itu Google tidak bisa diakses oleh seluruh warga China daratan.

Di era digital, Cina membangun Tembok digitalnya. Aksi pemblokiran yang dilakukan Cina disebut oleh Steve Millward sebagai “China’s great Firewall” karena pemblokiran terjadi pada Sosial Media: Twitter, Facebook, Line, Kakao Talk, WordPress.com, Instagram; Media Online: New York Times, New York Times Chinese, Blomberg, Youtube, Google News, Wikileaks, Wikipedia, BBC Chinese; Mesin Pencari: Google, DuckDuckGo, Baidu Japan, Yahoo Hongkong dan lainnya. Pemblokiran ini mencakup juga bidang pekerjaan (Microsoft) dan online Tools (Google Play, 4 shrared, Change.org, Archive.org). Apa dengan begini orang-orang di China tampak seperti suatu masyarakat tertinggal?

Film Pendek yang dibuat oleh Jonah M Kessel dan Paul Mozur berjudul “How China Changing Your Internet” menunjukan bahwa justru China berhasil membangun suatu jaringan informasi terpadu yang tidak bisa dilakukan oleh Google, Facebok, Twitter dan Instagram sekaligus. Internet di China berubah menjadi Intranet. Artinya jejaring Informasi yang dibuat menyerupai tembok besar. Tembok tersebut disertai sistem blokir dan filter yang rumit untuk membatasi dunia Barat mempengaruhi China.

Contohnya, China melarang Google dan menggantinya dengan Baidu, mengganti Youtube dengan Youku dan Twitter diganti Weibo. Semua website jejaring tersebut terpusat pada aplikasi bernama WeChat. Kessel menyebut WeChat sebagai super-aplikasi. Layanan yang diberikan WeChat mencakup layanan gabungan dari WhatsApp, Facebook, Skype, Uber, Amazon, Instagram, Venno, dan Thinder. Didalam WeChat kita bisa menikmati layanan berbelanja, upload foto, berbisnis, mencari sewa angkutan, mencari lokasi, sarana investasi, belanja favorit hingga tempat favorit turis.

Kessel mencontohkan dua pasangan muda di China, memposting di WeChat bahwa anjing mereka sangat kotor, beberapa jam kemudian seseorang mengetuk pintu dan membersihkan anjing mereka. Lalu di upload, ditandai kemudian diposting. Temannya melihat postingan tersebut lalu ia memutuskan untuk membersihkan anjingnya pula , mentraktir makan temannya disebuah restoran tanpa menu, tanpa penjaga dan tanpa kasir. Lalu pulang diantar oleh supir online. Semua dilakukan tanpa harus keluar dari satu aplikasi bernama WeChat. Efesiensi ini mengalahkan semua jenis sosial media dan website jual-beli manapun.

Namun Kessel memperingatkan bahwa jejaring informasi terpadu/terpusat itu sangat berbahaya karena pemerintah bebas mengakses informasi tersebut secara legal, sehingga privasi individu diabaikan. Hal ini merupakan ciri-ciri pemerintahan terkontrol atau disebut sebagai Orwellian (Totaliter). Apa yang dilakukan China terhadap fenomena internet perlu dipelajari oleh pemerintahan saat ini yang tidak mampu menahan arus informasi dan menyeimbangkannya tanpa mengganggu kebebasan berpendapat.

Keputusan untuk mengakomodir semua kebutuhan masyarakat China akan Internet dibarengi dengan kemampuan IT mereka yang cukup tinggi. Namun perlu kiranya, kita mengutip kembali apa yang disampaikan Eric Li ketika memaparkan pilihan bangsa China atas dua sistem politik, ia mengatakan China tidak bermaksud memberikan alternatif. Namun China hanya menunjukan bahwa alternatif masih ada.

Pemerintah Indonesia bisa mengambil pelajaran dari tindakan Pemerintah China, bukan berarti harus menirunya. Selama kita tidak menguasai teknologi Internet atau visi yang jelas atas fenomena global tersebut, pemerintah akan sepenuhnya kehilangan otoritas atas informasi masyarakatnya. Berapa kalipun dibuat Perpu.

Penulis adalah Guru

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…