Sabtu, Desember 5, 2020

Teknologi Komunikasi: Dekat Namun Terasa Jauh

Malaysia punya Proton, Indonesia Punya Apa?

Sekelompok anak muda skeptis mencibir Indonesia yang belum mampu membuat produk motor dan mobil sendiri. Kelompok anak muda skeptis ini mencibir Indonesia punya apa, sambil...

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan...

Tak Picik Memandang Masalah Perempuan

Perempuan yang konformis dan penurut masih menjadi gambaran ideal seorang perempuan yang layak disebut perempuan baik-baik. Kita tidak hendak melakukan generalisasi, dus tidak bisa...

Macetnya Anggaran Riset Perguruan Tinggi

Tulisan ini berangkat dari sebuah kegelisahan setelah mendengar informasi bahwa dana riset salah satu teman tidak mendapatkan dana dari institusi pendidikan yang ia tempati...

Saat ini kita sedang berada di zaman yang sangat berkembang pesat setiap harinya. Perubahan demi perubahan, baik kecil maupun besar, dapat terjadi. Salah satu perubahan itu adalah dalam bidang teknologi, yang dapat dikatakan menjadi bidang yang hampir setiap harinya memberikan sebuah terobosan-terobosan terbaru. Teknologi modern tersebut pun tentunya harus dilengkapi dengan fasilitas internet yang memudahkan setiap kita untuk berkomunikasi atau mengakses informasi-informasi yang kita butuhkan. Semua orang, tidak terpaut usia, dapat menikmati kecanggihan teknologi di era digital ini.

Akan menjadi pemandangan yang cukup langka jika ada seseorang yang tidak memegang perangkat elektroniknya. Pasalnya, saat ini kita dapat melihat semua orang selalu memegang atau memainkan perangkat elektronik di mana pun ia berada. Ketika berada di restoran, berjalan kaki, hingga mengunjungi toilet pun seringkali terlihat orang-orang yang memainkan atau hanya sekadar menggenggam handphone mereka.

Di sini saya sendiri tidak ingin bersikap munafik. Saya tidak bisa menghindari fakta bahwa saat ini proses komunikasi menjadi lebih mudah dengan adanya sejumlah perangkat-perangkat elektronik tersebut. Saya bisa berkomunikasi dengan keluarga saya yang berada jauh dari tempat di mana saya berkuliah, dengan teman yang berbeda negara bahkan dengan teman yang setiap harinya saya temui, saya juga masih memakai perangkat elektronik saya untuk berkomunikasi dengan mereka saat saya sedang tidak bersama mereka.

Tetapi kembali lagi ke sebuah pertanyaan yang cukup krusial, apakah komunikasi di era digital ini dapat memudahkan proses komunikasi itu sendiri atau justru menghambat proses komunikasi?

Sebuah pertanyaan sederhana tersebut membuat saya berpikir lebih dalam dan membawa saya menemukan sebuah jawaban akhir bahwa teknologi yang ada di era digital ini ternyata membuat proses komunikasi kita menjadi terhambat. Mungkin memang benar bahwa kita sangat terbantu dengan adanya perangkat elektronik untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang sedang tidak berada di hadapan kita. Tetapi secara tidak langsung, kita menjadi terlalu fokus terhadap perangkat elektronik tersebut yang membawa kita menjadi tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.

Contoh nyata yang sering saya lihat adalah saat seseorang sedang berkumpul untuk makan bersama teman-temannya atau keluarganya. Masing-masing dari mereka hanya fokus mengetik di handphone masing-masing, meninggalkan sebuah keheningan yang cukup lama di atas meja makan. Bahkan ketika makanan mereka sudah datang, mereka tetap memainkan handphone mereka sambil menyantap makanan yang berada di hadapannya.

Mungkin sesekali mereka saling berkomunikasi satu sama lain, tetapi tingkat intensitasnya menjadi sangat rendah. Melupakan tujuan awal mereka untuk saling berkumpul bersama. Bahkan tak jarang juga saya melihat seseorang anak yang asyik dengan handphone, mengabaikan panggilan orang tuanya atau tidak menyahuti pertanyaan orang tuanya.

