Rabu, Desember 2, 2020

Tauhid Ilusif

Sandiaga Uno dan Kunjungan Baduy ke Nabawi

Pertengahan November lalu, ketika Prabowo dan Sandiaga Uno berziarah ke makam KH. Bisri Syansuri di kompleks Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, terekam video...

Tragedi 1965 sebagai Tragedi Filsafat

Tragedi 1965 pasca peristiwa G 30 S sebagai kejahatan kemanusiaan sudah banyak diungkap dan diulas. Walau begitu tragedi kemanusiaan tahun 1965 itu tampak hadir...

Liverpool, Biarkanlah Semesta Bekerja

Di luar sedang hujan deras, tak lama terdengar kumandang panggilan ibadah shalat ashar. Kata guru mengaji saya, hujan deras dan waktu adzan shalat fardu...

Omnibus Law dan Ancaman Korupsi Legislasi

Dalam pidato pelantikannya tanggal 20 oktober 2019 di MPR, presiden Jokowi menyampaikan 5 (lima) program utama pemerintahannya, mulai dari pembangunan sumber daya manusia (SDM),...
Irfaan Sanoesi
Mahasiswa Magister Sekolah Pasca Sarjana (SPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Banyak tulisan yang bahas soal pembakaran bendera yang tertera kalimat tauhid dari sisi teologis dan sejarah. Semuanya berkesimpulan bahwa bendera dengan bertuliskan tauhid bukan bagian dari syariah.

Tulisan ini mengangkat persoalan pembakaran bendera tauhid oleh anggota Banser dari perspektif semiotis (simbol). Bisa dikatakan bahwa akar kegaduhan itu bukan terletak di benderanya, tapi di kalimat tauhidnya.

Setiap orang punya interpretasi masing-masing melihat aksi pembakaran tersebut. pemahaman-pemahaman melahirkan interpretasi sebelum tiap individu berkesimpulan tindakan tersebut dibolehkan atau tidak.

Karena karakter pemahaman itu arbitrer (manasuka), maka pemahaman sudah pasti melahirkan multitafsir. Ia bisa digiring ke mana saja sesuka si penafsir. Proses ini disebut proses pemaknaan (signifying process).

Maka wajar jika aksi pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh anggota Banser menimbulkan kegaduhan sosial. Padahal tauhid dan bendera tauhid itu perkara lain. Tidak bisa disamakan secara substansi.

Kalimat Syahadah adalah prasyarat mutlak seseorang bisa disebut sebagai seorang muslim.  Bagi penganut eksoterisme (hukum legal-formal) seseorang yang melakukan kebaikan akan sia-sia jika tidak melewati fase kesaksian mendeklarasikan diri dengan mengucapkan kalimat syahadat. Tiap muslim mengucapkannya di tiap kali melakukan aktivitas shalat. Paling penting dari kalimat syahadat adalah menihilkan Tuhan-tuhan yang lain selain Allah.

Tuhan-tuhan yang dimaksud adalah tuhan yang diproduksi oleh pikiran & syahwat manusia. Harta, tahta, pasangan hidup, bahkan anak sekalipun dalam al-Qur’an bisa disebut fitnah karena bisa memalingkan manusia dari Tuhan yang sebenarnya.

Posisi penting inilah yang menjadikan kalimat syahadat dianggap sakral, suci & tidak bisa diganggu gugat.

Sementara bendera tauhid itu hal profan, ia lahir dari produk budaya. Ia tidak lahir di ruang hampa yang kosong. Berbagai ekspresi pun bisa datang dari inspirasi bendera tauhid tersebut. Bisa untuk mengekspresikan kebanggaan (pride), simbol kekuatan (power), simbol negara-bangsa hingga simbol kekuasaan.

Atau bisa juga sebagai simbol kekerasan seperti yang sering dilakukan kelompok teroris (ISIS) untuk membenarkan tindak kekerasannya itu sering meneriakan takbir juga bendera tauhid. Praktik-praktik ini semua lagi-lagi bergantung kepada kepentingan si agensi tersebut.

Jika demikian, maka bendera tauhid tersebut sudah dimiliki oleh kelompok tertentu. Bukan lagi esensi tauhid seperti semula. Nah, namun kita sering terkecoh oleh manipulasi simbol yang tercerap oleh indera sehingga sulit membedakan mana substansi mana kemasan.

Kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut akibat respon pikiran terhadap citra bendera tauhid diidentikan dengan kelompok atau ormas HTI yang keberadaannya sudah dilarang. Maksud dan tujuan baik Banser seketika hancur ketika publik melihat, memahami dan menafsirkan justru yang dibakar itu lafaz tauhidnya bukan bendera yang bertuliskan tauhid.

Manipulasi simbol inilah yang bisa memutarbalikan logika sebagian publik. Anggota Banser Garutlah yang akhirnya diproses hukum, bukan anggota HTI yang jelas-jelas melanggar Perppu Ormas dengan mengibarkan dan meneriakan “khilafah”. Simbol dan aktivitas HTI pun sudah dilarang sejak ditetapkan sebagai ormas terlarang.

Satu-satunya kesalahan anggota Banser mungkin terlalu reaksioner merespon bendera HTI. Harus ada perbaikan pendekatan menertibkan ormas terlarang semacam PKI, HTI dan sebagainya.

Tapi pemerintah pun harus berani menindak tegas terhadap kader dan simpatisan HTI yang masih melakukan aktivitas yang bisa menimbulkan disintegrasi & merusak kohesi sosial. Kalau perlu pemerintah mengadakan pendampingan bagi kader, simpatisan atau kelompok yang berafiliasi ke HTI.

Terlalu mengkerdilkan jika kalimat syahadat hanya digunakan alat merebut tahta kekuasaan atau melegitimasi kekerasan atas nama agama. Sudah seharusnya tugas kita menempatkan kalimah tayyibah ini untuk menjaga kemanusiaan.

Karena itu, persoalan tauhid ini beserta derivasi simbol yang diekspresikan adalah masalah kita semua. Jangan-jangan penghambaan & pengabdian kita selama ini tertuju kepada Tuhan yang ilusif. Menipu.

Irfaan Sanoesi
Mahasiswa Magister Sekolah Pasca Sarjana (SPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.