Kamis, Maret 4, 2021

Tatkala Realisme Memandang IMF [II]

Kebangkitan Nasional, Momen Healing Process

Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati pada tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Tanggal tersebut menjadi Hari Kebangkitan Nasional ditandai dengan berdirinya organisasi “Boedi Oetomo”, tepatnya...

Menuju Kehancuran KPK

Gerakan politik untuk melumpuhkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seakan tidak ada habisnya. Penegakan hukum yang dilakukan KPK...

Amien Rais dan Buya Syafii Maarif, Dulu dan Kini

Mohammad Amien Rais dan Ahmad Syafii Maarif, dua tokoh yang cukup “kontroversial”. Pandangan dan sikap mereka seputar persoalan keumatan dan kebangsaan seringkali mengundang keramaian...

Generasi Zaman Now: Krisis Ruang Privasi

Kasus Awkarin yang sempat menjadi viral beberapa tahun silam karena menangis tersedu-sedu dan videonya diunggah di Youtube menjadikannya terkenal dalam waktu singkat. Sekarang, kasus-kasus media...
Yopi Makdori
Pengagum orang-orang yang berilmu | Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman | Lingkar Cendekia

Tulisan pertama bisa klik di sini. Asumsi realis mendapatkan dukungan dari beberapa peneliti yang fokus mengkaji terkait lembaga moneter internasional tersebut. Misalnya saja seperti penelitian Axel Dreher (University of Goettingen, CESifo, dan IZA, Germany), Jan-Egbert Sturm (ETH Zurich, Switzerland dan CESifo, Germany), dan James Raymond Vreeland (Walsh School of Foreign Service, Georgetown University, USA) yang diterbitkan dalam Jurnal European Economic Review 53 (2009).

Peneliti tersebut mengkaji hubungan antara keanggotaan sementara suata negara dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dengan keputusan IMF untuk memberikan bantuan ke negara-negara tersebut. Analisi tersebut menunjukan bahwa terdapat kecenderungan suatu negara untuk mendapatkan bantuan tanpa syarat atau syarat yang mudah dari IMF tatkala negara itu menjadi anggota tidak tetap dalam DK PBB.

Dalam peneliti tersebut, Dreher, Sturm, dan Vreeland berhipotesis bahwa “bantuan IMF digunakan sebagai mekanisme hadiah oleh negara-negara dengan persentase saham terbesar dalam organ tersebut supaya suaranya dalam DK PBB bisa sejalan dengan kepentingan negara-negara tersebut”. Temuan lain juga dikemukan oleh Dreher dan Sturm dalam Jurnal Public Choice, Vol. 151, No. 1/2 (April 2012) yang menganalisis terkait peran IMF dan Bank Dunia dalam mempengaruhi tingkah laku voting suatu negara dalam Majelis Umum PBB.

Menggunakan data penel dari 188 negara dalam rentang waktu 1970 hingga 2008, Dreher dan Sturm berusaha mencari hubungan antara negara yang menerima bantuan tanpa syarat dan proyek Bank Dunia dengan pola voting negara-negara tersebut di Majelis Umum PBB. Mereka menemukan secara empiris bahwa IMF dan Bank Dunia memang mempengaruhi voting suatu negara dalam Majelis Umum.

Hal ini didasrkan temuan dari penelitian mereka yang menunjukan secara statistik bahwa negara yang menerima proyek penyesuaian dan bantuan tanpa syarat yang besar dari Bank Dunia dan IMF memiliki frekuensi voting lebih sering sejalan dengan negara-negara G7, yang mana merupakan negara-negara dengan persentase saham terbesar dalam kedua institusi keuangan internasional tersebut.

N. Woods (2003) dalam sebuah tulisannya yang dimuat dalam sebuah buku dengan tajuk “The United States and The International Financial Institutions: Power and Influence within The World Bank and the IMF (Eds)” menyebutkan bahwa berbagai dokumen telah secara gamblang menunjukan Amerika Serikat telah mengontrol keputusan penting dalam IMF dan Bank Dunia.

Gisselquist (1981), Loxley (1986) dan Andersen, Hansen dan Markussen (2006) dalam karya mereka yang masing-masing berjudul “The Political Economy of International Bank Lending (1981), Debt and Disorder: External Financing for Development (1986), dan US politics and World Bank IDA-lending dalam Journal of Development Studies,” menyebutkan baik secara eksplisit maupun implisit bahwa IMF secara jelas menunjukan telah bertindak sebagai alat bagi kebijakan luar negeri AS (dan negara G7 lain) dalam beberapa tingkatan.

Strom C. Thacker (1999) juga menemukan hal yang semisal. Temuannya yang dimuat dalam Jurnal World Politics 52 menyebutkan bahwa negara yang votingnya sejalan dengan AS dalam isu-isu strategis di Majelis Umum PBB cenderung untuk berpartisipasi dalam program-program IMF–pinjaman dari IMF sebagai hadiah.

Michele Fratianni dan John Pattison (2005) dalam sebuah tulisan dengan tajuk “Who is Running the IMF: Critical Shareholders or the Staff?” menunjukan bukti bahwa negara yang tergabung kedalam G7 telah memegang kendali secara penuh isu-isu penting dalam institusi keuangan internasional tersebut (IMF).

Sejalan dengan Fratianni dan Pattison (2005), Riccardo Faini dan Enzo Grilli dalam sebuah Kertas Kerja Centro Studi Luca D’agliano Development Studies No. 191 Oktober 2004 melaporkan bahwa bantuan IMF telah dipengaruhi oleh AS dan Uni Eropa (negara-negara maju).

Lex Rieffel (2003) dalam bukunya yang bertajuk “Restructuring Sovereign Debt: The Case for ad-hoc Machinery” menyebutkan bahwa IMF merupakan instrumen (alat politik) dari negara-negara G7.

Secara keseluruhan terdapat alasan yang jelas dan menguatkan untuk mengatakan bahwa IMF digunakan sebagai alat oleh negara-negara maju–terutama AS–sebagai perpanjangan tangan dari politik luar negerinya.

Maka, akan sangat naif jika masih ada orang yang percaya bahwa IMF merupakan institusi yang terbebas dari kepentingan politik apalagi menganggap bahwa IMF merupakan sebuah institusi yang secara tulus untuk membantu negara yang tengah dirundung kesusahan.

Yopi Makdori
Pengagum orang-orang yang berilmu | Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman | Lingkar Cendekia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.