Hal ini tidak hanya terjadi dengan remaja atau anak-anak saja. Kejadian-kejadian seperti ini juga terjadi pada orang-orang dewasa atau orang tua. Di saat mereka sedang terfokus untuk berkomunikasi dengan teman atau rekan kerja mereka, seringkali mereka mengabaikan anak mereka sendiri. Saat anak-anak tersebut meminta sesuatu atau sedang bercerita mengenai hal apapun, mereka tidak lagi didengarkan.

Melihat realitas-realitas yang terjadi membawa saya kepada suatu kesimpulan besar bahwa komunikasi di era digital ini mampu mendekatkan kita kepada orang-orang yang jauh, tetapi di sisi lain malah menjauhkan kita kepada orang-orang yang berada di dekat kita. Yang seharusnya kita bisa meningkatkan intensitas hubungan kita dengan orang-orang di sekitar, tetapi malah menurunkan tingkat intensitas hubungan tersebut.

Untuk mengatasi masalah yang setiap harinya sering kita lihat atau bahkan kita alami sendiri, pertama-tama kita perlu sadar terlebih dahulu bahwa kita hidup di dunia nyata bukan dalam dunia virtual saja. Kita adalah makhluk sosial yang tentunya perlu membina hubungan dengan orang yang berada di sekitar kita. Bukan hanya berkomunikasi dengan orang-orang yang berjauhan dengan kita saja, sangat penting juga untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita.

Setelah sadar akan pernyataan tersebut, kita harus belajar untuk membagi waktu. Orang-orang yang sedang berada berjauhan atau berdekatan dengan kita sama pentingnya. Di sini tidak ada mana yang lebih penting, semua adalah sama. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang sama, orang-orang yang kita butuhkan atau orang-orang yang  kita sayangi di dalam kehidupan kita. Sangat tidak etis jika kita hanya fokus kepada satu sisi saja.

Setelah kita sudah belajar mengenai pembagian waktu tersebut, belajarlah menghargai. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kita tidak tahu kapan lagi kita bisa berkumpul bersama dengan orang-orang yang sering kali kita temui tetapi kita abaikan karena terlalu fokus berkomunikasi dengan orang yang berjauhan tersebut. Bisa saja bukan jika mereka sibuk dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk hanya sekadar makan atau bermain bersama kita?

Atau ketika mereka sedang bercerita mengenai keseharian mereka, kita malah mengabaikannya. Tentu membuat orang tersebut sakit hati. Alhasil, ketika kita ingin berbagi cerita, kita tidak lagi memiliki tempat untuk bercerita karena perbuatan kita tersebut, hanya asyik berkomunikasi dengan orang yang berjauhan tapi mengabaikan orang yang sedang berada di hadapan kita.

Cara terakhir atau cara unik yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan intensitas kita dalam berkomunikasi dengan orang di sekeliling kita adalah berkomitmen untuk tidak sama sekali menyentuh perangkat elektronik kita atau menyimpannya. Kita juga bisa mengadakan permainan-permainan menantang seperti menumpuk handphone menjadi satu di tengah meja, lalu memberikan sebuah syarat menarik. Jika ada yang terlebih dahulu mengambil handphone, harus membayar makanan pesanan mereka. Dengan cara unik seperti itu, otomatis membuat tingkat intensitas kita dalam berkomunikasi dengan orang yang sedang berada di hadapan kita menjadi meningkat dan terfokus menjadi satu.

Kita memang tidak bisa menghindari sebuah fakta atau kebiasaan bahwa kita sangat memerlukan berbagai perangkat elektronik untuk menghubungkan kita kepada orang-orang yang sedang berjauhan dengan kita. Tetapi kita juga perlu tahu bahwa masih ada orang-orang di sekeliling kita yang juga perlu kita jaga hubungan komunikasinya. Mereka juga adalah orang-orang yang penting dalam kehidupan kita. Sudah seharusnya kita belajar untuk menyamaratakan mereka.

Belajarlah membagi waktu. Jangan hanya berat sebelah saja. Untuk apa jika kita hanya menjalin hubungan dengan orang-orang yang berjauhan tapi malah menjauhkan kita dengan orang-orang yang sedang berada di sekeliling kita? Itu sama saja dengan kita merusak sendiri hubungan sosial kita, seperti sebuah kata bijak yang disampaikan oleh Albert Einstein, “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.”

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.